Si Mata Elang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Si Mata Elang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:21 Rating: 4,5

Si Mata Elang

HAMPIR dua minggu ini ia ogah-ogahan berangkat sekolah. Bukan tersebab Aris iseng menarik-narik kepangannya di kelas. Bukan pula karena hujan puisi dengan diksi super tinggi dari Ronny, atau Farhan yang selalu mencari cara untuk mengajaknya jalan bareng ke mal. Bukan itu. Hanya ada satu alasan. Gerak-geriknya sekarang dimata-matai! 

Saat itu angkot yang dinaikinya harus ganti ban. Lumayan lama. Dua puluh menit tanpa teman bicara. Hanya ada dua penumpang, dirinya dan seorang cowok berseragam putih abu-abu yang menatapnya tanpa kedip sejak ia naik. Berkali-kali dilihatnya jarum yang berputar di pergelangan tangan kiri. Sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. 

Jarum jam berlari tanpa bisa diajak kompromi. Ia turun dari angkot dan membayar ongkos. Dilihatnya sekilas cowok tersebut melakukan hal yang sama, lalu memanggil abang ojek di seberang jalan. Sedangkan ia lebih memilih naik becak untuk mengejar waktu.

“Tunggu, Pak!” serunya pada Pak Suwito—satpam sekolah—yang hendak menutup gerbang.

“Tumben datangnya telat, Ra?”     

“Iya, Pak. Angkotnya ngeban,” sahutnya sambil berlari menuju kelas XA.

Baru saja ia duduk, bel berdentang. Dikeluarkannya catatan Bahasa Inggris sambil menunggu Bu Yayuk masuk kelas. Lumayan untuk mempertajam ingatan tentang kosakata baru sebelum ulangan harian dimulai. Pukul 07 10. Seperti biasa, kelas riuh jika guru belum datang. Perasaannya tak enak. Seperti ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya selama beberapa saat.

Gadis manis berkepang dua itu mengedarkan pandangan. Matanya berserobok dengan cowok yang ada di angkot tadi.

“Sssttt, Na... cowok di sebelahnya Heru itu siapa? Anak baru, ya?” Ia menjawil lengan teman sebangkunya.    

Nana mengangguk. “Iya. Namanya Fauzi, pindahan dari Jakarta. Kamu sih, kemarin pakai nggak masuk segala.”

“Yeee... aku kan sakit,” balasnya sedikit sewot.

Nana terkikik melihatnya. Obrolan mereka terputus saat Bu Yayuk memasuki kelas. Sebentar saja semua siswa serius menghadapi lembaran soal masing-masing. Dan sejak jam pelajaran berganti, ia benar-benar jengah. Siswa baru pindahan dari ibukota tersebut selalu menatapnya lekat-lekat.

***
POSTURNYA tinggi besar, mata tajam laksana elang, berkulit sawo matang, dengan rambut rapi belah tengah. Senyum yang tak pernah lepas dari bibir membuat cewek seangkatannya terpesona. Dan jadilah Fauzi sebagai idola baru di SMA Nusa Bangsa. Hanya satu yang tidak sepakat untuk menjadikannya sebagai pujaan. Ya... cewek manis dengan rambut yang selalu dikepang dua. Maura.

Lagi-lagi mata elang milik Fauzi tak berkedip melihatnya. Gadis manis berkepang dua tersebut lama-lama jengkel, tapi ia tak mau panjang lebar dan bertanya secara langsung, “Apa sih, maumu? Ada yang salah denganku?” 

Semua kejengkelan itu disimpannya sendiri. Pada Nana pun, ia tak bilang apa-apa. Entahlah, sepertinya ada sesuatu di balik tatapan cowok ibukota tersebut. Tapi apa? Maura tak mengerti. 

Seperti biasa, seusai jam pelajaran berakhir Maura selalu menyempatkan diri ke perpustakaan. Hobi membaca yang melekat padanya sejak usia dini bisa tersalurkan di ruangan ber-AC tersebut. Bahkan, Pak Ramlan—petugas perpustakaan—mengangkatnya sebagai asisten pribadi jika ada buku-buku baru dan perlu untuk diklasifikasi ke rak.

