Talak Tiga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Talak Tiga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:09 Rating: 4,5

Talak Tiga

WAJAH Matrah menegang. Matanya menyiratkan ketidakpuasan terhadap jawaban yang diberikan Ke Samulla. Sudah ketiga kalinya Matrah mendatangi rumah kiai berjenggot lebat itu, berharap mendapatkan jawaban yang berbeda. Namun yang ia terima tetap sama.

Matrah memang tidak mengerti hukum agama sama sekali. Rukun nikah saja dulu ia mempelajarinya setengah mati selama berhari-hari. Itu pun tidak berhasil ia hapal dengan shahih. Kalau saat ini Matrah sibuk mencari hukum rujuk, tak lebih karena mertuanya melarang ia kembali pada putri mereka setelah dijatuhi talak tiga.

Tadinya, Matrah sempat membujuk Ke Samulla agar dicarikan hukum yang lebih ringan. Siapa tahu ada khilaf ulama mengenai hukum yang satu itu; yang membolehkan suami rujuk pada mantan istrinya setelah ditalak tiga, tanpa adanya helah. Akan tetapi, tetap saja Ke Samulla bersikukuh pada jawaban yang sudah beliau berikan sejak seminggu yang lalu.

“Talak yang boleh rujuk hanya dua kali, Mat. Apabila telah menjatuhkan talak tiga, maka kamu tidak boleh rujuk pada mantan istri, sebelum ada lelaki lain yang menikahinya, serta telah ‘bercampur’ dengannya, kemudian diceraikan dengan tanpa adanya paksaan! Itu yang disebut orang sebagai helah.”

Helah? Puah! Dengan kasar dan mendengus kesal Matrah turun dari langgar, pulang tanpa berucap salam. Langkahnya lebar meninggalkan halaman rumah Ke Samulla dengan napas mendengus gusar. Dada Matrah menggemuruh.

Wajah Matrah semakin gelap. Urat lehernya mengeras. Kepalanya seolah hendak meledak. Ia tidak akan pernah rela Marinten jatuh ke pelukan lelaki mana pun. Ya, lelaki mana pun! Ia tetap harus menjadi suami satu-satunya seumur hidup! Perempuan yang dinikahi lima tahun yang lalu dan telah memberinya seorang putra lucu.

Sesal kian menggumpal di dada Matrah. Lorong napasnya seakan tersumbat. Tidak seharusnya ia mudah menjatuhkan kalimat talak.

Setiba di rumah, Matrah membanting tubuhnya ke lincak. Mencengkeram kepala dan meremas-remas rambutnya. Bayangan Marinten menari-nari di kepala Matrah. Marinten yang tengah memain-mainkan selendang kuning emas, siap dikalungkan pada lelaki yang memandangi dengan mata nakal. Tangan Marinten meliuk-liuk seperti ular. Merdu suaranya melantunkan kejhungan.

O bagaimana ia harus melupakan Marinten, setelah merasa berhasil mengentaskan perempuan itu dari dunia tandak?

***
MATRAH memang pencemburu berat. Sejak Marinten jadi istrinya, ia paling tidak suka melihat perempuan itu disapa lelaki lain, sekalipun oleh kakek-kakek rabun yang tidak bisa melihat kecantikan Marinten dengan sempurna. Matrah akan merasa terbakar dadanya ketika ada gerombolan pemuda tengah membicarakan Marinten dan berharap perempuan itu kembali bergabung dengan grup tandak sebagaimana dulu. Oleh sebab itu, mengapa Matrah membatasi gerak istrinya supaya tidak sering keluar rumah. Lebih-lebih, ia khawatir perempuan itu tergoda untuk jadi penari lagi.

Kecantikan dan gerak gemulai Marinten memang belum berkurang meskipun sudah menginjak usia kepala tiga. Kulitnya putih mulus dan halus. Selama ini, Matrah tidak pernah membiarkan Marinten bekerja keras apalagi beraktivitas di luar rumah. Marinten sekadar jadi ibu rumah tangga.

Namun suatu siang, ketika Matrah baru pulang dari sawah, lelaki itu mendapati Marinten tengah asyik ngobrol dengan Maksar di ruang tamu. Maksar, ketua grup tandak di mana Marinten dulu jadi penari primadona. Keduanya bersenda karib, membuka lembar-lembar kenangan sewaktu bekerja sama. Matrah menangkap kejora menukik di sepasang mata Marinten. Berpendar-pendar indah. Bahkan, keduanya sampai tidak menyadari kehadiran Matrah yang tengah mengepal tangan di ambang pintu penuh amarah. 

