Pernikahan yang Gagal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pernikahan yang Gagal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:26 Rating: 4,5

Pernikahan yang Gagal

AWALNYA aku mendengar berita dari tetanggaku Asri. Aku diam, mengingat Pak Lamarin. Seketika tersadar, sejak dua tahun lalu dia hanya hidup bersama istrinya: Nari. Bagaimana mungkin dia akan mengadakan acara nikahan? Padahal anak lelaki semata wayangnya telah meninggal karena kecelakaan. Sejak itu, dia hanya tinggal berdua bersama istrinya.

"Kamu dengar dari mana, dia mau adakan acara nikahan? Kamu jangan bicara sembarangan!"

"Betul! Berita ini doperbincangkan orang-orang di mana-mana, telah menyebar ke seluru penjuru kampung."

Aku tidak percaya begitu saja. Mencari tahu kebenaran berita itu. Dan benar, berita itu bukan kabar angin belaka. Setiap orang yang aku temui di jalan-jalan kampung, membicarakan Pak Lamarin yang akan mengadakan acara pernikahan. Undangan bahkan sampai di tanganku. Itu menjawab semua keraguanku.

Acara nikahan itu memang terbilang aneh. warga mafhum Pak Lamarin sudah tidak punya anak lagi. Lebih aneh lagi nama yang tertera dalam undangan pernikahan, nama anaknya yang sudah tiada.

***
TENDA pesta sudah terpasang walau tidak megah. Kursi dan meja tertata rapi. Pelaminan dirias gradasi warna merah, kuning dan emas. Pak Lamarin dan istrinya berdiri di gerbang tenda menyambut para undangan. Aku duduk di salah satu kursi bagian depan. Sendirian. Beberapa meja di dekatku masih kosong. Tamu undangan sudah ada, tapi tidak terlalu banyak. Masih bisa dihitung jari. Pak Lamarin dan istrinya kelihatan gelisah. Tapi masih bisa tersenyum.

Sudah menjadi rahasia umum yang mengurus segala acara eprnikahan ini istrinya. Termasuk undangan yang disebar. Istrinya yang bersikeras mengadakan pernikahan ini. Karena begitu menyayangi istrinya, Pak Lamarin mengikuti saja. Padahal sempat menolak keinginan istrinya itu.

Sebelum mereka beranjak naik ke pelaminan, ada pemuda asing datang.

"Apa kami mengenal Anda?" tanya istri Pak Lamarin.

"Oh, ya,. Maaf, kenalkan namaku Rudi. Aku datang untuk mendukung acara Ibu!"

"Tidak apa-apa. Siapa pun bisa datang ke acara ini. Mari!"

Pak Lamarin memulai acara. Dari tempatku, pelaminan lebih jelas terlihat. Dua kursi mempelai. Kursi itu maisng-masing diduduki boneka manusia, boneka laki-laki dan wanita. Dirias layaknya pasangan pengantin sungguhan. Satu meja diletakkan di tengah, di antara kursinya, di atasnya foto anaknya yang telah meninggal.

Pak lamarin memanggil seorang naik pelaminan. Aku terkejut. Dia dukun terkenal. Ambo Asse. Warga kampung mengenalnya. Bisa berhubungan dengan orang yang telah mati. Kerjanya memanggil mayat.

Pak Lamarin menegang. Asse mengambil peralatan yang digunakan memanggil anak Pak Lamarin. Asse duduk bersila di depan boneka dan merapalkan sesuatu yang tidak terdengar jelas di telingaku Tidak membutuhkan waktu lama. Mayat yang dipanggil sudah hadir. terlihat dari boneka yang sudah bergerak. Namun, gerakan itu semakin lama semakin kacau dan menghancurkan segala yang ada di panggung pelaminan. Seakan anaknya enggan hadir ke dalam boneka itu. Seakan anaknya tidak ingin dinikahkan. Asse seketika kewalahan.

"Anakmu, tidka mau dipanggil ke sini," katanya.

Asse menghapus peluh di dahinya, punggung dan betisnya juga penuh keringat. Napasnya tersengal-sengal.

"Bagaimana kalau Ibu saja yang menemuinya? Agar tahu apa keinginan anaknya!" Lanjut Asse.

Istri Pak Lamirin pun duduk di samping Ambo Asse. Asse merapalkan mantra lagi. Dan istri Pak Lamirin sekejap terdiam kaku. Mungkin dia telah berada di alam lain. Tidak lama kemudian istri Pak Lamirin berucap seperti sedang berbicara dengan anaknya.

"Anakku. Ibu merindukanmu. "Tahukah Nak, Ibu sangat mencintaimu!" Air matanya menetes tak tertahan dan ia m memeluk erat anaknya.

"Ibu, aku juga mencintaimu, aku sayang Ibu!" Ia menangis di puncak ibunya.

"Aku ingin menikahkan kamu anakku!"

"Ibu, aku tidak ingin dinikahkan. Bukankah dulu aku sudah cerita ke Ibu, kalau aku tidak suka.... Apa Ibu sudah lupa? Tahukah Ibu kalau kekasihku hadir di acara pernikahan? Aku mencintainya dan tidak mau dinikahkan dengan wanita pilihan Ibu itu!"

Ibunya terkejut. Wanita pilihannya gadis cantik. Apa kekurangannya? Ibunya teringat, dulu dia memaksa anaknya pergi periksa ke dokter. Saat itu juga anaknya minggat dari rumah, dan di hari kepergian itulah anaknya kecelakaan dan meninggal.

Mereka berbicara di alam lain hingga yang terlihat dan terdengar hanyalah suara istri Pak Lamarin, yang lebih mirip orang gila, berbicara sendiri, suaranya etrdengar ebgitu emnyayat, parau, dan menyedihkan. Aku dan para tamu yang sempat hadir hanya bisa menebak-nebak yang sebenarnya terjadi.

Istri Pak Lamarin kembali tersadar, air matanya menetes, lalu memeluk suaminya. Raut mukanya seperti menyesal. Menyesali perbuatannya dulu. Kesedihan bertambah karena selama ini merahasiakan perihal anaknya. Mungkin saja kalau dia dulu bercerita, suaminya bisa membantu menyembuhkan penyakit anaknya itu. Sesaat kemudian ia melepaskan pandangannya ke Rudi. Apakah Rudi itu...?

Tiba-tiba polisi datang.

"Menurut laporan, di sini terjadi keributan. Acara ini harus dihentikan segera," kata kepala polisi.

Bubar, bubar, bubar, bubar..." teriak beberapa anggota polisi sambil menunjuk ke arah tamu yang sedang duduk. ❑ (k)

Rappang, 06 Februari 2017


Muh Iqbal (Iqbal Risadi): lahir di Rappang, 31 Agustus 1988. Tinggal di Jalan Makkulau RT 002 RW 002 Rappang Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal Risadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 26 Februari 2017

0 Response to "Pernikahan yang Gagal"