Pesta Semusim Sekali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Pesta Semusim Sekali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:37 Rating: 4,5

Pesta Semusim Sekali

Kriiinngg! Suara telepon selulerku sudah berbunyi panjang sebanyak dua kali. Mau tak mau, kuraih benda persegi empat yang mungil dan canggih itu di atas mesin cuci dengan cepat. Sebab kalau tidak, dering telepon biasanya akan terhenti setelah bunyinya yang ketiga.

Kalau sudah telanjur berhenti, maka aku hanya bisa menggerutu. Sebab selain kehilangan momen pertama, kadang aku juga tak bisa melakukan panggilan balik, karena kotak canggih ini seringnya tak berpulsa.

Wak Esih … begitu nama yang kubaca pada panggilan masuknya. Cepat-cepat kutekan tombol terima, sambil tidak lupa menggeser pemantik kompor gas ke arah off. Aku tidak mau menanggung risiko masakanku gosong lagi seperti waktu dulu, gara-gara asyik ngobrol lewat telepon, tetapi penggorengan masih bekerja.

Aku juga tidak ingin membiarkan Wak Esih lama menunggu. Sebab biasanya, panggilan telepon dari Wak Esih itu membawa rejeki. 

“Iya Wak, ada apa?” tanyaku santun setelah menjawab salam yang dilemparkan oleh kakak perempuan kandung ibuku itu.

“Lagi repot enggak, Mar? Kalau enggak, cepet ke sini, Wak dapet kue donat banyak nih. Enak-enak lo, dari toko donat terkenal.”

“Iya Wak, nanti Mar ke sana. Ini Mar beresin dapur dulu.”

Wak Esih mematikan telepon sambil mengulang lagi perintahnya agar aku cepat-cepat meluncur ke rumahnya. Sebab Wak Esih bilang ia masih harus keluar rumah lagi untuk menghadiri sebuah acara.

Aku pun menutup telepon dengan suka cita. Ho ho ho dugaanku benar, telepon Wak Esih selalu memuat rejeki. Bagaimana tidak, minggu lalu aku dapat paket sembako karena ditelepon si Uwak. Kemudian tiga hari sesudahnya, sebuah kantong plastik yang memuat minyak goreng, teh celup, dan sabun pencuci piring juga disebabkan oleh panggilan Wak Esih. Lalu hari ini, katanya ada banyak kue donat menanti untuk aku bawa pulang. 

Wak Esih sejak dulu memang sering memberiku sembako, kue-kue atau apa saja yang orang lain telah berikan padanya, dibagikan juga kepadaku. Pernah sekali dua aku menolak, karena tak enak hati untuk menerima. Tetapi si Uwak terus memaksa agar pemberiannya kubawa pulang. 

“Kalau Uwak sendiri masih berasa kurang, enggak mungkinlah Uwak kasih ke kamu,” begitu katanya dengan nada sedikit jengkel, “daripada jadi mubazir, kan lebih baik kamu makan.”

Maka cepat-cepat kuselesaikan masakanku seadanya, lalu membereskan dapur sekenanya. Biarlah acara memasakku tak selesai dan tertunda, yang penting bisa segera tiba di rumah Wak Esih, perempuan berumur lima puluh tujuh tahun dengan postur tubuh kurus, mungil tetapi masih lincah melangkah itu.

Jarak rumahku dengan rumah Wak Esih tidak seberapa jauh memang, tetapi kami berada di wilayah yang berbeda. Aku di wilayah barat, sedangkan si Uwak di timur. Dan biasanya aku cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk mencapai ke sana.

Sepanjang jalan aku terbayang sosok Wak Esih. Ibu dari tiga orang anak, nenek dari lima orang cucu yang semuanya diwajibkan tinggal berdekatan dengan rumahnya. Ah, nama sebenarnya Sukaesih, tetapi para tetangga dekat maupun jauh di lingkungan rumahnya ramai memanggil dengan Wak Esih, atau kadang menyebut Uwak saja. Tidak yang tua maupun yang muda. Seolah-olah Wak Esih sudah jadi uwak banyak orang.

Almarhumah ibuku pernah berkisah, Wak Esih itu adalah kakak yang tertua. Lahir dan besar pun di wilayah tempat tinggalnya sekarang. Beliau dulu sempat mengenyam bangku sekolah, tetapi hanya sampai di kelas empat. Karena rasa tanggung jawabnya sebagai anak sulung dari orang tua yang tidak mampu. Asal bisa membaca dan menulis, itu sudah cukup. Begitu tekadnya. 

Parahnya lagi, nenekku pun, ibunya Wak Esih yang tidak bersekolah sama sekali, merasa keberatan kalau si Uwak menghabiskan waktunya di sekolah. Nenek menginginkan anak perempuan sulungnya itu lebih banyak membantu mengurus adik-adiknya di rumah, yang entah kenapa, selalu bertambah setiap tahunnya. Atau pergi berkeliling jualan es mambo, kue-kue, kerupuk, atau apa saja asalkan halal.

