Bersimpuh di Seribu Subuh - Jalan Sunyi - Hujan Saat Kematian Menjemput - Bermuka-muka Dengan Maut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Bersimpuh di Seribu Subuh - Jalan Sunyi - Hujan Saat Kematian Menjemput - Bermuka-muka Dengan Maut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:54 Rating: 4,5

Bersimpuh di Seribu Subuh - Jalan Sunyi - Hujan Saat Kematian Menjemput - Bermuka-muka Dengan Maut

Bersimpuh di Seribu Subuh

aku ingin telimpuh hingga lumpuh
sampai simpuh sujud ini Kau peluk:
"sudah aku lawatkan pasrah patuh
lewat beribu subuh zikir berduka, wirid
syair yang bulirkan air mata

duhai, basulah segala peluh, hisaplah 
segala peluh!"

aku terus bersimpuh tetap terlimpuh
hingga lumpuh
"Kau lihatlah kututku lunglai beringsut,
menggelepar seperti ikan terjerat kailMu"
seribu subuh aku tetap telimpuh hingga
lumpuh
kupukul-pukulkan kening untuk tabuh
memohon simpuh

Jalan Sunyi

pohon-pohon tanpa daun berderet
sepanjang jalan
ranting-rantingnya merangas lukai
wajah rembulan

musim apa ini?
seperti juga musim yang lain
terseok-seok bergegas ke kubur
kemudian setiap orang
akan memberi tanda
mungkin dengan tunas kamboja
atau epitaf pada nisan bercat kusam

di luar ruumah
entah di kejauhan mana terdengar
suara radio
di sela gonggong anjing dan geram
kucing
berkabar tentang jalan sunyi
tentang mimpi yang menguap menjelang pagi

Hujan  Saat Kematian Menjemput

tuliskan puisi terakhirmu. Aku paham
ia akan menutup mataku dengan secarik kain
warna kuning lalu angin jadi semerbak
kamboja. hujan jadi bengis yang wingit

aku tak bisa menulis walau cuma sebaris
kalimat. sungguh, bukan karena miris
hanya sebab kesedihan-kesedihan cengeng 
mengenang waktu yang tiras menipis.

seperti kabar lain yang tak pernah penting,
ultimatum itu pun hanya bunyi jari
diketuk-ketukkan pada lingir meja
saat menunggu pelayan menghidangkan
secangkir kopi yang segera lunas
untuk menunda kantuk yang sekarat

aku tak ingin berbantah.
Bukankah sejarah lebih butuh mitos dibanding peristiwa?
aku tak ingin bercakap apa pun juga,
apalagi merundingkan sepakat yang rumit
bukankah hujan telah turun; saat yang disabdakan
sebagai sebuah penanda untukku

tuliskan puisi terakhirmu. tapi aku tak 
menulis apa-apa. tidak saut abjad pun. 
segala kemungkinan bisa terhempas
dari ketinggian, seperti juga waktu
yang kehilangan arlojinya hingga detak
yang senyap tak lagi sanggup disimak
suma hanya bisa diduga

aku tak pernah berharap pertanyaan-pertanyaan:
dari mana asalmu dan arah mana yang kau tuju?
aku menolak keramah-tamahan itu, sebab di baliknya
senyum selalu khianat
aku cuma ingin berkabar bahwa cinta
dan curiga selalu membuat murung
dan berkabung

tuliskan puisi terakhirmu. angin jadi semerbak
kamboja, hujan jadi bengis yang wingit
baiklah, tanganku akan meraba menunjuk
surga neraka mana aku akan berselimut

Bermuka-muka Dengan Maut

hujan reda. aku tak ingin berbantah
mengapa waktu tak terusik
oleh kesedihan-kesedihan yang
melahirkan air mata
sebab usia tumbuh memanjang
menuju keropos

semuanya kembali ke arah kehilangan
ke sebuah pulau teka-teki samar oleh
kabut ketakpastian

hujan reda, malaikat berparang
menyusup ke pesta
mabuk dan mengajak berjoget semalaman.
lantas menikam nasib pun sembunyi di ketiak sial.
hari habis
semua mengelupas seperti penyu
copot dari cangkangnya
segala bahasa cuma igau riuh yang
gagal mengikat makna

hujan reda, tapi malaikat berparang itu
telah tiba
aku dan engkau cuma cacing terjepit
kerikil
sisa yang lunglai!


Tjahjono Widarmanto. Tinggal di Ngawi. Buku puisinya Percakapan Tentang Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak, merupakan salah satu pemenang buku puisi 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 5 Maret 2017

0 Response to "Bersimpuh di Seribu Subuh - Jalan Sunyi - Hujan Saat Kematian Menjemput - Bermuka-muka Dengan Maut"