“Kau ingat, dulu kau penari yang paling banyak menerima saweran. Sampai-sampai, para lelaki lupa kalau istrinya menunggu di rumah, hahaha,” tawa Maksar berhamburan ke udara.

“Iya, Pak. Dan yang paling betah menari hingga menjelang pagi adalah Cak Matrah.” Marinten tertawa renyah mengingatnya.

“Betul. Suamimu itu yang dulu begitu gigih usahanya naik panggung untuk mendapatkan selendang dan menghabiskan uang ratusan ribu saat musim tembakau.”

Marinten tersipu malu. Pipinya merona kemerahan.

“Lalu bagaimana tawaranku tadi? Apa kau mau memenuhi undangan di pesta pernikahan anaknya Arsap? Aku jamin kau tidak akan rugi. Semua penonton begitu merindukan kehadiranmu.”

Raut Marinten semu merah. Kerinduan membuncah di dadanya. Lengkinan saronen mengiang-ngiang di telinganya.

“Kau bisa minta ijin pada suamimu. Hanya sebentar. Tidak sampai larut malam. Lagi pula, apa kau tidak rindu menikmati hangatnya suasana? Menikmati keasyikan menari di atas panggung? Aku yakin, selama terkurung di rumah, kau pun merindukan masa-masa itu.” Mata Maksar mengerling. 

Bibir Marinten mengembang basah. Kerinduannya seperti melati di waktu pagi. Aroma malam, ingar-bingar pesta, lengkingan saronen, kejhungan yang masih dihapal, serta semangat para penandak, menyesaki dada Marinten. Sendi-sendi Marinten seakan kesemutan ingin menari.

Cuping hidung Marinten kembang kempis. Ia rindu masa-masa dielukan setiap ada pesta panen, pesta pernikahan, rokat tasek, khitanan dan acara-acara yang biasa menggelar tandak. Baik di kampungnya maupun di kampung jauh.

Senyum tipis Maksar tersembunyi di balik kumisnya yang hitam lebat.

Brakk! 

“Dia tidak boleh menari lagi!”

Marinten tergagap. Perempuan itu bangkit dengan mulut menganga menatap kemunculan Matrah yang matanya sudah menjadi bulatan api. Raut Marinten yang tadi serupa bunga rekah berubah pucat. Bibirnya bergetar. Tapi Maksar lebih cepat mengendalikan keterkejutan. Lelaki tambun itu tersenyum.

“Sabar, Mat. Sabar! Aku tidak bermaksud macam-macam.”

Gigi Matrah merapat. “Dia tidak boleh menari lagi!”

“Dia sekadar bintang tamu. Hanya menari sebentar. Itu pun atas permintaan mempelai berdua.”

“Pokoknya aku tidak akan pernah mengijinkan dia menari lagi!” Matrah membanting pintu kamar dengan kasar. Meninggalkan Maksar yang ternganga menggantung kalimat.

Dengan gugup Marinten menyusul.

“Kali ini saja, Cak! Aku janji tidak akan menari lagi setelah ini,” bujuk Marinten, meraih tangan Matrah yang sudah kaku saking emosinya.

“Aku bilang tidak, ya tidak!” Matrah mengibaskan tangan Marinten dengan kasar.

“Arsap yang mengundangku secara pribadi. Bukan atas nama grup. Maksar hanya menyampaikan undangan tersebut.” Marinten menjelaskan dengan suara lembut.

Arsap memang tokoh yang cukup disegani. Selain kaya, pembeli tembakau itu pun dikenal dermawan dan masih kerabat kepala desa. Warga yang datang berutang untuk modal menjelang musim tanam tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Mendapat undangan pribadi darinya tentu sebuah kehormatan bagi Marinten.

“Bupati sekalipun yang mengundangmu, dan bersujud di kakiku, aku tetap tidak akan mengijinkanmu menari lagi.”

“Tapi ….”

“Apa kau mau jadi senok lagi di luar sana?” tukas Matrah dengan mata berkilat-kilat, menuding keluar.

Marinten tercekat. “Apa? Senok?”

