Arya Dwi Pangga - Jaka Tarub - Nawang Wulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Arya Dwi Pangga - Jaka Tarub - Nawang Wulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:21 Rating: 4,5

Arya Dwi Pangga - Jaka Tarub - Nawang Wulan

Arya Dwi Pangga

oh arya dwi pangga
hari ini nganga luka semakin dipuja.

syair-syair berlayar dalam lautan air mata
bahagia dan luka sama makna.

kawah-kawah makma gunung berapi digali
punguasa bilang itu minyak bumi.

perempuan-perempuan cantik bisa dibeli
dan bila bunting luar nikah bukan aib lagi.

bunga-bunga mekar minta tumbal
anak-anak lahir bertubuh comberan.

di suatu pagi burung perkutut berkicau
di putar di cafe-cafe melalui rekaman cd.

dan harta makin edan diperebutkan
tapi bukan melalui pedang atau perang.

semua itu diperebutkan melalui teori
yang diajarkan di dunia pendidikan.

oh arya dwi pangga
kau yang pernah mabuk dalam luka.

kau yang lama bertapa dalam goa
kau yang sakti dalam bahasa.

pelangi itu masih muncul di langit kurawan
tapi warna indahnya sudah buatan.

maka kirimkan pangeran kegelapan(Mu)
bangkitlah kau dalam syairku,

biar dendammu pada nasib makin abadi
seperti yang kau tulis dalam syair tempo hari.

dan itu terjadi sebelum dan sesudah
aku menulis sajak ini.

Yogyakarta 2016


Jaka Tarub

nawang wulan
benarkah kau sudah siap meninggalkan ini bumi?

lihatlah bumi partiwi yang pernah kau singgahi
sawah yang kau tanami sungai-sungai
sekarang ditumbuhi aspal.

padi-padinya hangus dibakar matari
anak-anak kelaparan sepanjang hari
sumur-sumur mengeluarkan gas bumi.

jangan pura-pura tuli nawang wulan
jangan pura-pura tak mendengar
panggilan pendekar tak pernah kesasar.

bukankah tempat mandimu dulu
di sungai aspal ini,
sewaktu alam masih diyakini sebagai Tuhan?

maka datanglah, penuhi panggilan ini.

Yogyakarta, 2016

Nawang Wulan

jaka tarub, cintaku pada bumi pertiwi masihlah hijau
di musim kemarau dan penghujan zikirku menggema
di langitmu, di langitku.

kita masihlah hidup di bawah langit yang sama.
langit yang
menampung segala kemungkinan-kemungkinan.

kita masih berpijak di tanah yang sama,
tanah air mata
yang diwarnai darah,
mengucur deras dari tubuh sejarah.

sejarah yang mendidik anak-anak kita
menjadi manusia pintar
yang mengatakan; menjadi petani
adalah pekerjaan tak patut dipertahankan.

padahal perut mereka masih kenyang melalui padi
yang dihasilkan oleh jerit tangis kaum petani
yang mereka nistakan.
lantas, siapa kiranya yang patut kau salahkan?

Yogyakarta 2016



Sengat Ibrahim, lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Menulis puisi dan cerita pendek. Sekarang tinggal di Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 19 Maret 2017

0 Response to "Arya Dwi Pangga - Jaka Tarub - Nawang Wulan"