Suara di Kejauhan - Rencana Bersama Kekasih - Tak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan - Di Kafe Anita - Kesepian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suara di Kejauhan - Rencana Bersama Kekasih - Tak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan - Di Kafe Anita - Kesepian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:49 Rating: 4,5

Suara di Kejauhan - Rencana Bersama Kekasih - Tak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan - Di Kafe Anita - Kesepian

Suara di Kejauhan

: Shohifur Ridho Ilahi

Ia hanya mampu menangkap lamat 
sebagai gema yang asing. 
Azan menerabas jarak. 
Atau bunyi dangdut yang berlubang-lubang.

Di Yogyakarta 
ia meneropong tanah kelahiran 
dengan lensa mata elang. 
Timur adalah peta usang 
yang selalu misteri untuk dijelajahi.

Sesekali ia melawat ke sana. 
Mencukur kepala ibu lalu menggantinya 
dengan rambut palsu sepalsu-palsunya. 
Ia bersikeras, ibu memang harus 
memoles wajahnya dengan mekap paling terang; 
wujudnya yang nggak kekinian.

Rencana Bersama Kekasih

Di tanah yang jauh, kekasihku tinggal. 
Barangkali suatu saat kita akan bersua 
dengan sejumlah rencana. 
Memasak pasta tanpa sosis. 
Sandwich tanpa kornet. 
Mewarnai taman depan rumahmu 
dengan krayon yang dibeli setengah harga. 
Menghias pohon jambu
 seolah-olah pohon natal. 
Bermain kembang api. 
Menghadiri kebaktian 
tanpa menyimak khotbah pendeta. 
Membeli gula kapas 
yang dipintal dari awan mendung.

Lalu kita menunggu 
seolah-olah hari itu memang pasti akan datang. 
Kita terus menyusun rencana-rencana sederhana 
tanpa ribut mengocehkan masa depan 
yang orang lain inginkan: 
Tentang perkawinan yang takkan pernah menyatukan kita, 
sebab kita berserah kepada Tuhan yang agak berbeda. 
Tentang bayi-bayi yang menyesaki bumi. 
Atau hari tua yang tak pernah aku dan kamu harapkan.

Tak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan

Di sini nggak ada aroma tanah di 
mukadimah hujan. 
Juga nasi jagung dan sup kelor. 
Garam menjadi tawar. 
Nggak ada bantal 
yang terbuat dari gelombang.

Sepanjang malam adalah pasar. 
Seluruh jalan milik pelacur kedinginan. 
Aku lelaki kesepian yang gentar 
dan pengen subuh cepat-cepat datang. 
Tetapi di sini aku baik-baik saja. 
Semua baik-baik saja.

Di Kafe Anita

Ia ingin habiskan siang itu 
untuk mengusir sepi. 
Bertandang ke sebuah kafe 
hanya untuk membaca 
buku tipis yang membosankan. 
Memesan menu di papan menu. 
Risoles bebas daging. 
Cokelat panas glutten free. 
Air mineral berpajak tinggi.

Lalu ia membaca sambil sesekali 
memeriksa layar ponsel. 
Sepanjang waktu 
lagu-lagu di ruang itu membuatnya 
terlempar ke dalam aneka masa lalu 
sembari menatap kosong 
dua gadis selfie di seberang meja. 

Di luar hujan tak akan datang 
meski langit semakin menghitam. 
Hujan akan bertahan 
hingga ia menuntaskan kesepian 
hingga ia beranjak pulang.

Kesepian 

Kesepian telah mengajarinya 
cara membuang-buang waktu 
dengan menghitung saldo rekening 
yang tak pernah beranjak naik. 
Makan mi ayam sebelum hujan. 
Mi ayam tanpa ayam. 
Menghisap asap 
yang meruap dari sela-sela roda pikap.

Ia takkan lepas dari kesepian 
sebelum rela tenggelam 
di kedalaman sepi.


Royyan Julian, dosen sastra Indonesia di Universitas Madura. Saat ini tinggal di Pamekasan. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Royyan Julian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 5 Februari 2017


0 Response to "Suara di Kejauhan - Rencana Bersama Kekasih - Tak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan - Di Kafe Anita - Kesepian "