Awas, Kau Bisa Jadi Babi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Awas, Kau Bisa Jadi Babi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:35 Rating: 4,5

Awas, Kau Bisa Jadi Babi

BIBI Sarah berteriak, “Sandi, pulang! Terlalu lama bermain dengan anak itu, lihat saja, besok pagi kamu jadi babi!” Itu terjadi sore kemarin, saat dia bermain gundu di tanah lapang berdebu bersama Benny. Benny teman terbaik bertubuh gempal, berkulit kuning kemerahan, dan bermata tak selebar matanya.

Dia marah, tapi takut. Tidak terima, tapi nyalinya ciut. Maka meski dadanya seperti dimasuki batu, dia menurut. Dia pulang, sebelum petang. Meninggalkan Benny yang beraut muka tegang.

“Maafkan bibiku ya, Ben,” bisik dia.

Benny satu-satunya teman di kompleks perumahan yang hampir setahun ini dia tinggali. Kalau berpikir dia tak punya banyak teman karena pemalu, kau salah. Sebelum pindah ke perumahan ini, di kampung dia kenal baik semua anak seusia. Bahkan dia biasa bermain bersama beberapa anak yang empat-lima tahun lebih tua.

Dia cukup supel. Tak sulit bagi dia mendapat teman di lingkungan baru.

Hari pertama pindah, dia punya cukup banyak teman baru. Waktu baru turun dari mobil, dia melihat sekelompok anak sebaya bermain kelereng di sepetak tanah yang dinaungi sebatang pohon kersen. Dia menghampiri mereka dan memperkenalkan diri.

“Hai, aku Sandi, baru pindah ke sini. Boleh aku ikut bermain?” dia bertanya sambil menunjukkan segenggam kelereng dari kantong celana.

Musim kelereng. Kebiasaan anakanak, selalu membawa kelereng ke mana pun pergi. Itu untuk berjaga-jaga jika ada yang menantang adu gundu. Sepulang sekolah, jika bosan melawan anak sekampung, mereka menyambangi kampung lain untuk mencari lawan.

Mereka, anak-anak yang kali pertama dia jumpai di lingkungan baru, membolehkan dia bermain setelah memperkenalkan diri satu per satu: Rahman, Noval, Joni, Rifat, dan Aldi. Hanya butuh satu lemparan kelereng dia sudah akrab dengan mereka, tertawa bersama. Apalagi mereka sangat mengenal Bibi Sarah.

“Oh, kamu keponakan Bibi Sarah? Beruntung sekali kamu tinggal dengan Bibi Sarah. Kamu akan makan enak setiap hari,” ujar Rahman bersemangat.

Bibi Sarah buka warung makan di rumah. Rahman bilang jika ibu atau pembantu mereka tak sempat membuat lauk untuk sarapan, anak-anak terbiasa membeli di warung Bibi Sarah. Mereka amat menyukai Bibi Sarah yang sering memberi bonus.

“Bibi Sarah memang baik,” ucap Joni semringah. “Tadi pagi, saat beli telur dadar, aku diberi bonus sosis goreng.”

“Ya, Bibi Sarah memang baik. Bibi Sarahku,” pikir dia waktu itu.

Setelah cukup lama tenggelam dalam keasyikan bermain, dia melihat seorang anak bertubuh gempal berjongkok di tepian jalan, kira-kira 10 meter dari tempat mereka bermain. Rupanya anak itu juga sedang main kelereng. Sendirian. Kepalanya tertunduk, tetapi dia masih bisa melihat tak ada senyum di wajah bulatnya. Tiba-tiba bocah itu mendongak. Mereka bertatapan. Dia tersenyum. Bocah itu tidak. Dia melambaikan tangan. Bocah itu mengernyit. “Hei, kemarilah. Bermainlah bersama kami!” seru dia.

Mendengar seruan itu, kelima teman barunya saling tatap. Mereka saling berbisik, entah soal apa.

“Hei, kenapa kauajak dia? Dia kan…,” desis Aldi.

Dia terheran. “Kenapa?”

“Dia… tak sama dengan kita.”

“Hah? Tidak sama bagaimana?”

