Bude Mei | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bude Mei Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:24 Rating: 4,5

Bude Mei

SEMENJAK dulu Bude Mei menjadi misteri bagiku. Ia laksana sosok di balik kaca berembun: ada, hidup, namun tak jelas jati dirinya. Sesuatu dalam dirinya tak bisa kubaca, membuatku selalu bertanya-tanya.

“Kenapa Bude Mei aneh, Bu? Dia ndak sama seperti kita ….”

“Huusss! Kamu ini, ndak boleh ngomong gitu ah,” jawab ibuku.

Aku teringat percakapan saat aku berusia 7 atau 8 tahun itu. Mata kanak-kanakku menangkap perbedaan pada diri Bude Mei. Kulitnya putih, berbeda dengan kulit kami yang sawo matang. Rambutnya hitam legam dan lurus, hidungnya tinggi dan mancung. Matanya pun berbeda, sipit dengan ujung-ujung luarnya agak menaik ke arah ujung alis. Tak ada yang seperti dirinya dalam keluarga kami. Saat keluarga besar kami berkumpul dalam perayaan hari raya, perbedaan antara Bude Mei dan kami amat benderang. Sosoknya yang lencir berkulit seputih lobak dengan mata sipit yang panjang, bibir kemerahan, plus rambut legamnya yang sangat lurus itu seolah menegaskan bahwa ia datang dari dunia yang berlainan dengan kami. Meski demikian, ia adalah kesayangan kakek dan nenekku. Begitu yang dikatakan Ibu padaku.

“Dari kecil Bude Mei sangat rajin. Meski jarang bicara, ia ringan tangan membantu siapa saja. Bude Mei itu pintar cari uang sejak SD. Ia pintar membuat kue, dan tak malu dengan menjualnya sendiri dengan cara dititipkan ke warung-warung. Sebagian uangnya ditabung, sebagian lagi dibelikan hadiah-hadiah kecil untuk ibumu ini dan Bu Lik Ambar,” cerita ibuku.

“Apa Bude Mei benar-benar kakak Ibu? Kok kulitnya putih sekali. Kata orang-orang, Bude Mei bukan orang Jawa seperti kita, tapi orang Cina. Apa itu betul, Bu?” selidikku. Ibuku hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku saat itu.

“Ah, kamu ini memang kritis. Bude Mei itu kakak Ibu. Waktu Ibu lahir, Bude Mei sudah berusia 7 tahun. Memang kulitnya putih dan matanya sipit, tapi dia tetap anak kakek dan nenekmu. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti, Nak,” jelas ibuku dengan suara manis.

Sementara aku menyimpan banyak pertanyaan tentang Bude Mei, kedua kakakku tampak tak terusik dengan perbedaan itu. “Bude memang berbeda, tapi dia tetap Bude kita, kakak Ibu,” kata Mas Kresna, kakak tertuaku. Jawaban dari Mbak Retno pun serupa dengan kalimat Ibu. “Nanti kalau sudah besar kamu akan mengerti,” katanya. Bagaimana dengan Ayah? Ah, ayahku yang sibuk itu sambil tertawa kecil malah menyuruhku menanyakannya langsung pada Bude Mei setiap kali aku mengutarakan rasa penasaranku. Eyang Ti? Hm, mana berani aku mengganggu nenekku yang kian memburuk kesehatannya sepeninggal kakekku dengan pertanyaan-pertanyaan ceriwisku. Lagi pula beliau tinggal di luar kota bersama Bu Lik Ambar dan keluarganya.

Suatu hari ketika rasa ingin tahuku sudah tak tertahankan lagi, kuhampiri Bude Mei yang tengah tekun menyulam. Kedua tangannya yang berjemari panjang itu selalu saja sibuk mengerjakan sesuatu.

“Bude Mei …” sapaku gamang. Aku takut ia marah. Bude Mei menoleh. “Ya?” sahutnya. Suaranya lembut, namun sorot matanya yang tajam membuatku sempat ragu. Kupaksa diriku untuk bertanya.

