Pada Sebuah Koran Pagi - Selamat Malam Langit Keruh - Bayi dan Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Sebuah Koran Pagi - Selamat Malam Langit Keruh - Bayi dan Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:58 Rating: 4,5

Pada Sebuah Koran Pagi - Selamat Malam Langit Keruh - Bayi dan Hujan

Pada Sebuah Koran Pagi

Pada sebuah Koran pagi
Berita utamanya; tentang mati.
Orang mati.
Sistem mati.
Bumi mati.
Udara mati.

Bagaimana bisa kita berpikir mati bukan lagi
kengerian
Orang mati; dihormati dengan bunga-bunga
Sistem mati; ada yang teriak “ini merdeka”
Bumi mati; para cukong memperkaya diri
Udara mati; kita saling sikut sana-sini

Bagaimana bisa kematian tidak lagi ditakuti
Bagaimana bisa kita merasa tak berdosa
Atas orang yang mati
Sistem yang mati
Bumi yang mati
Udara yang mati
Bagaimana bisa berita kematian akan
berhenti
Pembunuhnya saja tak pernah dihakimi
Bagaimana bisa,
Sementara penulis berita ini belum juga mati.

Jambi, Agustus 2016

Selamat Malam Langit Keruh

Aku membaca jejak langkahmu yang lelah
mencari bulan
Atau kalah oleh tujuan
Kubaca sorot matamu yang tak bisa mengeja
arti langit keruh
Dan tak bisa mengucap,
“Selamat malam Jakarta, selamat malam
lampu-lampu, selamat malam langit keruh,
selamat malam tubuh lumpuh.

Dan aku masih merayapi
Lidah jalan yang penuh kebisingan,
Dan di antara deru suara bis kota aku
membaca suara kau tak lagi bermakna.


Mungkin kau pernah ingin menjadi bintang di
langit keruh itu,
Lalu kau diburu ragu
Keraguan bermukim di antara langkah kaki
Yang menahan kau pergi ke langit keruh itu
tuk menjadi bintang gemintang.

Bis kota terakhir
Mengantarmu pada malam yang paling kelam
Dan tak pernah lagi kutemui kau
Duduk di halte itu,
Barangkali aku akan selalu mengingatmu
Sebagai seorang yang tak pernah bisa
mengucap
“selamat malam”
Karena kau selalu diburu.

Jakarta, Oktober 2016

Bayi dan Hujan

Mata bayi itu mendelik tajam
ke atap rumah yang bocor
ia simpan tangisnya
dalam suara gemuruh hujan.
ingin ia berteriak ketika puting susu ibunya
lepas dari isapan
ibunya sudah diburu panah – panah hujan
lalu ia merasa berada di atas gelombang
di antara bahaya itu,
tak ada ibu yang biasa ia mengadu
dan diantara bahaya itu,
ia belum bisa berdoa.

Jambi, Agustus 2016




Dedi Saputra, Lahir dan menetap di Jambi. Antologi puisinya antara lain Memo Anti Terorisme (2016), AkarTubuh (2016), Malam-Malam Seribu Bulan (2016), Si Ginjai Kata-kata (2016), Kuta Dalam Kata-Kata (2017), dan lain-lain.





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedi Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 Februari 2017

0 Response to "Pada Sebuah Koran Pagi - Selamat Malam Langit Keruh - Bayi dan Hujan"