Tamu dari Surga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tamu dari Surga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:16 Rating: 4,5

Tamu dari Surga

MALAM itu ada yang mengetuk pintu rumahku. Tak ada suara lain yang mengiringi ketukan itu. Padahal yang kuharapkan ucapan salam atau sebagainya, sebagai bentuk kalau ia benar-benar manusia. Sudah sering  aku membuka pintu karena ketukan, tetapi yang kutemui hanyalah kekosongan. Kadang-kadang memang bukan kekosongan, tapi berupa asap mengepul atau cuma jejak kaki. Hal itu bisa terjadi karena rumahku di tempat terpencil. Kanan kiri ada kuburan. Aku hidup sendirian.

Dua menit berlalu dan masih kudengar suara ketukan itu. Ketika itu aku duduk di kursi dapur sedang makan malam. Dan karena suara ketukannya tak kunjung berhenti, aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Berdiri tegap seorang yang kalau dilihat dari segi wajahnya sangat tua. Rambut yang putih dan jenggot yang putih menandakan hal itu.

"Benar ini rumah Pak Shalihen?" tanyanya dengan bibir bergetar. Aku mengangguk pelan. Aku merasakan kaki-kakiku gemetaran.

"Iya, Pak. Silakan masuk." Dengan sekuat tenaga aku berusaha agar kakiku yang gemetar ini tidak terdeteksi.

"Sebentar," sergahnya sebelum masuk rumahku, "kenapa tadi lama sekali pintunya tidak dibuka?"

"Iya, Pak. Soalnya sering sekali ada ketuka di pintu rumah saya, tetapi kalau pintunya saya buka tidak ada siapa-siapa. Maklum, rumahnya dekat kuburan."

Orang itu hanya mengangguk. Lalu masuk rumahku, mendekati bangku dan kemudian duduk.

"Sudah lama ya tinggal di rumah ini?" Ia mengutarakan sambil melihat sekeliling. Matanya tertuju pada lukisan kaligrafiku yang bertebaran di dinding, kemudian beralih pad apernak-pernik yang menggantung dengan benang di pintu kecil kamarku, dan akhirnya mata itu menuju ke mataku. Ia menatapku tajam meski matanya terlihat sendu seperti menanggung beban yang amat memberatkan.

"Maaf mengganggu. Saya cuma mau mengantarkan ini," katanya sambil mengeluarkan sebuah buku yang dibungkus kertas.

"Dari siapa ini?"

Ia tak menjawab langsung. Tetapi malah tersenyum. Sampai di sini, aku tak melihat kekonyolan apa pun. Sedari tadi aku sudah waspada, jikalau tiba-tiba ia mengeluarkan senjata, atau minimal ingin menyakitiku.

"Saya tidak mengerti kenapa buku ini harus diberikan kepada Anda. Mulanya saya tidur. Bermimpi ketemu orangtua. Orang yang sangat tua. Mungkin setua umur penjajahan Belanda di Indonesia. Dia bilang kalau buku dalam laci harus diberikan pada Pak Sholihen yang rumahnya di dekat kuburan, yang berarti itu Anda. Padahal sebelumnya saya tidak pernah menaruh buku dalam laci. Terlebih buku yang masih tersampul rapi."

Aku mengangguk mafhum. Ada apa gerangan dengan buku ini, tanyaku dalam hati. Aku melihat jam, tepat pukul sembilan. Lelaki itu hendak pamit ketika aku bertanya mengenai nama dan alamat rumahnya.

Ia tidak menjawab pertanyaanku dan malah membicarakan hal lain. Sambil berdiri dan membenahi kerah bajunya yang sebetulnya sudah rapi, ia mengucapkan hal ini:

"Rumah ini berbahaya. Hati-hati. Banyak orang yang membenci penghuni rumah ini," katanya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah ia seorang peramal yang sengaja dikirimkan Tuhan untuk mampir di rumahku dan memberikan sebuah buku? Aku tidak tahu.

"Ya, sudah. Aku pamit dulu," katanya sopan. Kepalanya menunduk. Tubuhnya membungkuk. 

Aku melihat gelagatnya sangat buru-buru. Dan entah kenapa aku tak bisa mengelak, tak bisa membuat  ia tinggal lebih lama. Mulutku terasa kaku dan segala suara seperti mandek di tenggorokanku. Aku tak mengerti apa yang ia maksud dengan banyak orang yang membenci penghuni rumah ini.

