Panchali - Sungai Karma - Saraswati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Panchali - Sungai Karma - Saraswati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:55 Rating: 4,5

Panchali - Sungai Karma - Saraswati

Panchali

Kau lahir dari rahim api 
dewa-dewa tersenyum 
buah dadu menggelinding 
menyulut perang di Kurusetra

jelita matamu menebar kutukan 
merambati jiwa-jiwa sekarat 
yang merindui nirwana 

di meja pertaruhan itu 
harta dan takhta tandas tanpa sisa 
kau pun dibikin tak berharga 
oleh para lelaki pemujamu 

dewa-dewa mengulurkan kain 
menutupi rahasia surga 
yang memancar dari molek tubuhmu 

Panchali, aku mengenangmu 
dalam putaran dadu 
ketika dosa telah jadi doa 
mengurapi ikal rambutmu

air mata luruh jadi bara api 
senyummu sedingin anak panah 
siapa yang mampu membujukmu 
berdamai dengan diri? 
darah yang melaknatimu 
mesti tumpah di Kurusetra

di sudut paling kelam 
aku merenung dalam diam 
membayangkan matamu 
menyala dendam

Panchali, api jiwamu 
menjalari rahasia malam 
di tenda-tenda perang 
membakar kepedihan 
demi kepedihan

(2016)

Sungai Karma

menyusuri sungai karma 
aku tidak tiba di mana pun 
sepenuhnya bermuara 
pada jiwaku sendiri 

siapakah/apakah yang kau sebut tuhan 
atau yang kau panggil dengan nama lain? 
semua hanya kekosongan 

kematian adalah tidur tanpa mimpi 
hanya pekat, sepenuhnya gulita 
bagai dalam gua garba 
sebelum isi benakmu tumbuh dan mekar

mengapa mesti resah 
bila kau telah berulang mengalami?

ini malam kembali kususuri sungai karma 
dengan rakit yang kubaut 
dan kukayuh sendiri 
aneka bunga tepi sungai, beragam ikan, 
dan berbagai rupa ular 
menghampiri benakku 
namun, semua hanya fana

(2016)

Saraswati 

Saraswati, kekasihku, 
biarkan orang-orang dungu 
berceloteh tentang sastra, 
tentang aksara atau mantra 
aku lelah, aku sudah lelah 

aku hanya ingin minum 
yang paling memabukkan 
dari manis bibirmu 
sembari kaumainkan 
wina dan damaru 
menghibur sekaratku di malam-malam keramat

kekasihku, Saraswati, 
menarilah terus, menarilah 
di atas teratai putih merekah 
hingga semesta membuka rahasianya 
untukku, hanya untukku 
biarkan aku terlena di pangkuanmu
meresapi nyanyian angsa 
yang makin menjauh 
merasuk ke dasar jiwa

ketika aku makin jauh 
ketika rindu tiba menggebu 
tatap langit kita 
di sana ada gurat isyarat 
yang makin lebam 
semuram gaun malammu 

(2015/2016)


Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana ini produktif menulis puisi sejak 1990-an. Buku kumpulan puisinya antara lain Impian Usai, Malam Cinta, Pekarangan Tubuhku, dan Montase.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wayan Jengki Sunarta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 4-5 Februari 2017

0 Response to "Panchali - Sungai Karma - Saraswati"