“Kenapa kulit Bude bisa putih?” cetusku. Ia menatapku sesaat sebelum menjawab. Hatiku berkelenyar. “Ah, itu karena Bude terlalu banyak minum susu waktu kecil,” sahutnya tenang. Sepotong senyum tipis melintas di lekuk bibirnya, lantas matanya kembali jatuh pada sulaman yang sedang ditekuninya. Dalam pandanganku, senyum itu terlihat sedih. Niatku untuk bertanya lagi dengan segera surut. Diam-diam aku undur dari hadapannya. Meninggalkannya bersendiri dengan sunyi dan teka-teki yang menyelubunginya. Sejak itu kupendam dalam-dalam segala rasa penasaranku padanya. Aku akan sabar menunggu hingga aku besar.

***
Hingga aku dewasa, Bude Mei terus tinggal bersama kami di rumah yang diwariskan Eyang Kung dan Eyang Ti pada Ibu. Ia menempati kamar di lantai atas. Kerajaan kecilnya itu tak berani kami masuki secara sembarangan. Bude Mei selalu saja sibuk dengan kue-kue bikinannya yang lezat. Ia menyewa kios kecil di pasar dekat rumah dan berjualan di sana. Dagangannya selalu laris. Dapur kami senantiasa diselimuti harum kue. Aku dan adik-adikku bergantian membantu dengan senang hati karena tahu bakal diganjar kue-kue yang sangat enak itu.

Ketika Ayah tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, Bude Mei tampil sebagai penyokong ekonomi keluarga. Bukan sekali dua kali aku melihat Ibu terisak-isak terharu saat Bude Mei menyelipkan segepok uang ke dalam genggaman ibuku. Maklum, Ayah adalah pegawai negeri kelas menengah. Gajinya hanya pas-pasan menutupi biaya hidup kami bertujuh. Tentu saja Bude Mei tak masuk hitungan, ia punya penghasilan sendiri. Hampir setahun bergulat dengan penyakit komplikasi diabetes dan ginjal, Ayah akhirnya berpulang. Bude Mei, Ibu, dan kami berlima bahu-membahu meneruskan hidup. Aku, Mbak Retno, dan kedua adikku masih sekolah. Perlu biaya tak sedikit. Untunglah Mas Kresna sudah lulus dan telah bekerja sehingga sedikit meringankan beban Ibu dan Bude Mei.

Bude Mei tak pernah menikah. Dulu, ada seorang laki-laki yang sering bertandang ke rumah menemui Bude Mei. Aku menyukainya karena ia ramah dan suka tersenyum, serta kerap membawakan cokelat kesukaanku. Lagi pula, menurutku ia berwajah ganteng. Bude Mei sering tersenyum dan tertawa kecil saat berbincang dengannya. Aku senang mendengar tawanya itu, seperti musik merdu yang menggembirakan hati. Cukup lama juga lelaki itu menjadi bagian kehidupan Bude Mei, hingga suatu hari ia tak pernah lagi muncul di rumah kami. Hari-hari Bude Mei kembali seperti sedia kala. Senyap tanpa tawa kecilnya yang memikat.

Ketika usiaku hampir 17 tahun, akhirnya aku tahu bahwa Bude Mei anak adopsi. Mbok Nah, yang mengabdi pada Eyang Ti selama 30 tahun, secara tak sengaja menceritakannya padaku saat kami sekeluarga nyekar ke makam Eyang Ti di Kota Ambarawa. “Mbak Mei diantarkan seorang tentara kepada Ndoro Putri. Katanya, kampungnya di Kalimantan Barat. Orang Cina. Waktu itu tahun 1964, ada huru-hara besar di sana dan banyak orang mati terbunuh. Mbak Mei diberikan orang tuanya pada si tentara untuk diselamatkan. Seingat Mbok, Mbak Mei baru berumur 5 tahun. Itu saja yang Mbok ingat. Lainnya Mbok ndak ingat lagi,” ungkap Mbok Nah.

Saat kutanyakan hal itu, ibuku hanya tersenyum. “Sudahlah, Ndari. Ndak usah bicara itu lagi. Apa kamu ndak kasihan tho pada Budemu itu? Pasti ia menderita dalam jiwanya. Ibu yakin ia punya sedikit kenangan tentang orang tuanya atau saudara-saudaranya. Hanya saja karena ia masih terlalu kecil, kenangan itu buram. Mungkin sukar dilacak. Atau mungkin ia sengaja tak ingin menelusurinya karena ingat ia diserahkan orang tuanya pada orang asing. Barangkali ia merasa dirinya dibuang, tak dikehendaki lagi. Makanya, ndak usah kamu ungkit-ungkit lagi. Terimalah dia apa adanya. Ia sudah menjadi bagian keluarga kita, bahkan telah banyak membantu kita,” ujar Ibu lembut.

