Terminal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Terminal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:30 Rating: 4,5

Terminal

KEINGINAN masa kecilku tidak muluk-muluk, cuma menjadi seperti ayah. Tetapi kata ayah, peluklah impian seluas matamu memandang, dan jadilah sehamparan padi di antara pematang. Itu rakus namanya, ayah, terlalu pura-pura, kataku, aku mau jadi burung yang ingat pulang ke sarang.

AYAh menepati janjinya sebagai burung yang aku impikan, meski sebenarnya ayah diberhentikan dari pekerjaan. Ibu terpukul mendengar kabar itu. Dan dengan terpaksa ayah memutuskan akan bertani di kampung halaman. 

Keputusan ayah sempat diprotes ibu saat percakapan serius mereka malam lalu. Ibu tidak enak hati kalau sanak saudaranya nanti tahu bahw akami pulang karena ayah kena PHK. "Keja apa saja yang penting tidak pulang menanggung malu, Pak," kata ibu. Lagi pula ayah sudah berumur dan cuma tamatan SMA. Ayah  tak mau jadi gelandangan di Ibukota. Sementara aku meredam tangis dengan bantal di dalam kamar. Abangku tidak terganggu sedikit pun oleh suara sesenggukan di tenggorokan.

Sehari sebelum tanggal kontrakan rumah habis, ibu mengemasi pakaian ke dalam tas. Lalu meloak seluruh perabotan dari jerih payah ibu mencicil. Kerut murung di wajah abangku tegas sekali karena besok kisah cintanya akan berakhir. Ayah mengajakku ke sekolah pada siang hari, berpamitan kepada guru dan murid-murid di kelas. Teman sebangku dan teman istirahatku satu persatu mengucapkan selamat tinggal. Dan sebagian tetangga di kontrakan kami berpesan --kapan-kapan mampir ke rumah, ya? Aku tak tahu mau menjawab apa, pandanganku justru terpaku pada ayah.

Pagi sekali kami sudah mengosongkan rumah kontrakan, lalu menuju terminal. Selama di perjalanan, ibu menyumbat mulutnya dengan membisu, abangku juga. Wajah ayah terlihat cerah dan agak cerewet dari biasanya. Suasana di terminal pagi itu seakan terbagi dua. Aku bersama ayah seperti sepasang burung gereja yang tengah berkericau di tepian atap, sedang mereka --ibu dan abangku mirip tiang-tiang plang bertanda dilarang berhenti.

Aku tahu ibu tidak ingin berhenti di situ, duduk dan menunggu kebahagiaannya yang akan pupus. Di pikiran ibu masih tertanam gedung-gedung yang menjulang di ibukota, meski seharian diributi alarm pintu palang kereta, gemuruh panjang gerbong yang melaju kendang, desing pesawat serta pekik klakson dari macam kendaraan yang mewah maupun angkutan kota yang menjerit-jerit di telinga.

Ibu seolah, sedang membulat-bulatkan keinginan dalam batinnya untuk meninggalkan terminal itu dan selamanya menjadi orang kota. Abangku justru lebih berat kepada pacarnya yang jalan dua tahun lewat--yang masih cinta monyet sudah nekat mengiyakan ajakan pacarnya untuk berumah tangga.

Di sela-sela cerita ayah yang sangat tahu mengenai geografi kampungnya, aku sulit membayangkan tentang sehamparan sawah yang menguning, udara pegunungan yang sejuk, serta ikan-ikan di anak sungai yang jernih, sebab selama ini aku tumbuh di kota. Maka, sekali-kali aku menilik wajah abang yang jatuh ke layar telefon pintarnya itu dan gerakan jempolnya yang berkali-kali menggeseri foto demi foto.

Sementara mata abang basah, ibu justru melempar pandangnya keluar terminal sambil mengepal sehelai saputangan berenda biru. Sudah kedua kalinya aku melihat benda itu di tangan ibu, dan kelihatannya ayah berusaha mengingat-ingat kapan menghadiahkannya, sampai-sampai tekanan bicara ayah mendadak naik.

Dulu, ada seorang laki-laki datang ke rumah kontrakan kami --tidak begitu tua tidak juga tampak muda-- membawa buah-buahan dengan bunga seikat. Pada siang itu, ibu terbaring sakit, dan sehat seketika saat punggung tangan ibu disentuh tangan laki-laki itu. Kehadiran laki-laki itu ajaib betul, bisa menyihir ibu bangkit dari ranjang --tak perlu resep dari dokter atau obat dari warung-- ibu langsung kembali bertingkah seperti biasa.

Anehnya, pipi ibu yang tadinya pucat mennjadi kemerah-merahan seperti tampang abangku yang kepergok ayah sedang berciuman di pinggiran kali bersama pacarnya. Tapi, sejauh yang kutahu, laki-laki itu menyusul ibu ke dapur ketika ibu menyeduhkan kopi buatnya. Menjelang sore ibu mengantarnya sampai jembatan, dan menggenggam saputangan berenda biru, sepulangnya. 

Satu jam kemudian, aku melihat ayah pulang kerja melalui ambang jendela ketika azan magrib dikumandnagkan dari masjid di seberang kontrakan kami sehingga sangat memekakkan telinga. Di rumah, ibu tidak pernah membicarakan laki-laki itu. Bahkan jejaknya tidak sepatah kata pun telontar dari mulut ibu. Ibu bilang buah-buahan dan bunga seikat itu adalah pemberian tetangga.

