Berlatih Jurusjurus Guo Xiang - Olok-olok Buah Utu - Getir Andaliman - Mawar Menamsil Api - Perayaan Pidada - Hikayat Remi - Mneyadur Cempaka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Berlatih Jurusjurus Guo Xiang - Olok-olok Buah Utu - Getir Andaliman - Mawar Menamsil Api - Perayaan Pidada - Hikayat Remi - Mneyadur Cempaka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:53 Rating: 4,5

Berlatih Jurusjurus Guo Xiang - Olok-olok Buah Utu - Getir Andaliman - Mawar Menamsil Api - Perayaan Pidada - Hikayat Remi - Mneyadur Cempaka

Berlatih Jurusjurus Guo Xiang

(1) 
Duduk di beranda 
belum tulis sepatah kata 
lihat seekor arwana perak 
lompat rendah di datar kolam 
percik air dipernis matahari 
spektrum ungu merah 
dalam pikiran jernih 
adalah rumpun lavender 
dan guguran mawar.

(2) 
Angan sepintas 
jadi angin pusar 
melinting daunan mati 
di luar pagar semacam orbit 
bagi rindumu atau 
cuma jaring laba-laba 
nyata di situ 
sehelai kenangan 
telah tertambat.

(3) 
Semua beban kini 
tinggal urat daun 
retak-retak tanah 
jejak gempa di dinding 
hati ini pun ubah iklim 
pada awan-bunglon 
lidah petir menjulur 
anjing menyalak di jauh 
regu merpati bubar 
bulu-bulu rontok itu 
luruh rintik hujan.

(4) 
Sedih sudah balik hari 
seduh teh madu secangkir 
minum pas panas-kuku-matahari 
bau lembap di pekarangan 
hanya umpama bagimu 
tentang penantianmu 
ganti perspektif puisi 
seperti menanam krisan 
di taman kecil.

(5) 
Di lintang kabel telepon
berjongkok burung gereja
berkicau nada tunggu
tak ada halo
ambil rute lalu lintas
macet sejauh ke masa lalu
tertawan hatiku bagai kwatrin
Pagi Musim Semi Meng Haoran.

(6)
Jauhkan gendang inderamu
jauh dari panggung angan ini
sebab belut di liang lumpur itu
tak paham keluh cacing di mata kail
tiada lain makna duka puisi
adalah dusta bagi hatimu.

(7)
Di luar semua itu ingin
hanya duduk dan melihat
warna simpatikmu
pada kulit sejuk lemon
dan manis merah-pucat poppy
dalam wujud seekor kepodang
tanpa menaruh sangkar
semacam tafsir.

(8)
Di hadapanmu
sepasang mata kini
terbayang kuas angin
musim gugur menyapu
rimbun sakura atau
improvisasi Kandinsky
membuat terpaku pikiran
pada phoenix di matahari pagi.

(9) 
Semoga hatimu bukan 
pertanda bintang jatuh 
atau menduga-duga 
seucap angin menyeru 
dari luar pintu 
nyata atau ilusi 
keluar dan tatap 
itu ilalang atau 
rumpun lembang.

(10) 
Berpaling dari beranda 
isyarat kehadiran senja 
pada gunung kau semata 
kabut meninggi 
pada laut aku sekadar renung 
menjala sejumlah kata 
sebab kesepian begini 
beri kita petualangan batin.

2016

Olok-olok Buah Utu

Kau keturunan silang kacang nangka,
dan getah cempedak
dicampak jauh ke ladang jiran -
ara berteh paya

Di batas rimba Serawak
kerabatmu tertinggal jadi pejatai
lain di hutan Jawa, saat codot
menebarnya malah jadi buru ongko.

Semisal sukun yang cuma gabus
kau diolok-olok
buah kepala benjol anak kecil
dari indung yang serong;
usai dipinang sirih
ditendang talak kemudian.

Meski manis saat jamuan
nasibmu tak jauh dari getah,
tak luput dari sekadar pencuci mulut.

Kau mengira, muasal moyangmu
bagai mukjizat kacang-meteor
jatuh saat langit subuh.

2017

Menyadur Cempaka

Dari tangan Ibrahim Abduh 
kuanggit kembali jejak parfummu 
dari setangkai hikayat Jeumpa 
kerajaan yang ditinggal dan 
dilafal jadi Champa oleh Jawa.

Namun Raffles mendakwa 
bukan di Kamboja atau Vietnam 
melainkan di pinggir sungai Peudada 
sampai Pante Krueng Peusangan Timur.

