Aroma Laut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aroma Laut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:06 Rating: 4,5

Aroma Laut

AROMA laut yang begitu khas kembali menguar lembut terbawa semilir angin Lagi, sambil berdiri menghadap arah selatan, lelaki muda itu menghirup aroma laut yang entah mengapa terasa asin meruangi rongga hidung. Lelak itu memejamkan kelopan mata sementara benaknya dipenuhi memori kenangan bersama Mira. Acap ia kembali teringat gadis SMA yang memiliki sepasang amta sebening kelereng itu, perasaan bersalah sekonyong-konyong menyeruak dan menyesakkan dada. Ah, andai waktu bisa diputar ke belakang, ia pasti langsung mengiyakan ajakan Mira ke laut.

Masih terasa hangat dalam lembar memori ingatan lelaki itu, ketika sebulan lalu, tepatnya hari Minggu pagi, Mira merengek minta diantar ke laut. 

”Ayolah Kak Bagja, anterin  Mira ke laut.“

”Kakak lagi sibuk, Mira. Banyak tugas kuliah yang belum kelar Minggu depan saja, ya.“

”Mira maunya hari ini, Kak. Sudah nyaris setahun Mira nggak ke laut. Mira kangen ingin bermain air laut.“

”Dilarang berenang di laut, Mira.“

”Siapa juga yang mau berenang,Kak. Mira kan hanya mau ngoyor bermain air di tepi laut sambil membuat istana pasir.“

Mendengar istana pasir, Bagja seketika teringat kenangan masa kecilnya yang begitu indah bersama Mira. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia bersama adik bungsunya itu, setiap hari libur selalu diajak ayah ke laut. Bagja juga masih ingat, saat ia merengek sampai menangis pada ayah, agar diperbolehkan berenang di laut .

”Kamu lihat papan besar itu?“ kata ayah dengan sorot mata lembut.

”Di-la-ra-ng man-di-di-la-ut. Ber-ba-ha-ya.“ Mira yang waktu itu tengah asyik bermain istana pasir sendirian di dekat ayah, tiba-tiba berbdiri sambil memandang papan besar itu sementara bibir mungilnya mengeja tulisan dengan huruf kapital warna hitam yang sebagian warnanya sudah memudar.

”Kak Bagja, mending kita main istana pasir saja, yuk?“ kata Mira sambil menatap kakak lelakinya.
Istana pasir. Ah, kata-kata itu saat ini kerap berpendar di memori ingatannya. Lagi, Bagja terkenang pada adik bungsunya yang kini telah tiada. Semilir angin laut yang datang dari arah selatan kembali menguarkan aroma khas laut yang datang dari arah selatan kembali menguarkan aroma khas laut. Bagja memejamkan kedua kelopak matanya sambil menghidu aroma khasnya perlahan. Bayangan Mira tiba-tiba menari dalam benak, membuat ia tersenyum spontan. 

”Kak Bagja.“ 

Kelopak mata Bagja terbuka spontan. Kepalanya langsung tegak saat mendengar suara seseorang menyapa dirinya. Suara yang sangat ia kenali. Lekas ia menolehkan wajah ke sumber suara yang ia yakini berasal dari samping kanan.

”Mira?“ Bagja tercekat luar biasa saat melihat sosok di sebelahnya masih segar bugar. Gadis bermata  sejernih kelereng itu tersenyum manis. 

”Kak, kita main istana pasir kayak dulu, yuk?“ ajak Mira sambil mengabaikan tatapan Bagja yang masih tercekat tak percaya.

***
”BAGJA! Pegang tangan Ayah kuat-kuat!“ teriak ayah yang tengah berjuang keras menggapai tangan putranya yang barusan terseret ombak laut. Dengan raut pasi, Bagja meraih dan mencengkeram kuat-kuat tangan ayah.

Dengan mengeluarkan semua tenaga, akhirnya ayah berhasil menyeret Bagja ke tepi laut. Nyaris saja Bagja terseret ombak besar. Beruntung ayah tak terlambat datang.

Kejadian tersebut bermula ketika pagi itu tak biasanya Bagja mengajak ayah ke laut. Tentu saja ayah tahu alasannya meski Bagja tak menanyakannya. Pikir ayah, Bagja pasti ingin mengenak kebersamaan dengan adiknya.

Ayah langsung tersentak dan segera berlari saat mendengar beberapa orang berteriak panik sambil menunjuk ke arah laut.

”Ada orang tenggelam! Tolooongg!“

Ayah kaget tak kepalang saat melihat sosok yang sangat ia kenali sedang berjuang melawan arus ombak. Ayah langsung memburu ke arah ombak besar untuk menyelamatkan sosok itu.

***
Di tepi laut, ayah mendekap tubuh Bagja erat-erat.

Begitu juga Bagja yang memeluk ayah seolah tak mau melepaskannya. ”Ngger, Ngger....“ Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir ayah. Kata yang bisa mewakili bahwa ayah sangat menyayangi anaknya dan tak ingin kehilangan untuk kali kedua. kepergian Mira sebulan lalu masih menyisakan kesedihan mendalam di hati ayah. Mira terseret ombak saat sedang bermain air laut bersama Widya, tetangga yang juga teman sekolahnya.

Bagja teringat beberapa menit lalu bertemu Mira dan langsung mengajaknya bermain istana pasri. Saking asyik bermain, tak menyadari ombak besar laut yang datang tiba-tiba dan menyeret tubuhnya. Seketika itu juga sosok Mira lenyap dari pandangan Bagja.  


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 12 Maret 2017

0 Response to "Aroma Laut"