“Pak Lan, yuhuuu... aku dataaang!” 

Pak Ramlan hanya geleng-geleng kepala. Ia hafal betul kelakuan Maura yang suka teriak-teriak ketika mengunjungi perpustakaan jam dua siang seperti saat ini. Maklum, sekolah sudah sepi, apalagi gedung yang menjadi tanggung jawabnya tersebut jauh dari kantor guru. 

Gadis manis berkepang dua tersebut segera menuju rak di belakang meja Pak Ramlan, tempat buku-buku khusus yang jumlahnya terbatas. Matanya bersinar begitu ditemukannya buku yang dicari. Tanpa banyak kata dilahapnya Jejak Langkah Pak Harto. Sesekali tangannya sibuk mencatat poin-poin penting dari buku tersebut.

Ia melirik ke lingkaran rantai silver di pergelangan tangan kirinya. Pukul 14.40. Hatinya terasa tak enak, seperti ada seseorang yang mematai-matainya. Ia mendongak. Sepi. Lamat-lamat terdengar suara Pak Ramlan yang berbincang dengan Pak Suwito di samping perpustakaan.

Maura melihat ke pojokan. Lagi-lagi dia dengan tatapan mata elangnya! Ia balik memandang cowok pindahan dari ibukota tersebut dan langsung menunduk. Hatinya jengah. Sedikit tergesa, Maura memasukkan buku biografi Presiden Soeharto ke tempat semula, memasukkan alat tulis ke tas, lalu keluar dari perpustakaan. Padahal biasanya ia betah berlama-lama di balik tumpukan buku dan pulang dari perpustakaan sekitar pukul 16.00.

***
SELALU seperti itu. Mulai dari masuk kelas sampai pulang, mata elang milik Fauzi tak pernah lepas mengikuti segala tingkah laku Maura. Seminggu, dua minggu, tak terasa hampir tiga bulan Fauzi menjadi teman sekelasnya. Lama-lama ia pun terbiasa dengan pandangan tajam tersebut. Mungkin Fauzi naksir aku, ya? Batinnya. 

Ia tersenyum simpul. Diam-diam diperhatikannya Fauzi dari kejauhan, dan segera buang muka jika Si Mata Elang tersebut menatapnya. Sampai suatu hari saat bel pulang berdentang, berita itu singgah di telinganya

“Kata siapa kalau Fauzi jadian sama Tyas?” tanyanya.

“Uh, kamu ini, Ra. Sudah jadi rahasia umum, tuh. Makanya, jangan cuma ngurusin buku melulu, biar nggak kupdet.” Dian cengengesan ketika melihat mulutnya mengerucut.

“Eh, jangan-jangan... kau naksir Fauzi juga, ya?”

Ia mendelik.

“Apaan, sih?” 

Entah mengapa hatinya tiba-tiba nyeri mendengar berita tersebut. Langkahnya gontai menuju perpustakaan.

“Ra, kapan hari ada yang nanyain kamu, lho.”

“Siapa, Pak Lan?” tanyanya ogah-ogahan.

“Fauzi.”

Deg! 

Untung Pak Ramlan sibuk mendata buku-buku baru, jadi tak sempat melihat wajah Maura yang berubah seperti tomat ranum.

“Ngapain dia tanya-tanya aku, Pak?” Maura berusaha mengendalikan suaranya agar tak terdengar antusias.

“Dia bilang suka sekali memandang kamu, karena kamu persis dengan adiknya yang meninggal karena kecelakaan.”

“Oh....” Mulutnya menganga. “Terus, dia bilang apalagi, Pak?”

“Nggak ada. Cuma itu saja.”

Jadi itu rupanya, hanya karena aku mirip dengan adiknya yang sudah meninggal, batinnya. Entah mengapa, nyeri di hati Maura semakin menjadi.

Gresik, 26 Januari 2017 

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Elisa D.S.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 5 Februari 2017 


0 Response to "Si Mata Elang"