“Iya. Apa namanya bagi perempuan yang menari dikelilingi laki-laki seperti itu kalau bukan senok? Pelacur?”

Gigi Marinten bergesekkan mendengarnya. Belum pernah ia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Matrah sebelumnya. Beberapa jenak Marinten tak bisa berkata apa-apa. Dadanya bergolak. Matanya pedas.

Matra menghempaskan tubuh ke tepi pembaringan, bersamaan dengan hempasan napasnya. Sementara Marinten masih memaku di tempat. Sepi sesaat.

“Jadi selama ini kau menikahi perempuan senok? Kau menganggapku sekotor itu?” Pertanyaan Marinten menampakkan kekecewaan yang begitu curam.

Matrah tak menyahut. Marinten tidak tahu kalau dulu Matrah jadi penandak tak lebih sekadar ingin merebut perhatian Marinten.

“Kalau begitu, apa bedanya diriku yang dulu dan sekarang kalau penilaianmu sedemikian hina? Setuju atau tidak, aku tetap akan memenuhi undangan Arsap.” Marinten membalik tubuh hendak keluar menemui Maksar yang tadi ditinggalkan. 

“Aku tetap melarangmu!” tegas Matrah. 

Sebentar langkah Marinten terhenti. Tanpa menoleh. Hanya tiga detik. Lalu melangkah lagi.
“Selangkah kakimu keluar dari pintu kamar ini, kutalak tiga!”

Kembali Marinten berhenti di depan pintu kamar. Kali ini membalikkan tubuh perlahan. Menatap Matrah dengan tatapan muak.

“Silakan!” desis Marinten tersenyum masam.

Mata Matrah melebar memandangi punggung istrinya yang menghilang di balik pintu. Dunianya berputar.

***
MARINTEN pulang ke orang tuanya, membawa serta Si Kecil yang masih berumur tiga tahun. Matrah hidup sendiri dicengkeram sepi. Desas-desus tetangga mengenai keretakan rumah tangganya memanggang telinga. Setiap melintasi gerombolan pemuda yang biasa nongkrong di got dekat balai desa, Matrah merasa diolok-olok di belakangnya.

Seminggu sejak kepulangan Marinten, pesta pernikahan anaknya Arsap pun digelar. Sangat meriah. Ribuan kartu undangan tersebar. Pergelaran tandak di alun-alun digelar malam harinya. Semua warga tumpah ruah di sana. Apalagi, munculnya penari ternama telah digembar-gemborkan oleh pihak tuan rumah. Kehadiran si gemulai Marinten! 

Hati Matrah terbakar. Ia tidak kuat menahan amarah dan malu. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Dengan emosi memuncak, malam itu Matrah menyelinap diam-diam di antara ribuan penonton. Menunggu Marinten naik panggung dengan dada hangus. Namun hingga acara selesai pukul tiga pagi, Marinten tidak pernah muncul. Dengung kecewa dari mulut penonton seperti suara tawon.

Matrah pulang membawa sesal yang mulai menggunduk di dada. Esok malamnya, dengan kepala tertunduk ia mendatangi rumah mertuanya, hendak mengajak Marinten kembali. Namun mertuanya tidak mengijinkan karena Marinten sudah ditalak tiga. Matrah hanya dibolehkan menemui anaknya.
Matrah menemui Ke Samulla, menanyakan persoalan yang dihadapi. Namun jawaban kiai tersebut sungguh tak terduga dan sangat mengecewakan. Bahkan, tiga kali ia ke sana, jawabannya tetap sama.

“Talak yang boleh dirujuk itu hanya dua kali, Mat.”

Kalimat bijak Ke Samulla tadi seperti timah panas yang dituangkan ke telinga Matrah. Ubun-ubunnya mendidih.

Semua gara-gara lidahku yang asal bicara! rutuk Matrah berkali-kali. Memukul-mukul kepalanya.
Tiba-tiba mata Matrah bangkir dan bergegas ke dapur. Ia mengambil pisau, dan diamatinya sebentar dengan tatapan aneh.

Dengan sedikit ragu, Matrah menjulurkan lidah, lalu ditariknya keluar seraya mendekatkan mata pisau ke mulut.***


Madura, September 2012

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muna Masyari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1362/XXVII 31 Maret – 6 April 2014

0 Response to "Talak Tiga"