Ada Kata Yang Akan Hilang - Prolegomena - Epiphaneia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ada Kata Yang Akan Hilang - Prolegomena - Epiphaneia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:32 Rating: 4,5

Ada Kata Yang Akan Hilang - Prolegomena - Epiphaneia

Ada Kata Yang Akan Hilang

Mungkin ke seberang waktu memangkas
bagai pedang
Dan selalu ada kata yang akan hilang
dari percakapan tentang Tuhan
Lalu malam yang menjelma ributdengan perang di
dalam kabut

(2016)

Prolegomena

“Seperti musim panas yang tua
Menepuk punggung hujan,
Hutan memerah.
Dan luka merembeskan darahnya
Ketika ingin kucintaiMu tanpa putus asa.”

Dari selatan, jauh sebuah jalan
Kuterima kabar tentang waktu

Mungkinkah kita tak lagi butuh penerjemah
Ketika ada yang mengirimkannya ke mari
Dalam sepasang sajak tanpa tanda baca

Seperti dari utara kaudengar
Berita paling sabar pada radio?

Tapi kenapa kita tak juga menoleh
Untuk sebuah judul asing di seberang?

Barangkali kita memang tak siap
Untuk hal-hal yang akan lenyap
Seperti bunyi hujan di atap
Pelan-pelan menguap

“Di sini percakapan tak lagi sederhana.
Sebab misal pun sebuah lagu
tak ingin diputar keras-keras
Sebelum batas menuntunmu kepada diam
Dan mengebaskan kakinya untuk masa silam,

Di mana dan ke mana nantinya,
Akan betapa sengit perkenalan ini.”

(2016)

Epiphaneia

;untuk Mahmoud Darwish

Dalam selembar potret tua di tangannya
Ia lihat apa yang tak diingat

Sebenarnya pada puing
Pecah dinding dan sisa genting
Yang hampir tak kita rekam
Ada hidup semacam hangus papan
Yang gagal
Yang tak bisa kekal oleh khayal

Tapi ingin tak terpisah dari waktu
Perpindahan yang memenggal itu

“Meski sudah kuhirup bau musuh
Tak hendak kucium amis selalu
Dari tulang penyusun rabu
Dari daging penggenap tubuh.”

“Tapi lagi-lagi sejarah,
Seperti tanah,
Adalah warisan yang menuntut darah.”

Ketika itu siang sibuk
Seperti teriak dan ribut senapan

Seakan jam hanya bergerak
Dari bunyi peluru

Dan bom yang menggertak

“Adakah reruntuhan adalah rasa sabar yang lain
Dan perang adalah rasa lapar sejak kemarin?
Adakah kita memang dilahirkan untuk kalah
Dan melawan adalah kata yang salah?”

Ia tak tahu
Yang ia tahu, Tuhan telah hilang dari warna
Dalam selembar potret tua
Dan tak seorang pun bertanya
kita di mana

(2016)


Erich Langobelen, lahir 29 Januari 1994 di Lewoleba, Lembata, NTT. Bergiat dalam Komunitas Sastra Teater Tanya Ritapiret dan Komunitas KAHE Maumere. Buku- nya yang telah terbit ialah Luna (2015) dan Mausoleum (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Erich Langobelen
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 19 Maret 2017



0 Response to "Ada Kata Yang Akan Hilang - Prolegomena - Epiphaneia"