Bukit Cahaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Bukit Cahaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:52 Rating: 4,5

Bukit Cahaya

PADA usia lima tahun, sebagaimana lelaki-lelaki kecil penggemar perkelahian yang lain, kau membayangkan malaikat adalah semut yang mampu menghajar seekor gajah. Tak lama kemudian kau juga membayangkan ia sebagai ulat yang bisa melahap gunung dalam sekali telan. Kau tidak pernah menyangka bisa saja bocah lain menggambarkan malaikat sebagai siput yang memangsa Adam dan Hawa yang sedang tidur lelap. Saat itu kau tidak menangis ketika seorang guru berbisik, "Malaikat itu mirip kuda terbang yang melesat ke langit dan tak pernah kembali."

PADA usia tujuh tahun, setelah mempelajari pendidikan agama dan mendengarkan aneka dongeng, kau ingin sekali menjadi pengendara kuda terbang. Kau pun mencari satwa lucu itu di hutan tak jauh dari perdesaan. Kau tidak menemukan kuda terbang di hutan itu. Setelah dua jam berjalan tak tentu arah, kau malah bertemu dengan perempuan kecil seusiamu.

"Namaku Hujan," kata perempuan kecil itu.

"Namaku Rinai," katamu, "Aku ingin mengendarai kuda terbang. Aku juga ingin mencari cahaya bersama malaikat. Di desaku sudah tak ada lagi cahaya. Apakah kau tahu di mana cahaya disembunyikan?"

"Tentu saja di Bukit Cahaya," perempuan kecil itu menjawab. 

”Aku tak melihat ada bukit di hutan ini.” 

”Kau harus mencari dua hari ke arah barat untuk mendapatkan bukit itu. Pada hari pertama kau akan bertemu dengan sungai jernih dan sepasang kijang. Setengah hari kemudian kau akan bertemu dengan perempuan buta. Setelah itu kau baru bertemu dengan petapa penjaga bukit. Petapa itu yang akan menunjukkan di gua mana cahaya itu disembunyikan.” 

”Apakah kau mau menemaniku mencari bukit itu?” 

”Aku tidak bisa menemanimu. Aku harus segera kembali ke rumahku.” 

”Di mana rumahmu?” 

”Di dalam salah satu telur yang bertebaran di pantai.” 

”Di dalam telur? Telur raksasa?” 

Perempuan kecil itu tidak menjawab pertanyaanmu. Ia merasa kau telah bertanya sebagai pria bongkok yang teramat tua. 

***
”AKU akan meminta kupu-kupuku menemanimu,” kata perempuan kecil itu sambil merogoh saku, ”Naiklah ke punggungnya. Segeralah melesat ke Bukit Cahaya.” 

Kau ragu-ragu. Kau merasa tak mungkin bisa berada di punggung kupu-kupu. 

”Ayo, jangan sampai terlambat!” 

Kau kemudian melompat ke punggung kupu-kupu itu. Kau kaget karena tiba-tiba sudah berada di punggung satwa indah itu. Kau tidak berani mempersoalkan apakah kau yang mengecil atau kupu-kupu yang berubah menjadi raksasa. 

”Mengapa kau ingin mencari cahaya?” kupu-kupu bertanya kepadamu. 

”Karena tanpa cahaya aku tidak bisa menggambar semut yang menghajar seekor gajah di hutan yang jauh dan terpencil.” 

”Semut menghajar gajah?” 

”Ya. Aku juga tidak bisa menggambar ulat yang menelan gunung jika tidak ada cahaya.” 

Kupu-kupu terdiam. Satu pertanyaan lagi terlontar akan membuat ia seperti satwa tua yang hampir mati. 

***
PETUALANGANMU dengan kupu-kupu Bukit Cahaya bukanlah perjalanan mudah. Kadang-kadang kalian hampir ditabrak koloni burung yang sedang mencari raja mereka. Kadang-kadang kalian hendak bertabrakan dengan pecahan meteor. Kadang kalian dihantam badai atau pecahan benda-benda angkasa. 

”Apakah kau takut?” kau bertanya kepada kupu-kupu. 

”Apa yang harus ditakutkan?” kupu-kupu balik bertanya. 

