Alkisah Sal Mencari Kang Mad | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Alkisah Sal Mencari Kang Mad Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:29 Rating: 4,5

Alkisah Sal Mencari Kang Mad

Hormat Sepanjang Masa buat Biyung Sal

JULI 1948, hampir tujuh puluh tahun lalu. Malam baru menjelang di Kampung Dukuh Kidul, jauh di sebelah baratdaya kota. Suasana sepi dan hening. Gelap pekat menyemuti seluruh kampung. Orang-orang tidak berani menyalakan lampu minyak karena keadaan sedang amat genting. Hanya tampak kelip-kelip pelita kecil di rumah Sal. Ibu 25 tahun itu sedang duduk di balai-balai sambil menyusui bayinya yang baru berumur satu bulan. Itu anaknya yang keempat. Suaminya, Kang Mad, jarang berada di rumah karena dia pejuang yang selalu menjadi incaran tentara Belanda. Matamata Belanda agaknya bahkan ada juga di Dukuh Kidul. 

Kegentingan di Dukuh Kidul sudah berlangsung beberapa bulan sejak Belanda melancarkan apa yang mereka sebut aksi polisionil. Namun pihak Indonesia menyebutnya agresi militer. Gerakan itu untuk menumpas para gerilya Republik. Belanda mengerahkan pasukan dari brigade pribumi yang mereka namakan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau KNIL. Dalam operasinya pasukan Belanda sering bertindak melebihi batas dengan menembak setiap lelaki yang mereka temui. 

Malam itu Kang Mad, Santoyib, dan Kantun duduk mengelilingi meja dalam kegelapan. Mereka berbicara dengan berbisik agar suara mereka tidak menembus keluar dinding. Pemilik rumah adalah Nenek Nyami, janda renta. Ketiga lelaki itu masih terbilang cucunya. 

Hanya karena hendak menggulung tembakau dengan kulit jagung, Santoyib menyuruh Kantun mencari dan menyalakan pelita. Nyala api kuning sebesar gabah menerangi ruangan. Muncullah tiga sosok dengan wajah waspada. Semua tampak siaga.

Kang Mad kelihatan berselendang kain sarung. Ternyata bukan hanya Santoyib yang ingin merokok. Dan agaknya tembakau bisa membuat ketiga lelaki itu merasa lebih tenang. Mereka duduk menyandar dan mulai menikmati isapan-isapan pertama. Namun mendadak Kang Mad menegakkan punggung, wajahnya tegang, ketika terdengar burung bence mencecet terbang melintas di atas rumah. Bagi orang Dukuh Kidul, itu pertanda ada manusia bergerak di luar dalam kegelapan. 

Kang Mad cepat meniup pelita dan segera melompat keluar melalui pintu belakang. Santoyib dan Kantun mengikuti Kang Mad, tetapi terlambat. Pintu depan didobrak dan tembakantembakan langsung menggema dalam kegelapan. Santoyib dan Kantun roboh dengan tubuh saling tindih di tanah. Kang Mad terus lari, tetapi dia pun menjadi sasaran tembak seseorang yang berjaga di luar. Si penembak samar-samar melihat ada tubuh roboh ke tanah. 

”Kamu kena! Godverdomme

Bajingan! Exstreemist!” teriaknya. Dan seperti pemburu yang ingin segera melihat korbannya, si penembak mendekat sambil menyalakan senter. Kata-kata kutukan kembali keluar dari mulutnya. Sosok yang tampak jatuh ke tanah ternyata hanya sehelai kain sarung. Setelah melihat jelas dengan cahaya senter, sarung itu tampak berlumuran darah. Pemiliknya lolos dan melarikan diri dalam kegelapan. 

Sepi mencekam. Sendiri hanya bersama bayinya, Sal menggigil ketakutan. Suara tembakan-tembakan bedil di rumah Nenek Nyami menggetarkan hatinya. Dia amat sadar Kang Mad paling dicari. Apakah Kang Mad mati tertembak? Bayi anak Sal menggeliat dan menangis. Sal melekatkan bayinya ke dada dan air matanya tak terbendung. 

Lengang terus berlanjut. Hanya terdengar suara-suara umpatan tentara Belanda yang kemudian pergi. Suasana tetap sunyi lengang. Baru beberapa belas menit kemudian terdengar sayup-sayup suara mesin truk dihidupkan.