Setelah punya keluarga dan tempat tinggal baru, Wak Esih memulai perannya sebagai nyonya rumah yang paling dominan. Si Uwak bukan cuma sebagai ibu dan istri, tetapi juga jadi penentu dan pengambil keputusan. Dan beberapa tahun kemudian, jabatan Wak Esih bertambah lagi sebagai tenaga sosial sukarela di Komunitas Warga Seruni Timur.

Jabatan terakhir itu didapatnya ketika ia mulai berkenalan dan asyik melebur dengan perkumpulan ibu-ibu rumah tangga di wilayahnya. Lalu di tengah hiruk-pikuk menyelesaikan urusan suami, anak dan rumahnya, Wak Esih masih rajin menghadiri rapat-rapat yang diadakan oleh Komunitas Warga Seruni Tmur, baik dari tingkat kelurahan hingga kecamatan. 

Hingga tak terasa, puluhan tahun nyemplung di arena sosial membuat Wak Esih dikenal bagai salah satu perangkat wilayah saja, serta termasuk orang yang sering dibutuhkan dan dicari.

Mulai dari tingkat ketua rukun warga, ibu dan bapak lurah, bahkan hingga pak camat, semuanya mengenal Wak Esih. Di mata mereka, perempuan yang tidak tamat sekolah dasar itu mampu mengerjakan banyak hal yang mereka butuhkan. Dari mulai mengajak partisipasi warga pada kegiatan tertentu, sampai mengumpulkan data-data.

Bila ada warga miskin yang sakit dan membutuhkan layanan kesehatan gratis, Wak Esih lah yang dihubungi dan dimintakan tolong untuk mengurusnya. 

“Uwak tadi datang ke acaranya Bu Marta Susilo, itu loh yang nyaleg buat DPRD. Acaranya sih cuma pertemuan biasa, tapi makanannya banyak sekali. Lalu Bu Marta nyuruh ibu-ibu bawa pulang kue-kue itu. Lumayan kan. Hehe …” jelas Uwak dengan wajah semringah.

Wah, aku takjub dibuatnya. Begitu mudah keluarga Bu Marta mengeluarkan uang untuk membeli aneka penganan mewah, semudah mereka menyingkirkannya sebab rumah tak mau terlihat berantakan dan banyak semut. 

“O ya, nanti di pemilu tahun besok kamu pilih dia ya Mar, Dokteranda Marta Susilo. Orangnya baik loh. Pinter lagi. Itu ada stikernya. Uwak dikasih banyak, buat ditempel-tempel,” ajak Wak Esih ringan, seolah-olah tengah memilihkan warna baju yang paling cocok buat kupakai. Aku lihat ada setumpuk stiker di atas meja makan yang didominasi warna biru, bergambar seorang perempuan berkebaya biru muda dengan sanggul besar sambil mengulas senyum.

“Memang Bu Marta tinggalnya di mana sih, Wak? Uwak sudah kenal lama ya? Kok bisa datang ke acara beliau?”

“Bu Marta rumahnya di Jalan Kemuning,” jelas Wak Esih. “Uwak juga belum lama kok kenalnya.”
Di Jalan Kemuning? Aku cukup terheran-heran dibuatnya. Itu kan jauh dari sini? Meski sama-sama satu kotamadya, tapi kalau ditempuh dengan kendaraan umum, perlu dua kali naik angkutan kota.

“Loh dari mana Uwak tahu kalau Bu Marta itu orangnya baik dan pinter? Bukannya Uwak juga baru kenal?” Aku jadi semakin tertarik.

“Ya jelas tahulah,” jawab si Uwak sambil terkekeh pelan, “kan yang ngajak Uwak ke tempat Bu Marta itu Pak Beni. Itu loh yang dulu kepala sekolah, sekarang aktif jadi koordinator partai di tingkat kecamatan. Pak Beninya aja baik kok. Suka bagi-bagi sembako.” Aku mengangguk pelan. Mulai paham jalan ceritanya.

“Minggu depan Bu Marta mau adakan pengobatan gratis dan bagi-bagi sembako lagi, katanya. Nanti jatah sembako buat warga sini, didrop Pak Beni di rumah Uwak lagi.” Tiba-tiba aku teringat tentang sembako-sembako yang sudah ikut aku nikmati beberapa hari yang lalu.

“Nah, kalau paket yang kemarin-kemarin itu, dari mana, Wak?” tanyaku lagi dengan rasa penasaran, sebab aku memang tidak sempat menanyakan dari mana asal bingkisan yang aku terima itu.