”Apakah jika benda-benda angkasa itu menabrakmu, sayap-sayapmu tidak akan rusak? Apakah pecahan meteor tak membakar sayapmu?” 

”Sayapku tak pernah rusak. Sayapku tak pernah terbakar.” 

”Kalau begitu apakah kau bersaudara dengan malaikat?” 

”Apakah menurutmu malaikat tak pernah terbakar?” 

”Tentu saja tidak pernah.” 

”Ah, kau masih terlalu kecil untuk tahu segala yang terjadi di seluruh semesta.” 

”Apakah kau tahu segala yang terjadi?” 

Kupu-kupu itu tidak mau menjawab pertanyaanmu. Ia menganggap dalam sekejap kau telah menjadi pria konyol berusia 79 tahun. 

***
TENTU saja kau tetap berusia tujuh tahun ketika kupu-kupu itu makin mengajakmu meninggalkan hutan. Meninggalkan pohon-pohon. Meninggalkan bunga-bunga berduri. Meninggalkan ular-ular dan danau kecil. 

”Apakah kau tahu siapa perempuan kecil yang memintamu terbang bersamaku?” tiba-tiba kupu-kupu itu melontarkan pertanyaan tak terduga. 

”Sama sekali tidak tahu.” 

”Sebenarnya dia penyihir sekaligus pendongeng berusia 79 tahun.” 

”Penyihir?” 

”Ya,” kata kupu-kupu itu, 

”Ia telah menipumu.” 

”Menipuku?” 

”Sebenarnya cahaya yang kau cari tak berada di barat. Cahaya itu memang berada di Bukit Cahaya, ditunggu oleh seorang petapa, tetapi berada di arah timur hutan. Cahaya itu sebenarnya muncul dari sorot mata seekor naga yang senantiasa tidur di dalam gua.” 

Kau tidak percaya pada ucapan kupu-kupu itu. Kau merasa sedang diuji untuk terus atau tidak mencari Bukit Cahaya. Kau merasa lebih baik mempercayai teman sebaya daripada ditipu makhluk lain. 

”Apakah kau keberatan jika tetap mengantarku ke arah barat? Jika keberatan, kau boleh menjatuhkan aku di sembarang tempat.” 

Kupu-kupu itu kaget. Kupu-kupu itu tidak menyangka kau akan taklid kepada perempuan kecil yang kini mungkin telah berada di dalam salah satu telur yang bertebaran di pantai. 

”Kau tidak takut jika jatuh ke jurang?” 

”Apa yang harus ditakutkan?” kau meniru kata-kata yang pernah diungkapkan oleh kupu-kupu. 

”Bagaimana kalau tubuhmu hancur dan kau mati?” kupu-kupu itu menakut-nakutimu. 

”Apakah hancur? Apakah mati?” kau balik bertanya. 

Karena menganggap kau tak memiliki kekhawatiran sama sekali, kupu-kupu yang merasa telah teramat tua dan sebentar lagi akan mati itu justru kian bersimpati kepadamu. Bahkan jika boleh memilih, ia tidak akan menanyakan apa pun lagi kepadamu. Ia hanya ingin terbang secepat mungkin ke Bukit Cahaya. Ia hanya ingin menjalankan tugas indah terakhir sebagai kupu-kupu. 

”Ah, kau memang masih terlalu kecil untuk tahu makna hancur dan mati. Masih terlalu kecil. Masih terlalu kecil.” 

***
KAU berusia tujuh tahun lebih setengah hari ketika tiba di atas sebuah monumen. Kau melongok ke bawah dan mendapatkan 7.000.000 orang berpakaian serba ungu bersama-sama mengacung-acungkan pedang ke angkasa. 

”Siapakah mereka?” kau bertanya kepada kupu-kupu. 

Tak ada jawaban. Kupu-kupu menganggap itu bukan pertanyaan penting. 

”Terbanglah sedikit ke bawah!” katamu, ”Aku ingin melihat mereka!” 

Kupu-kupu menurut. 

”Siapakah mereka?” kau bertanya lagi. 

