Semangkuk Sop di Meja Makan - Pedas - Cinta dalam Koper Coklat - Menunggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semangkuk Sop di Meja Makan - Pedas - Cinta dalam Koper Coklat - Menunggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:16 Rating: 4,5

Semangkuk Sop di Meja Makan - Pedas - Cinta dalam Koper Coklat - Menunggu

Semangkuk Sop di Meja Makan

membuka tudung saji
semangkuk sop masih mengepul menggoda
kau aduk-aduk seperti mencari sesuatu:
mengenang masa lalu
atau menggapai masa depan

buncis, brokoli, wortel, jamur,
sosis, dan potongan bakso
semua ada, bukan?

di sebelahnya:
perkedel dan tempe kecoklatan
sambal tomat
merah menggoda, memang.

lantas apa yang kurang?
sepiring kesepian duduk di kursi makan
menjadi jawaban
6 November 2016

Pedas

beri aku cabai terpedas yang kau punya
undang jalapeno, habanero, dan amaxito yang perkasa
jangan lupa si genit chiltepin dan pequin yang gemar
menari itu

ingin kureguk tequila
agar pedas ini semakin sempurna

tuan bertopi hitam,
di sore ini aku masih sesegukan
29 November 2016

Cinta dalam Koper Coklat

membuka koper coklat masa lalu:
seonggok cinta tiba-tiba melompat keluar
langkahnya riang
tadi ia berdesakan di antara
surat-surat, buku harian, bunga kering,
cincin benang wol warna merah,
dan foto-foto yang mulai pudar warnanya
mendengus,
bau apek jamur yang menyengat
lekat di tubuhnya
seperti tak mau pergi
cinta berlari ingin mandi supaya wangi
mengusir bau kenangan yang membujuknya kembali
29 November 2016

Sepagi Ini, Tiba-tiba

astaga, alarm lupa dipasang
tumpukan baju kotor sinis menantang

tukang sayur belum tiba
di kulkas, tak tersisa apa-apa
tetap saja buka tutup-buka tutup memastikan

kucing gaduh
piring pecah
teko melengking
ujung kaki menginjak beling
eternit ambyar
lampu padam!

dan kekasih:
ia menjelma alien

Menunggu

udara pengap bagai memberi isyarat
waktu berkabut
mengkristal di sepi yang mungkir

kupanggil kau yang tinggalkan bayang
bukankah dulu kau pernah berkata:
sayang, kita punya sekarung mantra cinta
penepis jampi mendesau
tak usah risau

: maka, bergegaslah.


Wicahyanti Rejeki, seorang pegiat seni dan literasi. Antologi puisi bersamanya: Gang Guru (2014), Kilometer Nol (2014), Jalan Remang Kesaksian (2015), dan Wajah Ibu (2016). Kumpulan Cerpen tunggalnya Tepukan Tiga Kali (2013) dan Antologi puisi tunggalnya Sang (2014). Dengan Beasiswa Pegiat Seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wicahyanti Rejeki
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 19 Februari 2017

0 Response to "Semangkuk Sop di Meja Makan - Pedas - Cinta dalam Koper Coklat - Menunggu"