Aku tertegun sesaat. “Maaf, Bu. Aku ingin tahu karena ada sebabnya. Aku ingin membantu Bude menemukan jati dirinya yang sejati. Aku ingin dia bahagia, Bu,” kataku pelan. Ibu menatapku penuh pengertian. “Ibu tahu, Nak. Kamu punya niat yang baik. Tapi barangkali yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah membiarkannya sebagaimana adanya. Sampai Budemu sendiri yang berkehendak menemukan jati dirinya yang sejati ….”

Sejak itu kubuang jauh-jauh keinginanku untuk bertanya macam-macam soal Bude Mei. Aku bertekad menjaga dirinya, serta menyayanginya lebih dari sebelumnya. Menurut Ibu, sejak awal Bude Mei agaknya menyadari perbedaan dirinya dengan ibuku dan Bu Lik Ambar, adik Ibu. Ia mengerti bahwa dirinya hanyalah ‘orang lain’ dalam keluarga kami. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan para tetangga atau orang-orang di sekitar kami yang heran atau ingin tahu akan perbedaan fisik antara Bude Mei dan kami. Pastilah ia amat kesepian. Pastilah sangat menyakitkan menanggung semua perasaan itu sendirian dalam diam.

***
Aku menatap Bude Mei yang tengah asyik mengamati buku resep kue terbaru yang kubelikan untuknya. Ada semacam perasaan haru menjalar dalam hati saat mataku menemukan kian banyak garis halus menghiasi wajahnya, juga helai-helai putih keperakan yang menyeruak di antara legam rambutnya. Ia makin menua, bisikku dalam hati. Bahagiakah ia hidup bersama kami? Apa yang sesungguhnya paling diinginkannya dalam hidup ini? Adakah dirinya merindukan sesuatu atau seseorang? Benarkah ia tak mau lagi mencari jejak keluarga sejatinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelora dalam benakku.

“Andari …” tiba-tiba ia memanggilku sambil matanya tak lepas dari lembaran buku resep.

“Ya, Bude?”

“Bisakah kau mengantarku besok?” Bude Mei lantas menyebut nama jalan yang terkenal dengan toko-toko furnitur antik. Aku mengiyakan meski heran. Tumben, mau apa dia ke sana?

Esoknya kami mendatangi tempat yang dituju Bude Mei. Ia menyapa pegawai toko yang tampaknya sudah mengenalnya dengan baik. Agaknya Bude Mei sudah beberapa kali ke sini. Pegawai itu membawa kami ke bagian dalam. “Ini, Bu, barangnya. Ukurannya 80 x 100 sentimeter,” katanya menunjukkan sebuah cermin persegi dengan bingkai kayu kehitaman. Ukiran berbentuk naga bertengger di bagian atasnya. Naga itu seolah tengah berjalan di atas bingkai. Kepalanya mendongak dan mulutnya menganga. Jemari Bude Mei bergetar saat meraba cermin itu. Air mukanya beriak-riak, matanya berkaca-kaca. Aku terdiam menerka-nerka.

***
Tak ada jawaban saat aku mengetuk pintu kamarnya. Kudorong pintu yang tak terkunci. “Bude, ini kubawakan teh panas,” kataku sambil melangkah masuk. Bude Mei tak menyahut. Ia duduk di depan cermin berukir naga itu seraya menyisir rambut dengan perlahan. Suara gesekan rambut dengan sisir serit kesayangannya terdengar begitu mistis dalam keheningan kamar.

“Dulu kami punya cermin seperti ini. Mama sering berlama-lama bercermin sambil menyisir rambut dengan serit. Aku melihat wajah Mama dan Papaku dalam cermin. Aku ingat …. Aku selalu ingat, Andari …” desisnya seperti tercekat. Sepasang matanya mengalirkan suara kecil. Hatiku bergejolak. Kuhampiri dia, dan kupeluk tubuh kurusnya.

“Aku sangat menyayangimu, Bude. Kami semua menyayangimu,” ujarku bergetar. “Aku tahu, Andari …. Terima kasih,” sahutnya berbisik. Ia balas memelukku. Kami pun runtuh dalam tangis. Di luar, hujan tiba-tiba turun merahmati bumi.***

Jakarta, 2013

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Octaviana Dina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1335/XXVI  23 – 29 September 2013


0 Response to "Bude Mei"