Maka kususur menuruti aba-aba angin 
dan gema gita Bungong Jeumpa 
di nagari bukit yang menggait hatiku 
serupa Maharaj Syahriar Salman 
berpaling dari rombongan niaga 
demi Mayang Seludang, kini 
menahan aku yang kemabukan 
menyadur kau untuk seikat puisi.

2017

Getir Andaliman

Basuh aku dengan percik air matamu.
Rindu akan menjentik jarum waktu
sebelum tulang usiamu bungkuk
atau tiang-tiang rumah mulai lapuk.

Ingatlah hal ini, bukan dengan hati pedih,
bukan juga kenangan bagi si mardan
yang lupa rahim kampung halaman.
Maka izinkan selat itu kuseberangi

meski kelapa diparut berkali-kali, meski sedap
kuah sayur daun tumbuk tak jua habis
mengenangmu bermangkuk-mangkuk.
Di lambungku telah kekal jerih-garammu

juga babiat yang menggaris silsilah, hulu ke hilir
yang diwarisi ayah ke jantungku dan
jejaknya bersarang. Tetapi kau menghalau
setenang suara ragu: hidup sama artinya

menghadapi pemburu. Sesaat aku tertahan,
ada sisa getir andaliman di lidah. Di jalan
setapak itu, yang berpasir atau berdebu
terluncur kakiku bagai beban seekor lembu

seakan kersik abu padi di piring melamin
digosok tanganmu yang dingin
memisahkan jamuan dari meja makan
melepaskan aku dari sebuah ucapan.

2016

Mawar Menamsil Api

Kita sama mekar
tapi tak serupa gelagat

Hasratku bernyali pekat
didampingi genggam si pelamar.
Kau cuma gejolak yang tipis
itu pun dijauhi jamah tangan.

Aku dibayang-bayangi lambang
atau merenungi sebuah jambang
tak seperti kau berperan besar
mengusir pedagang-pedagang
dari pasar lama

Tubuhku dipangkas bugil
dari onakku yang mengoyak
sebab ulu hati dan jemari
hanya tipis selaput

Kau sengat duri itu sendiri
berselubung dalam nyalamu
tapi tak terlepas dari lenguh
padam oleh regu pemadam

Aku dipecah-pecah duka
di samping percikan air mata
saat disentuh hari pemakaman

Dan kau wujud kecurangan
di balikasap di hutan raya
yang berderak-derak
merambah pohon-pohon

2016

Perayaan Pidada
Kegembiraan yang sebentar
di antara gerimis di halaman
malam di langit Desember;

Kau membuka payung
hati kita telanjur mekar
bagai tangkai sari pidada -
kembang api di detik awal Januari

Kuncup payung di tanganmu -
kegembiraan kunang-kunang
perlahan disembunyikan ingatan

Kau adalah jarak di luar kenangan;
aku ranting, tak bisa menjangkau
liku sungai dalam hatimu

2017

Hikayat Remi


Ini bukan dua tiga notasi pada piano
ini adalah segepok kartu taruhan;
52 helai berbilang pekan ke pekan
bagi kita melipur diri di suatu meja
lepas dari rantai kerja hari-hari.





Kita tak suah tahu, unggul atau masygul
misalkan dua kartu sekop di tanganmu
gagal seri, teringat waru di jalan ke rumah
disapu angin maut musim dingin, kau
meringkuk di tangan si penggali kubur.





Cinderahati tak sekadar organ tubuh
melainkan hati-hati pada raut tipuan
yang pandai meniru gadis pesolek itu
nanti kau bisa merengek tak menentu
hingga jatuh di pelukan waktu melulu.






Nasib buntung tak kerap tersandung
pikirmu mesti sigap mengganti taktik
lihat itu daun-daun di ranting musim semi
atau kaca-kaca pelangi dari bias berlian
yang membangkitkan hati riang wajik.






Sampai jarum jam memutar ke siang
kesempatan menangmu kian keriting
meski berlarat-larat kau berdalih tenang
tak sekali pun kau suang menimpal nasib
untuk menangkal panas sindiran lawan.

2017



Nermi Silaban lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 17 Juli 1987. Menulis cerpen dan puisi. Sedang menyiapkan buku puisi pertamanya, Bekal Kunjungan.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nermi Silaba
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 11 Maret 2017


0 Response to "Berlatih Jurusjurus Guo Xiang - Olok-olok Buah Utu - Getir Andaliman - Mawar Menamsil Api - Perayaan Pidada - Hikayat Remi - Mneyadur Cempaka"