Tetangga bilang ada seorang laki-laki berduit yang bertandang, dan melebih-lebihkan kalau ibu sudah gitu-gituan. Aku tidak tahu apa arti gitu-gituan yang ditangkap ayah hingga membuatnya meledak marah dan menampar keras pipi ibu sampai memerah, lebih merah dari pipi abang yang kepergok ciuman.

Pertengkaran ayah dengan ibu nyaris terjadi karena saputangan berenda biru itu. Ayah langsung menurunkan tekanan bicaranya ketika mata para calon penumpang bus yang menunggu keberangkatan di terminal mengepung mereka. Ibu lalu membuang muka, ayah juga. Situasi semakin kusut, ebgitu juga raut abangku yang kian kalut. Ibu mulai kesal pada hal apa saja, udara yang panas, bau asap yang mengganggu hidung, sampai-sampai saat ayah bicara ibu suka memanyun-manyunkan bibirnya. Ayah sangat merasa dan kemudian pindah ke tempat duduk lain.

Jadwal keberangkatan masih dua jam lagi. Bus yang akan kami tumpangi terjebak macet di tol. "Ada kecelakaan beruntun. Insya Allah, dua-tiga jam lagi sampai," kata si Mbak penjual karcis. Di depanku satu rombongan keluarga makan bersama-sama, di sebelahnya pasangan kakek nenek saling suap-suapan, seorang suami mengelus-elus perut istrinya yang hamil besar, seorang mahasiswa ngomel-ngomel dan bolak-balik duduk berdiri sambil menenteng kamera. Ayah mengajak pelajar itu mengobrol panjang lebar. Di sela-sela percakapan mereka, ayah lalu kedapatan melirik ibu.

Ibu tidak merespons siapa pun, kecuali saputangan berenda biru di tangannya. Dipandanginya benda itu lama-lama, diciuminya, lalu senyum-senyum sendiri. Sambil memejamkan mata, ibu menyapu keringat yang mengucur dari dahinya secara perlahan, hingga menjalar ke lekuk lehernya seperti peragaan iklan-iklan sabun dan pemutih kulit di televisi. Mata ayah terbelalak, dan segera menyambar saputangan berenda biru itu. Ibu terkaget, dan serta merta membentak. Ayah mundur dua langkah, terduduk diam.

Aku memandang wajah ayah yang melamun. Ibu menunduk karena malu jadi pusat perhatian. Abangku kabur saat pertengkaran tadi tengah berlangsung, tanpa berkata apa-apa. Orang-orang berbisik di sekitar kami. Teriakan kernet dan penjual minuman gendongan, camilan, tisu, rokok ketengan, bahkan racun tikus, naik-turun bus dan terus berlanjut menyisipi kebisuan kami seolah bermacam reklamae pada jeda tayangan sinetron keluarga yang berdurasi per tiga puluh detik. Lalu, ayah memulai bicara dan mengutarakan semuanya.

Sebetulnya ayah tidak mau merusak keluarga ini, ibu juga. Tapi ayah harus menanggungnya sendiri, terutama segenap perasaan ibu yang telah dicolong si laki-laki ajaib itu, bahkan sudah kelewat membatin. "Aku minta maaf?" Hanya itu yang bisa dikatakan ibu untuk mengasihani dirinya sendiri dengan si laki-laki ajaib itu yang sudah seperti hantu di kepalaku --yang mengaburkan akal sehat ibu. Maka, ayah memutuskan pulang sendiri, dan merelakan aku bersama ibu untuk tetap tinggal di ibukota. Aku dipelototi ibu saat hendak menangis dan menahan langkahku sekuat-kuatnya sewaktu ayah pamit.

Bus sebelumnya yang hendak kami tumpangi akhirnya hanya akan membawa ayah pergi, Jujur, aku lebih suka bersama ayah ketimbang ibu. Aku tatap wajah ayah yang menyiratkan suatu kehampaan dalam berlinang-linang air mataku. Air mata yang ternyata tersumbat selama dua jam lalu. Dua jam penantian yang telah merontokkan hati ayah jadi berkeping-keping. Dua jam yang berhasil dimenangkan ibu demi si laki-laki ajaib itu. Dua jam yang meloloskan kesenangan cinta monyet abangku. Dan dua jam yang membuat aku jadi seorang anak yatim.

Sepuluh menit menjelang bus berangkat, ayah membayar si penjual racun tikus untuk harga dua bungkus plastik, lalu mendekati si mahasiswa yang mengomel tadi. Sebelum masuk ke dalam toilet umum, ayah membisikkan sesuatu kepadanya. "Bawalah kameramu ke toilet umum lima menit nanti. Ada peristiwa yang menarik untuk kau rekam." Itulah kata-kata terakhir ayah kepada pelajar itu, yang disampaikannya kembali ke ibu sambil gemetaran dan pucat wajahnya karena menjadi saksi pertama dalam detik-detik terakhir kematian ayah yang membikin geger suasana terminal. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nermi Silaban
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" 19 Februari 2017

0 Response to "Terminal"