Dari depan pintu, aku memandang orang itu melangkah sampai jauh. Ya, untuk memastikan kalau ia benar-benar manusia. Ternyata, ia memang manusia. Tak ada kejadian aneh yang menyertainya, semisal ia tiba-tiba menghilang atau tiba-tiba terbang. Seiring langkahnya yang menjauh, tubuhnya makin mengecil dan mengecil dan kemudian hanya tinggal cahaya rembulan yang menyinari jalanan.

Aku buru-buru menutup pintu dan mendekati buku pemberiannya tadi. Aku menyobek pembungkusnya yang tanpa tulisan apa-apa. Aku membukanya perlahan-lahan. Aku menemukan catatan-catatan segala dosa yang selama ini kuperbuat.

***
SETELAH tamu yang memberi buku catatan dari segala disa yang kuperbuat itu, semakin hari semakin banyak yang bertamu ke rumahku. Kadang-kadangpagi hari, kadang siang hari, kadang sore hari, dan kadang malam hari, bahkan kadang ada yang dini hari. Setiap kali tamu-tamu itu ke rumahku, mereka selalu bertanya di mana orang itu.

"Itu tamu dari surga," kata seorang lelaki yang gemar berangkat ke Masjid. Jenggotnya yang lebat dan tanda hitam di dahinya, seperti mendandakan kalau dia rajin bersujud menyembah Tuhannya.

Aku tidak percaya dari surga. Buktinya setelah pamit, ia berjalan seperti manusia sewajarnya. Ia tidak terbang ke langit. Bukankah surga ada di atas.

"Ah, beruntung sekali kau, Hen. Itu artinya kau disuruh cepat-cepat bertaubat. Dan pastilah Tuhan menerima taubatmu," kata kakek tua yang giginya tinggal dua dan di tangannya tidak luput butiran tasbih itu.

Apanya yang beruntung? Justru aku kesal. Aku merasa terhina. Kapan aku melakukan dosa? Aku bekerja secara khalal menjadi tukang gali kubur. Atau aku tidak pernah mencuri apa pun di dunia ini kecuali satu kali, sesobek kain mori mayat perawan pujaan orang sedesa. Itupun aku langsung bertaubat seketika.

"Kenapa yang diberi buku catatan dosa itu aku yang kerja secara halal-halal saja. Kenapa tidak koruptor itu? Kenapa tidak bandar narkoba itu? Kenapa bukan pejabat-pejabat yang tidak peduli pada rakyat?"

"Husss... jangan begitu, Hen. Kalau kau memang tidak berdosa, itu artinya Tuhan ingin agar kau menjaga meneruskan perbuatan itu. Artinya, kau jangan melanggar aturan. Atau melakukan hal-hal yang membuatmu berdosa." Seorang mahasiswa yang telat lulusnya memberikan testimoni sebagaimana sesepuh memberi petuah pada cucunya.

Sudah kubilang, aku tidak pernah melakukan dosa. Aku jarang keluar rumah. Paling keluar ketika ada orang meninggal dan mayatnya akan dikuburkan di samping rumahku. Aku tidak pernah jelalatan emmandang perempuan, aku juga tidak pernah menyakiti hati orang-orang, aku juga tidak pernah....

***
MALAM  itu agak susah digambarkan warnanya. Shalihen ditemukan mati gantung diri. Apa yang membuat ia mati gantung diri? Aku tidak tahu. Yang jelas, sebelum kematiannya, banyak sekali orang yang bertamu ke rumahnya.

Setelah diteliti beberapa hari, Shalihen mati bukan karena bingung memikirkan buku catatan dosa. Ia hanya syok karena hampir tiap hari ditagih utang rentenir. Dengar-dengar, utangnya lebih banyak ketimbang harga rumahnya jika dijual. Aku tak peduli. Apa peduliku? Aku kan hanya menjalankan tugas dari Bank. Tetapi, ketika semakin tak peduli, semakin aku merasa ketakutan. Sebab, hampir tiap hari juga ada orang sangat tua dan di kepalanya ada tanduk merah, giginya bertaring sangat panjang selalu mengatakan, "selamat datang di surga kami."  (k)


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 19 Februari 2017

0 Response to "Tamu dari Surga"