Belum sempat ada yang menjawab, si gempal sudah berdiri di hadapannya. Kelima teman barunya tanpa komando serempak mundur teratur. Buyar. Meninggalkan mereka.

“Maafkan aku,” bocah itu berucap lemah sambil menunduk, tak percaya diri.

Dia menghela napas. Tak habis pikir. Dia memandangi lima teman barunya yang menjauh tanpa menoleh.

“Aku Sandi. Kamu siapa?”

“Maafkan aku….”

“Tak apa. Bukan salahmu. Siapa namamu?”

“Benny.”

***
Selepas salat magrib, anak-anak kompleks (kalau tak salah ada 15 anak) bergerombol di pelataran masjid. Mereka mengerubuti dia. Anak baru seperti dia mudah menarik perhatian. Mereka berkenalan.

Waktu itu, tanpa bertanya pada siapa pun, setelah melihat sekeliling, dia tahu perbedaan mereka dan Benny: Benny tak ke masjid. Belakangan dia tahu Benny dan orang tuanya beribadah di kelenteng.

“Anak gendut bermata sipit itu… dia tak punya teman. Kau jangan berteman dengan dia,” ucap Noval dengan nada rada memerintah.

Dia diam, tak mengerti. Ada apa dengan mereka?

Dengan wajah serius Rifat menambahi, “Kau tahu… dia berbeda dari kita. Dia tak ke masjid.”

“Aku tak mengerti. Apa masalahnya jika Benny tak beribadah di masjid? Mungkin dia beribadah di tempat lain bukan?” sergah dia.

“Kata ibuku, kalau terlalu akrab dengan dia, kita bisa berubah jadi babi.”

Sampai di rumah, dia mengadu pada Bibi Sarah. Jawaban Bibi Sarah membuat dia terperangah.

“Betul kata mereka. Kamu tak usah bermain dengan si gendut itu.”

“Benny, Bibi.”

“Iya, siapalah itu…. Kamu bermain dengan anak-anak lain saja.”

“Kenapa?”

Bibi Sarah mengangkat bahu, lalu meninggalkan dia. Kembali dia diam, tak mengerti. Mungkin selamanya tak pernah mengerti.

Bibi Sarah kenapa?

Jika seorang anak dianggap nakal karena tak mematuhi orang yang memberi makan dan tempat tinggal, dia pun telah menjadi anak nakal karena tak mematuhi Bibi Sarah. Tanpa setahu Bibi Sarah, dia telah berteman akrab dengan Benny, meski karena itu dia dijauhi anak-anak lain.

Dia merasa tak masalah anak lain tak mau berteman. Bagi dia, nilai Benny sebagai teman jauh lebih tinggi ketimbang nilai gabungan seluruh anak di kompleks sekalipun.

Benny lucu dan menyenangkan. Dia heran kenapa anak lain tak mau berteman. Memang jika kau belum kenal, Benny seperti pemurung. Namun jika telah akrab, penilaianmu berubah. Benny sering melucu, sampai membuat dia terpingkal-pingkal.

Saat membantu dia mengerjakan PR IPS tentang berbagai jenis batuan dan logam (tentu mereka tidak sedang di rumah Bibi Sarah), tiba-tiba Benny mengeluh. “Ah, coba soal-soal ini berbahasa Mandarin… tentu aku bisa membantumu.”

“Ha-ha-ha. Jangan mengadaada….”

“Eh, aku serius. Begini. Tahu nggak apa bahasa Mandarin logam berbahaya?”

Dahinya berkerut. Ucapan Benny tak jelas juntrungannya.

“Ya, mana kutahu? Aku kan tak bisa bahasa Mandarin,” jawab dia agak sewot.

Benny tersenyumsenyum. Matanya makin sipit. Lalu, sambil bergaya ala Kera Sakti tiba-tiba dia berkata, “Cuilan seng.”

Dia terpingkal-pingkal. Lelucon kodian itu jadi lucu karena Benny yang menyampaikan. Dia terbahak. Lucu sekali. Air matanya keluar.

