Percakapan di Samping Kereta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Percakapan di Samping Kereta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:02 Rating: 4,5

Percakapan di Samping Kereta

LELAKI itu telah lama mengirim surat ke Tuhan. Meski dengan kesibukan yang mahapadat, Tuhan akhirnya mengirim surat balasan, lewat kurir malaikat yang mengenakan jubah putih. Di bagian bawah jubah itu ada bercak darah yang mengental. Tak tahu siapa yang melumuri baju putih itu dengan darah yang hingga purnama kesekian tetap saja membekas. 

Surat itu bertajuk “Tamasya Kematian”. Di paragraf awal surat itu dibuka dengan kalimat “ Gusti Allah, izinkan aku membela atas nama kebodohan dan ketidaktahuanku, bahwa di sekeliling rumahku, tak hanya keramahtamahan dan suara ramah tetangga yang selalu menghampiriku, tapi ternyata ada orang yang mengirimi aku sebentuk misteri. Karena kebodohan dan ketidaktahuanku aku tak bisa membongkar misteri yang mengerikan itu “ 

Kematian tetaplah menjadi bagian dari puncak misteri. Seperti yang dialami oleh lelaki itu. Bukan ingin mengulang-ulang sebuah fakta tentang kematiannya. Tapi sedikit disadari, bahwa kematian sang pewarta itu tetaplah belum berhenti, sebatas hanya sebagai kematian biasa. 

Sejak peristiwa itu, langit kota seakan mencakar, ada sebuah ketidakadilan menerkam-nerkam jagat kesunyian. Kematian atas jawaban surat Tuhan itu selalu diperingati di pertengahan tahun. Setiap kali diperingati seolah ada trauma yang berulang, seperti perjalanan hantu atau jailangkung yang muncul pada saat dipanggil, dan pada saat orangorang menanti kehadirannya. 

Ribuan galon airmata yang dulu tersuntak dan lama mengering, tetap disimpan di almari arsip langit. Para pelayat yang saat itu mengenakan baju hitam, seperti diingatkan kembali oleh nasib kelamnya. Dia meninggal dalam kehidupan yang riuh. 

“Aku mengenali kepalanya yang botak, dan keberaniannya meniti hidup dan pekerjaannya,” kesan seorang teman..

“Aku tak menyangka demikian cepat waktu berlalu,” kesan temanku lainnya. Bahwa kemudian tak ada waktu yang jeda semenit, karena kendali roda yang kehilangan daya cengkeramnya. 

Aku ngungun di sekitar rumah sang pewarta. Orang-orang terdekatnya menangis dalam hati, tak tahu apa yang kemudian akan dilanjutinya setelah kekasih mereka , pergi bertamasya di taman keindahan Tuhan dengan kereta putihnya.. 

Waktu pun menggulung, seperti ombak pantai selatan. Bergerak, ritmis, dan pasti. 

“Di mana kepastian itu akan didapatkan?” sering suara itu masuk di rumah sang pewarta, setelahnya. 

***
RIBUAN kata tanda duka, terus akan mengalir, orangorang kembali akan membawa bendera putih dan bunga warna warni, sambil berdoa, dan lalu mengusap wajah-wajah bercahaya, kemudian kembali menerawang ke waktu-waktu yang teramat panjang. Lagi, tak ada kepastian. 

Ringkik suara seperti suara kuda sesekali ingin menjelaskan, bahwa kereta ini akan berangkat saat subuh dan lalu pergi jauh. Tapi kereta ini tak berkuda, tak ada saksi hidup dan nyawa yang berbicara. Sais dari kereta itu berpakaian jubah, warna putih, sedang penumpangnya juga berjubah putih. 

Pada saat melintas di jalan raya di dekat kantor pemerintahan, aku melihat penumpang kereta itu mirip wajahnya dengan wajah sang pewarta. Tapi ketika kereta berbelok ke arah timur, penumpang itu sudah berganti wajah. Ia tak lagi botak, tapi rupawan wajahnya, mirip seorang bintang sinetron yang biasa memerankan peran protagonis. Raganya tak diminta, tapi nyawanya yang diincar, seolah begitu ia berbagi peran. 

Kereta kemudian berhenti di sebuah kelokan jalan. Sais kereta kemudian turun dan berjalan menyusuri pinggir jalan besar itu, si penumpang yang botak mengikuti dari belakang. Ada percakapan senyap di samping kereta. Kemudian di perempatan mereka berpisah. Sais kereta menghilang tanpa suluk salam, penumpang botak itu kemudian memasuki halaman rumahnya

“Prakk,., “ suara cepat dan menghentak seluruh ruangan. Kaca, lantai , etalase seperti diajak untuk bersuara. 

“Prakk ...” kembali suara itu bergetar, namun hanya sesaat, persis seperti lintasan gempa tektonik yang menggoyang bumi dan tanah, sekejap, dan cepat. Ada pukulan, namun tak ada pelaku. Kata kerja aktif yang tersembunyi. Segalanya kemudian berlalu. ❑-k 

Condong Catur, 2014- 2017


Budhi Wiryawan, lahir di Bantul. Menulis puisi, cerpen, esai, opini dan geguritan. Buku Puisi tunggalnya “Sripah” terbit 2009. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 19 Februari 2017

0 Response to "Percakapan di Samping Kereta"