Tubuh Retak - Doa - Foto - Tentang Rumah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tubuh Retak - Doa - Foto - Tentang Rumah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:49 Rating: 4,5

Tubuh Retak - Doa - Foto - Tentang Rumah

Tubuh Retak 

: Untuk Selalu Mengingatmu
Bahkan, aku tak memeiliki sedikit pun kesedihanmu
Yang ad ahanya puisi ini,
yang lahir dari pilus toko modern, botol bersoda,
dan makanan cepat saji dekat perumahan.
Ketika aku harus berjalan dalam hujan,
seluruh cuaca tumpah di kepalaku
dan aku serasa meminum es yang mengairi sawah
Bibirku berlubang oleh ciuman pengawet,
dan perutku telah dipenuhi obat-obatan
untuk bisa memulihkan keadaan

Pada saat orang-orang sibuk dengan pikirannya
aku memilih berjalan di luar, bermain di taman kota
dan memastikan pagi akan kembali
dan bebukit melempar bola kuning ke langit
Kau tak pernah bisa kembali seperti bunga kering
yang compang-camping melewati musim hujan.
Kau berada di tempat terjauh dari waktu,
dari selokan yang diperbaiki, aspal yang ditambal,
dari ruko yang bangkrut dan digusur

Sisa kenangan hanya pantas berada di museum
bahkan mungkin harus dibakar dengan puisi
agar tak memperburuk jalan-jalan saat hujan tiba.
Gedung-gedung, kau tahu, ia adalah kesementaraan
yang tumbuh di wajahmu
yang akan dibilas oleh musim lain yang lebih padat
juga basah.

Maka ingatlah aku yang sendiri di kamar
dengan keceriaan burung dan belalang,
perjumpaan matahari dan bulan di pantai,
juga yang memancar di dalam puisi ini
serasa bercermin pada tubuhku yang retak
menuju tempat kau mendoakanku.
2015


Doa

Pasir yang kuning itu berhamburan ke udara
seperti melingkari takdir yang pilu atas luka

di Palestina tertanam jejak nabi
mencabkan bendera kedamaiaan

dan tanah basah,
bukan oleh hujan, bukan pula tersebab oase
basah oleh airmata dan darah
juga basah oleh air kencing perempuan
dan anak-anak yang lari terbirit
agar nyawa tetap bertahan di dada

mati memang syuhada, masuk sorga
tapi sorga punya siapa
Tuhan juga belum tentu mengabulkan
maka perempuan dan anak-anak itu
lebih memilih berdoa untuk cinta damai

dan orang-orang itu punya kepala yang keras
keyakinan-keyakinan pun berbenturan
dendam menyala bagai api
yang membakar semangat dan bersiasat
atas pikiran yang sesat

"Tuhan, perang hanya menyisakan sengsara"
begitu doanya pada pagi
pada embun yang masih suci

sudah beberapa waktu ini para suami tak pulang
tak ada nafkah bagi anak dan istri
tak ada cinta yang menghangatkan
saat membaca salat dan mengaji bersama

waktu dipenuhi rasa cemas
waktu mengungsi dari kerabat ke teman

pintu-pintu menggigil
mendengar laju tank dan bunyi senapan
belum lagi roket yang sering salah alamat
dan nyawa hanya satu, tak dijual di toko

doa adalah penenang dalam ketakutan
sambil berharap belas cinta kasih Tuhan
yang sangat jauh di langit
karena malaikat juga sibuk mengurusi mayat-mayat

malam-malam terasa sangat dingin
dari dongeng sebelum tidur
malam telah dipenuhi riwayat dari mayat
yang terus menjerit
mayat tanpa makam, tanpa diketahui kerabat
bergelimpangan seperti binatang laknat
Pasir yang kering itu berhamburan ke udara
seperti melingkari takdir yang pilu atas luka
2012-2013

Foto

Betapa tak ingin kusimpan kenanganku terlalu banyak
maka kugambar diriku pada air yang keruh
agar semua kenyataan tampak berbeda
tampak sebagai bukan diriku lagi yang emnanti bulan

Dengan uang dan segala kekuasaan
maka dapat dengan mudah pula kuatur cahaya
dan seluruh yang gelap menjadi berkilau seperti emas
untuk mewarnai langit dengan kesementaraan

Jika kau teman masa laluku dengan seluruh airnya
kupastikan ingatan itu akan terbakar dan jadi abu

Tiap kali kukunjungi jalan baru dengan seluruh airnya
kutempel wajahku dengan senyum serupa pejabat
hanya untuk merayakan kebanggaan dan keceriaan

Walau kadang-kadang aku merasa wagu
alangkah lugunya wajah ini sebelum mengenal puisi
sebagai sudut pandang hidup yang penuh kata
2015

Tentang Rumah

Rumahku berada di dalam puisi yang menampung hujan
Setiap siang, aku elepaskan bahasa dengan rambutku,
sungguh ia seperti layang-layang yang mengitari atap
dan terbang ke langit untuk menurunkan hujan
Sekarang ini, rambutku hampir habis kehilangan kata-kata
dan tak lagi bisa menampung hujan yang mengalir ke tempatmu
pada setiap akhir tahun.
2015



Arif Hidayat: Dosen IAIN Purwokerto, dan Dosen Tamu Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Bergiat di Komunitas Beranda Budaya. Tinggal di Desa Karangnanas RT 06/RW 02 Kecamatan Sokaraja Banyumas Jawa Tengah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Februari 2017




0 Response to "Tubuh Retak - Doa - Foto - Tentang Rumah"