Orang tua Benny, sama seperti Bibi Sarah, punya warung makan. Namun warung itu lumayan jauh dari kompleks perumahan. Perlu waktu hampir satu jam bersepeda untuk sampai ke sana. Waktu dia bertanya kenapa tak memilih lokasi yang dekat saja, Benny menjawab, ìKata Ayah, makanan yang kami jual tak boleh dimakan orang-orang kompleks. Akan jadi masalah kalau kami buka warung di sini.î

Benny pernah mengajak dia ke warung itu. Di sana dia berkenalan dengan ayah dan ibu Benny. Mereka terkejut, saat kali pertama Benny mengajak dia. Dia menduga, mungkin itu kali pertama Benny mengajak teman berkulit cokelat.

Dia senang di sana. Warung Benny sangat cantik. Dindingnya dilapisi kertas bergambar aneka karakter kartun lucu. Ayah dan ibu Benny sangat ramah dan memperlakukan dia dengan sangat baik.

Suatu kali, saat warung Benny sepi, liurnya hampir menetes melihat sepiring sate di meja mengepulkan uap sangat wangi. Benny menawari, “Kamu mau? Ambil saja satu, tak apaapa. Nanti kubilang pada Ayah.”

Sebelum dia sempat meraih sate itu, ayah Benny menyela, “Eh, jangan! Sandi tak boleh makan itu. Makan ini saja. Ini sate ayam paling enak di seluruh kota.” Ayah Benny menyodorkan sepiring sate ayam berkuah kacang yang dibeli dari warung sate sebelah.

***
Setelah sekian lama, akhirnya Bibi Sarah tahu juga dia berteman dengan Benny. Suatu sore Bibi Sarah memergoki mereka bermain kelereng. Bibi Sarah marah. Entah dapat kabar dari mana, akhirnya Bibi Sarah juga tahu dia acap ke warung orang tua Benny.

Dia malu ketika Bibi Sarah melabrak ayah dan ibu Benny. Padahal mereka tak bersalah. Mereka sangat baik. Berkali-ulang dia menjelaskan, tetapi Bibi Sarah tak peduli.

“Kurang ajar kalian! Pasti sudah kalian cekoki keponakanku ini dengan daging babi!”

Bibi Sarah membentak-bentak. Ayah dan ibu Benny tak melawan. “Maafkan kami… maafkan kami,” ucap mereka berulang-ulang.

Sejak saat itu, dia tak pernah lagi bermain dengan Benny. Bibi Sarah mengurung dia di rumah. Dia hanya boleh keluar untuk sekolah.

Sejak saat itu dia membenci Bibi Sarah dan orang-orang sekompleks. Dia merasa berada di neraka.

Namun neraka sesungguhnya ternyata dihuni Benny. Saat itu dia berusia sebelas. Benny pindah dari kompleks perumahan.

Seluruh negeri kacau. Dia tak mengerti apa yang terjadi. Setiap hari ada mobil atau motor dibakar di jalan, kaca dipecahi, gerombolan orang menjerit- jerit di jalanan, menjarah toko. Saking kacau dan mencekam, sekolah diliburkan.

Suatu hari, saat keadaan tak lagi kacau dan mencekam, sepulang sekolah dia tak langsung pulang. Dia bersepeda ke warung Benny. Dia rindu. Setahun lebih dia tak berjumpa mereka. Dia ingin meminta maaf.

Warung makan Benny tak bisa dia kenali lagi. Bangunan dua lantai itu hancur lebur. Kaca pecah berserakan. Dinding hitam-legam.

Dia tahu, bangunan itu telah dilahap api. Namun, aneh, bangunan di kanan-kiri, termasuk warung sate ayam itu, masih utuh. Kukuh. Dia merenung-renung. “Ah, barangkali jadi babi tak terlalu buruk,” batin dia. (44)

Bhakti Persada Indah,
21 Desember 2016

Mazka Hauzan lahir di Cirebon, 12 Desember 1993. Dia bergiat di Perpustakaan Komunitas Al-Falah Semarang seraya menulis puisi dan cerpen. Dia bisa dihubungi via mazkahn65@gmail.com.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mazka Hauzan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 26 Maret 2017


0 Response to "Awas, Kau Bisa Jadi Babi"