Seorang Lelaki dan Mesin Pendingin Rangan - Perihal Asmara yang Bertumbuh dan Bertanggal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Seorang Lelaki dan Mesin Pendingin Rangan - Perihal Asmara yang Bertumbuh dan Bertanggal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:59 Rating: 4,5

Seorang Lelaki dan Mesin Pendingin Rangan - Perihal Asmara yang Bertumbuh dan Bertanggal

Seorang Lelaki dan Mesin Pendingin Rangan

Seorang
di waktu saban menjadi sangat
panas dan juga menyengat

dengan garis-garis absah lelaki yang lain dan bukan aku adalah batinmu
Sedang aku hanyalah sebuah mesin pendingin ruangan
yang akan kauingat yang tak terbantah

Setiap perjalanan ini adalah serupa nafas
Tidak bisa mengancing kencang, dari kendur tegas dan lentur lugas
sebagian panjang tunas
Mesti ada sekali kemas sebelum keberangkatan dan kepulangan

Seorang lelaki yang lain dna bukan aku adalah ral pemilikmu
Sedang aku hanyalah pemantik gigi
yang bisa saja ada di samping, jika bahumu miring
dan kepalamu memetik sanding dengan senyum sesungging
ke arah bahu-bahu yang payah untuk membanting

seperti sebuah mesin pendingin ruangan.
Bahu ini, hanyalah lahan-lahan sepi yang akan lebih sering kaudatangi
setiap kali hari menyodorkan panah-panah api dari langit
dengan panahan sengit

Perihal Asmara yang Bertumbuh dan Bertanggal

Tak perlu Paris, atau menara romantis!
Aku mau kota dengan menara-menara sederhana,
yang dapat dipanjat--jika banjir bandang sewaktu-waktu datang melawat

Lantaran kita bertangkup di sini sebagai lambang ibarat
sekembang sayap sepasang paksi di tubuh puisi
di tubuh kota yang penyanyi
Kita adalah burung-burung bercinta, laksana sastra yang ditepikan:
dari empat musim yang berterbangan menuju ke pekarangan-pekarangan
rumah para belia bergenre drama romantis--
sementara beranda rumah kita adalah suara tangis yang tidak akan habis

Aku perlu dan juga rindu, mengulang jarum jam kejang di angka pilu
untuk mau dan untuk mampu:
menggamit bersihnya langit, turut menjungkit mencari hujan dan bulan sabit
untuk melupakan cinta mana saja yang membawa serta pamrihnya dari sana

janji-janji putih dengan panji-panji samar,
jerih payah sayap-sayap paksi yang saling sennag kembang serempak

Aku percaya, janji tidak pernah mencintai warna apa-apa
hukum-hukum raum yang tak  tentu mana lunar rimbanya
kaidah-kaidah di seperam carita,
yang di masa silam gendamnya pernah menjatuhkan kita
pada selembar cinta yang mudah memar dan terluka



Hamzah Firmansah, lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 17 Januari 1991. Mahasiswa Fakulas Teknik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi sejak 2013 di bawah kajian on air Komunitas Puisi Pro RRI Yogyakarta. Buku puisinya, "Pangkur Kembang Kempis, Mirip Dubur Iblis" (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamzah Firmansah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 26 Februari 2017





0 Response to "Seorang Lelaki dan Mesin Pendingin Rangan - Perihal Asmara yang Bertumbuh dan Bertanggal"