Tentara yang rupanya menghentikan truk di jalan jauh dari Dukuh Kidul pun pergi. Suasana yang sepi mencekam perlahan mencair, dimulai dengan suara burung hantu dari kerindangan pohon beringin di ujung kampung. Kemudian terdengar rintihan orang dari rumah Nenek Nyami. Itu suara Kantun.

Dia terus mengerang. Nenek Nyami keluar dari persembunyian di kolong balaibalai, lalu memangilmanggil siapa pun yang bisa mendengar. Masih gulita, tetapi Nenek Nyami mengerti siapa orang yang pertama muncul. Dia Sal dan bayinya. Kemudian Limun, adik laki-laki Sal yang baru sebulan disunat. Limun diminta menyalakan lampu, tetapi dia sulit menemukan pemantik api. Nyatanya benda itu hanya dimiliki para lelaki dewasa. Namun akhirnya lampu dinyalakan. Dua tubuh lelaki bertindihan di tanah. Sal segera memburu; Kantun dan Santoyib. Kang Mad di mana? Dibawa tentara Belanda? Sal menangis dengan suara tertahan-tahan sambil mendekap bayinya. 

Seorang lelaki dan seorang perempuan masuk lalu mengangkat tubuh Kantun ke atas bangku panjang, tubuh Santoyib ke balai-balai. Kantun terus mengerang, sedangkan Santoyib diam dan terkulai lemas. Luka tembak menembus leher dan mengeluarkan banyak darah. Santoyib sudah meninggal. Kantun tertembak pada otot lengan dekat ketiak. Seseorang mengikat luka Kantun dengan kain sehingga darahnya berhenti mengucur. 

Dalam kesibukan di bawah cahaya remang-remang, Sal bergerak tak menentu. Tangan kiri memeluk bayi dalam embanan dan tangan kanan tak berhenti menyapu air mata. Di mana dan bagaimana Kang Mad?

Pertanyaan itu lama menghantui Sal, dan kemudian terjawab ketika seorang tetangga datang membawa kain sarung berlumur darah. Sal menjerit dan bayinya ikut menangis. Semua orang tahu itu kain sarung Kang Mad. 

”Sarung kutemukan di belakang rumah ini. Jangan menangis. Tadi saya mendengar suara orang berlari ke arah sawah. Itu pasti Kang Mad.” 

”Kang… Kang Mad lari? Dan sarungnya berdarah-darah?” 

Tak seorang pun menjawab pertanyaan Sal. Semua sibuk mengurus mayat Santoyib, dan Kantun terus mengerang-erang. Sal termangu-mangu, lalu tiba tiba bergerak menarik tangan Limun, adiknya. 

”Temani aku mencari Kang Mad. Ayo cepat.” Mendengar suara Sal, semua orang menoleh, lalu menegakkan punggung.

Tampaknya tak ada yang menyetujui niat Sal. ”Jangan, biar saya yang mencari Kang Mad.” Itu suara Juned yang ternyata sudah muncul entah dari mana. Juned adalah pejuang seperti Kang Mad. Bahkan Juned sudah punya bedil dan granat. 

”Eh iya!” seru Nenek Nyami. ”Kamu, Sal, jangan ke mana-mana. Kamu perempuan dan punya bayi yang baru lahir. Wanti-wanti jangan.” 

”Benar,” suara Juned lagi. ”Meski kena tembak ternyata Kang Mad masih bisa lari. Dia orang kuat. Di Dukuh Kidul ini dia jadi jagabaya. Kang Mad juga pesilat tangguh. Percayalah, Kang Mad bisa menyelamatkan diri.” 

Sal surut, lalu duduk sambil merapatkan bayinya ke dada. Isaknya kembali berderai. Namun dia patuh ketika Nenek Nyami menyuruh pulang dan ditemani Limun.

Kata Nenek Nyami, perempuan yang baru melahirkan tidak boleh berada dekat mayat. Malam itu mayat Santoyib dimandikan, disalati, dan dikubur dengan sederhana di pekarangan. Semua dilakukan dengan tergesa karena takut tentara Belanda datang lagi. Kantun dibawa Juned, katanya akan dicarikan obat. 

Di rumahnya, sepanjang malam Sal tak bisa tidur. Juned juga tidak datang membawa berita tentang Kang Mad. Bayi Sal sering bangun dan menangis. Pasti karena air susu emaknya berkurang dan juga lama tubuhnya tidak dimandikan. Bayangan Kang Mad rebah dengan tubuh berlumur darah terus membayang di mata Sal. Hari berikut hingga sore Juned belum muncul juga.

