Sebuah Kesalahan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Kesalahan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:34 Rating: 4,5

Sebuah Kesalahan

AKU mengunci kamar dari dalam. Tak membiarkan siapapun masuk. Lampu kecil satu-satunya sinar kamarku yang remang-remang. Aku meringkuk di atas kasur dan menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut bermotif bunga-bunga kecil, dari sahabatku, Vina. Suara musik dari handphone-ku memenuhi seluruh kamar. Aku sengaja memutarnya dengan volume maksimal.

***
HARI itu, seperti biasa aku dan Vina makan siang di taman sekolah. Tempat itu biasa kami datangi untuk makan siang sejak kelas atu SMA. Bahkan hingga sekarang, awal semester gasal kelas tiga.

Permasalahan LGBT sedang menjadi topik hangat.

"Mana mungkin Indonesia melegalkan pernikahan sesama jenis. Secara  agama atau sebagai manusia, menyukai sesama jenis itu udah jelas salah. Salah besar!" kataku lantang.

Vina sedikit menunduk diam, kemuedian memandang ke arahku.

"Ya, mungkin saja mereka memang salah. Tapi apa kamu pernah mencoba berpikir dari segi pandang mereka," kata Vina lembut.

Ia mengambil sosis bakar dari tempat makannya dan menyuapkannya padaku. Ia tahu aku sangat menyukainya. Aku tersenyum lebar setelah melahapnya.

"Maksudmu?"

"Mungkin saja mereka tidak punya pilihan lain, terlahir seperti itu, dan tak bisa melawannya. Meskipun mereka sendiri tak menginginkannya."

"Tidak! Tetap tidka bisa. Apa yang mereka perbuat itu dosa besar. Mereka menjijikkan! Aku sangat membenci mereka!" kataku tetap pada pendirianku.

Untuk beberapa saat seakan aku melihat raut muka Vina tampak pucat seketika, namun ia langsung memandang ke arahku dan tertawa.

"Kau ini berlebihan, dasar keras kepala."

Ya, hari itu, seperti biasanya kami makan siang di taman sekolah sambil bersenda gurau. Menikmati semilir angin dan pemandangan hijau bersama. Hingga rumor aneh itu muncul di sekeliling Vina, dan membuatku menjauh darinya.

***
SETELAH membuka mata aku langsung bangun.

"Vina!" teriakku sambil mencoba turun dari kasur dan berlari keluar.

Saat aku tiba di rumahnya, orang-orang sudah banyak yang berkumpul. Ada yang berhilir mudik membawa bunga. Beberapa orang tampak sedang menyeka air matanya. Aku langsung berjalan cepat menuju ruang tengah di rumah Vina. Tampak sebuah peti putih besar terbuka di tengah ruangan itu. Sebuah foto berukuran 10 R terpajang di sampingnya. Sosok Vina yang tertawa lebar.

Aku berjalan mendekati peti itu. Sosok Vina yang terbujur kaku dan dingin tampak tertidur pulas di dalamnya. Ia mengenakan gaun berwarna putih dan riasan wajah cantik. Sama persis dengan Vina yang kukenal. Hanya saja, detak jantungnya tak lagi bisa didengar.

Air mata tak bisa lagi terbendung dan terus saja mengalir. Aku terus saja memanggil-manggil nama Vina, tapi ia tak juga menjawab. Aku terhuyung dan jatuh ke lantai. Saat itu aku sadar, ia telah pergi.

Beberapa hari setelah kepergian Vina, mamanya memberiku sebuah surat. Dari Vina.

Rea, maafkan aku telah meninggalkanmu. Kau sahabat terbaik dalam hidupku. Tapi, selama ini aku selalu membohongimu, aku telah mengkhianatimu.

Mungkin di dunia ini tidak ada yang tahu, bahkan keluargaku ataupun juga kau. Aku tak ingin siapapun mengetahui. LGBT yang sangat kau benci, aku salah satunya. Meskipun aku sendiri tak menginginkan.

Kau ingat, saat ada rumor itu? Aku tak mengakui saat itu. Tapi ini kebenarannya. Aku mencintaimu Rea, bukan sebagai seorang sahabat, aku mencintaimu layaknya seorang wanita mencintai laki-laki. Aku tahu, aku tak bisa hidup seperti ini. Memang benar kata-katamu dulu, aku ini menjijikkan.

Maafkan aku, Rea. Maafkan aku, karena telah mencintaimu. Selamat tinggal.

Air mataku masih menetes, mengenang segalanya. Aku telah menyakiti. Vina bunuh diri karena aku. Aku yang telah membunuhnya.


Nur Chorimah Bayu Tri Puranningsih. Gesikan 02 RT 04/RW 04 Sidomoyo Godean Sleman Yogyakarta 55564. Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia UNY.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nur Chorimah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Februari 2017


0 Response to "Sebuah Kesalahan"