“Oh, yang minggu kemarin itu dari bakti sosial Yayasan Bakti Bunda. Kalau yang tiga hari belakangan, dari koordinator Partai Indonesia Gemilang.”

“Oh …” sambutku semakin takjub.

Sebagai kepanjangan tangan dari partai dan orang-orang yang mencalonkan diri jadi anggota dewan, mereka akan meminta kesediaan Wak Esih untuk mendukung keberadaan partainya. Dengan cara menyalurkan sembako, menyebarkan spanduk-spanduk berukuran besar maupun kecil, serta stiker yang menarik, sampai meminta Uwak mengumpulkan tetangga dan warga sebanyak-banyaknya untuk menghadiri acara rapat akbar, kampanye si caleg.

“Tapi sekarang mah nggak seperti musim pemilu yang dulu,” kata Wak Esih setengah mengeluh, sambil bersiap-siap meninggalkan rumahnya lagi. Tak lupa ia sambar beberapa gulungan poster ukuran sedang, sebelum mengajakku untuk berjalan bersama.

“Nggak sama gimana, Wak?” tanyaku penasaran sambil berusaha menjejeri langkahnya.

“Sekarang koordinatornya banyak yang pelit. Itu kemaren si Totok, orang dari RT sebelah minta Uwak bantu nyebarin spanduk partainya, tapi uang jajan dia kekepin sendiri. Ya Uwak ogah, emangnya orang jalan nggak pake ongkos.”

Aku tersenyum geli, takjub sekaligus miris mendengar curhatnya si Uwak. Terus terang, aku awam sekali dengan hal-hal seperti ini, dan tidak pernah menyangka akan menemukan masalah ini justru lewat orang tua yang tingkat pendidikannya jauh di bawahku.

“Nah yang ini Pak Indra Panjaitan. Dulu pernah jadi wali kota, inget nggak?” sambung Wak Esih cepat-cepat, sambil memperlihatkan setumpuk poster yang siap dibagikan. 

“Kalau nggak salah, Indra Panjaitan itu jadi wali kota di wilayah selatan, kan Wak? Bukan di kotamadya kita?”

“Iya betul. Nah sekarang dia caleg Partai Merah Jaya. Kamu nanti pilih dia juga ya, Mar ….”

“Tapi Wak …” duh aku semakin bingung, “tadi Uwak suruh Mar pilih Bu Marta dari Partai Biru Indah, kok sekarang beda lagi?”

“Eeeh, kamu jangan salah. Pilih Bu Marta itu untuk di DPRD. Kalau untuk di DPR-nya, ya pilih Pak Indra Panjaitan. Dia juga orangnya baik kok. Satu agama lagi sama kita.”

Akhirnya aku memilih untuk diam, daripada malah semakin bingung. 

“Yah kalau Uwak nggak ikut-ikutan begini, dari mana Uwak bisa dapat tambahan, coba? Lumayan kan? Semusim sekali,” gumam Wak Esih, tanpa rasa salah.

***
“Mas, Wak Esih minta data-data kita tuh. Nama, alamat, nomor telepon,” pintaku langsung pada Mas Mustafa yang sedang asyik dengan koran sorenya.

“Buat apa sih?” tanya Mas Mus penuh rasa heran.

“Katanya sih tim sukses dari Partai Merah Jaya yang minta ke Uwak. Terus Uwak minta lagi ke saya buat bantu tambah-tambah pendukung.”

“Ah nggak mau dan nggak usah. Sebab saya tidak tertarik dengan segala macam partai dan tetek bengeknya!” Mas Mustafa menegakkan posisi duduknya. “Lagi pula, sekarnag mereka rela korbankan banyak uang, waktu, juga tenaga, itu supaya bisa dapat banyak simpati dan suara. Tapi nanti kalau mereka sudah duduk di kursi incarannya, maka yang jadi tujuan utamanya hanyalah bagaimana cara agar bisa kembali modal dengan cepat, berikut rangkaian bunganya!”

“Tapi, ada juga kok caleg yang memang punya program-program bagus?”

“Betul! Tetapi apakah program-program bagus mereka akan terus berjalan, seandainya mereka tidak terpilih? Dan terus sabar serta konsisten menjalankan misi dan programnya sampai pemilihan periode berikut? Kalau ada caleg yang seperti itu, masyarakat akan mendukung seribu persen, tanpa harus dibagi sembako maupun uang.”

Duh, aku tidak tahu harus mendebat apa lagi. Yang aku tahu, Wak Esih pasti kecewa karena permintaannya yang terlihat ringan itu tidak bisa aku sanggupi. O’ kenapa suamiku harus sekritis itu sih? Keluhku dalam hati. Tidak bisakah ia seperti Wak Esih, yang menganggap pesta demokrasi itu hanya sebatas pesta?***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Diah TB
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1372/XXVII 16 – 22 Juni 2014 

0 Response to "Pesta Semusim Sekali"