Maka ketika kokok ayam terdengar waktu fajar hari kedua, Sal sudah bulat tekad akan menyusul Kang Mad, di mana lagi kalau bukan di hutan jati seberang kali. Siapa pun, termasuk Nenek Nyami, tidak boleh mencegah. Dia menyalakan tungku untuk menanak nasi dan memasak sayur. Itu akan dia bawa. Kang Mad tentu sedang lapar, pikir Sal. Limun dia bangunkan. 

Setelah melintas pesawahan amat luas dan melewati sebuah desa, Sal dan bayinya serta Limun tiba di tepi Sungai Lopa. Matahari belum sepenuhnya muncul di atas ufuk. Air Sungai Lopa sedang tinggi. Sal berhenti dan berdiri termangu, bingung. Bayinya merengek minta menyusu. Serombongan burung jalak terbang melintas di atas mereka, disusul ribuan burung manyar dan gelatik. Suara khas menunjukkan jenis burung apakah mereka. 

Sal masih berdiri termangu memandang aliran Sungai Lopa yang deras. Dia merasa tak sanggup menyeberang, apalagi sambil mengemban bayi. Limun juga merasa ragu. Sal ingin minta tolong diseberangkan, tetapi kepada siapa? Memang Sal melihat di seberang sana ada perempuan sedang jongkok di bagian sungai yang dangkal. Setelah selesai buang hajat perempuan itu tegak dan memandang ke arah Sal. Perempuan itu ternyata Mbok Makri yang sudah amat dikenal. Mbok Makri sering turun gunung untuk menjual hasil hutan berupa jantung pisang, pucuk pakis, atau kadang telur ayam hutan. Dalam perjalanan ke pasar, Mbok selalu melewati jalan samping rumah Sal. 

”Hai, kamu Sal istri Mad kan?” tanya Mbok Makri dari seberang kali. ”Sepagi ini kamu mau ke mana? Jangan menyeberang, bahaya.” 

Kemudian berlangsung tukar suara melintasi air dengan suara keras untuk melawan deru aliran sungai. Sal sungguh minta ditolong menyeberang. Mbok Makri geleng-geleng kepala, tetapi amat mengerti apa yang sedang bergolak di hati Sal. Maka lihatlah, Mbok Makri mengikatkan ujung kain lebih tinggi lalu terjun dan berenang ke seberang. Bagi dia, menyeberang Sungai Lopa adalah pekerjaan sehari-hari. 

”Kamu sungguh ingin menyeberang untuk mencari Kang Mad?” tanya Mbok Makri setelah berdiri di depan Sal. Yang ditanya mengangguk dalam-dalam. 

”Baik. Sekarang serahkan bayimu kepada Limun dulu. Lalu kamu buka semua pakaian. Kamu akan saya bawa berenang ke seberang. Ayo.” 

Sal kelihatan ragu. Namun akhirnya patuh. Dengan hati-hati dia serahkan bayinya kepada Limun. Ya, Tuhan, bayi itu menangis. Sal ikut menangis. Lalu ada yang lucu; seorang perempuan telanjang digendong dan dibawa berenang. Sampai di seberang Sal cepat memakai kain bajunya dan Mbok Makri terjun lagi berenang balik. Kali ini dia mengambil bayi anak Sal dari tangan Limun. Masih menangis dan bertambah keras ketika Mbok Makri mengangkatnya hanya dengan tangan kiri tinggi-tinggi, lalu membawanya berenang ke seberang. 

Di sana Sal menyaksikan dengan cemas bayinya berada dalam taruhan yang amat berbahaya. Sal menjerit- jerit. Dia merengkuh bayi itu ke dadanya sesegera mungkin setelah Mbok Makri mendarat. Mulut bayi itu dia lekatkan ke puting susu, dan diam. Dan, ya Tuhan, ternyata Mbok Makri menyeberang lagi untuk mengambil si Limun yang membawa bekal nasi sayur buat Kang Mad. 

Rumah keluarga Makri terpencil di batas hutan jati. Sal dibawa ke sana dan diminta tinggal sampai Kang Mad ditemukan. 

”Saya akan menemukan suamimu. Saya tahu tempat-tempat rahasia para pejuang di hutan jati,” kata Mbok Makri. ”Sekarang urus dulu bayimu dengan baik di sini. Lihat bayimu sudah amat kurus dan kudis memenuhi kulit sampai ke pelupuk mata. Kamu berhari-hari tidak memandikannya. Kamu tega? Bagaimana kalau bayimu mati karena terus kamu bawa-bawa sambil mencari suami? Ah, saya tidak tega. Maka dengar ini. Karena merasa amat kasihan, hari ini saya jadikan bayimu sebagai anak akuanku.” 

Untuk kali pertama sejak dua hari, Sal menatap bayinya sepenuh perhatian. Sal menangis lagi. O, Mbok Makri benar, bayiku amat kurus dan kudisan. Air mata Sal meleleh. Dia merasa sangat bersalah telah menelantarkan bayinya. 

Sampai tengah malam di rumah bambu keluarga Makri yang terpencil di tepi hutan jati, Sal tidak bisa memejamkan mata. Namun menjelang dini hari dia mendengar suara burung bence yang melintas di langit malam. Sal dan semua orang Dukuh Kidul selalu percaya itu pertanda ada orang bergerak dalam gelap. Sal menunggu dengan hati gemetar. Siapa bergerak di luar sana? Kang Mad atau Juned? Tak lama kemudian Sal mendengar ada suara garukan di dinding bambu di luar bilik. O, Sal tahu itu aba-aba sandi Kang Mad! Sal gemetar karena gembira. Mbok Makri dan suaminya bangun, tetapi semua berlangsung dalam kelengangan.

Hanya ada satu pelita amat kecil. Kang Mad masuk merangkul Sal dan mengelus kepalanya dengan tangan kiri. Tangan kanan terbalut perban putih dan bau obat. Kang Mad bilang, pasukan gerilya di hutan jati sudah merawatnya. Kata mereka, Kang Mad masih beruntung karena peluru hanya merobek kulit tangan kanan. Memang ada urat yang putus sehingga darah banyak keluar dan mungkin jari tengah, jari manis dan kelingkingnya tidak akan bisa digerakkan lagi. 

”Kamu lapar, Kang? Kamu lapar, Kang? Saya bawa nasi untukmu. Makan ya, Kang?” ujar Sal penuh semangat. Dia bergerak mengambil buntalan yang dibawa dari rumah sejak kemarin. Namun ketika dia buka nasi itu sudah bau karena basi. Sal tertegun, menunduk dan matanya berkaca-kaca. Dia singkirkan bungkus nasi itu sambil mengusap air mata. Karena tahu Sal amat sedih, Kang Mad menghibur istrinya dengan kata-kata lembut.

Kang Mad, Sal, dan bayinya malam tidur di rumah keluarga Makri. Aman karena sesungguhnya Juned dan beberapa teman gerilya berjaga di sekitar. Dan menjelang tengah hari ada orang Dukuh Kidul menyusul dengan membawa ketiga anak Sal yang lain. Namun berita yang dibawa orang itu membuat Sal dan Kang Mad membeku. Wajah Kang Mad merah padam dan urat rahangnya menegang. Sal menunduk dengan wajah pucat. Orang Dukuh Kidul itu membawa berita, rumah Kang Mad dibakar habis oleh pasukan Belanda.

***
Tanggal 19 Desember 1949 Belanda baru mau mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Perang pun usai. Kang Mad membawa Sal dan keempat anaknya turun gunung kembali ke Dukuh Kidul. Dia bangun rumah kecil dari kayu dan bambu di atas puing-puing rumah lama yang sudah menjadi abu. Sal kembali bertani dan berjualan nasi rames di pasar.

Kang Mad menjadi pamong desa urusan keamanan. Mereka hidup seperti padi atau ketela yang tetap hidup di Dukuh Kidul. Dalam kehidupan yang amat panjang, Sal dan Kang Mad tidak pernah mengerti mereka telah memberikan makna berupa darah, air mata, dan rumah yang menjadi abu. Sampai meninggal puluhan tahun kemudian, mereka juga tidak pernah ingin mengerti bagaimana keadaan negara. 

Tahun 1951 Kantun dan keluarganya pindah ke tanah belantara di Lampung. Kepindahan itu ternyata hanya untuk memboyong kemiskinan yang sudah berlangsung turun-temurun. Riwayat keluarga Kantun hilang di tengah rimba. Santoyib yang telah memberikan nyawa tak pernah disebut namanya dalam setiap upacara peringatan Hari Kemerdekaan di Dukuh Kidul. Bahkan hari ini dua cucu Santoyib sedang antre di balai desa. Mereka akan menebus sepuluh kilo beras miskin yang bermutu rendah. Beras itu dijual oleh negara, beruntung dengan harga subsidi. (44)


Ahmad Tohari adalah penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, tinggal di Jatilawang, Banyumas.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Tohari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 12 Maret 2017


0 Response to "Alkisah Sal Mencari Kang Mad"