”Para pembunuh. Sejuta orang akan berusaha membunuh sejuta kuda terbang. Sejuta yang lain akan membunuh sejuta malaikat yang tersesat. Yang sejuta orang lagi akan membunuh seorang raja yang dianggap menista agama.” 

”Yang 4.000.000 orang?” 

”Mereka akan membunuh kita,” kata kupu-kupu sambil mengepakkan sayap ke arah yang lebih tinggi. 

”Mengapa mereka menjadi pembunuh?” 

Kupu-kupu tak mau menjawab pertanyaanmu. Kupu-kupu tak ingin mengatakan kepadamu betapa di kota ini memang tak ada lagi hukum. Sejak lama ditinggalkan oleh para wali. Sejak lama ditinggalkan nabi dan malaikat. 

”Di kota ini tak ada semut, ulat, dan siput ya?” kau teringat pada satwa-satwa yang sangat kau kagumi pada usia lima tahun. 

”Tentu saja tidak ada,” kata kupu-kupu, ”Jadi, kita tidak perlu terlalu lama di sini. Jangan sampai kita terlambat menemukan Bukit Cahaya.” 

***
PADA saat berusia tujuh tahun lebih sehari kau meminta kupu-kupu menurunkan dirimu di tepi sungai. Kau menghampiri sepasang kijang. Salah seekor kijang berbisik kepadamu, ”Kelak ketika kau berusia 79 tahun, peliharalah jutaan kupu-kupu dan kunang-kunang. Mereka akan menerangi rumahmu sepanjang waktu.” 

”Apakah kupu-kupu bercahaya?” kau bertanya. 

”Apa pun bercahaya pada saat kau berusia 79 tahun.” 

Kau terdiam. Kau tidak tahu apa yang bakal terjadi. Kau tak mau memikirkan apa yang bakal terjadi pada saat berusia 79 tahun. ”Sekarang terbanglah lagi bersama kupu-kupumu.” Kau pun terbang lagi. 

***
PADA usia tujuh tahun lebih satu setengah hari kau meminta kupu-kupu menurunkan dirimu di tengah hutan. Pada saat itu, mungkin siapa pun menganggap sesuai nubuat, kau bertemu dengan perempuan buta. Kau takjub memandang perempuan bergaun serbahitam dan bersayap itu. 

”Tak perlu takjub pada apa pun. Sebentar lagi dunia hancur. Tak ada lagi yang perlu dilihat,” kata perempuan itu. 

Kau tidak paham pada apa pun yang dikatakan perempuan itu. Kau merasa bertemu dengan hantu. Kau ketakutan. Kau pun segera bergegas meminta kupu-kupu membawamu terbang ke arah barat, ke Bukit Cahaya. 

***
TEPAT pada usia tujuh tahun lebih dua hari kau benar-benar bertemu dengan seorang petapa. Tak mudah bertemu dengan sang petapa. Mula-mula badai gajah –besar kecil kurus gemuk– bertebaran menghalangi kupu-kupu yang kian payah terbang. Setelah itu koloni kelelawar, beberapa planet kecil, dan puting beliung yang mengusung bangkai burung menabrak tubuhmu yang kian ringkih.

Memang segalanya cepat berakhir. Namun tak mudah juga menemukan cahaya di dalam gua. Sang petapa—yang segala penampilannya mengingatkanmu pada perempuan 79 tahun—memintamu menjawab beberapa pertanyaan terlebih dulu. 

”Apa yang kau cari?” 

”Cahaya,” katamu. 

”Tak ada cahaya. Yang ada kau yang telah bercahaya.” 

Kau tidak tahu makna ucapan sang petapa. Kau tetap merengek agar diperbolehkan mencari cahaya di dalam gua. 

”Siapa yang akan menemanimu mencari cahaya?” 

”Kupu-kupu,” katamu. 

”Tak ada kupu-kupu. Yang ada kupu-kupu yang telah menjadi cahaya.” 

Kau juga tak tahu makna ucapan sang petapa. Namun kau memang tak lagi bisa melihat kupu-kupu. Kau justru melihat semacam satwa bersayap merah yang menyilaukan mata. 

”Sekarang jawab pertanyaan terakhirku,” kata sang petapa mengajakmu memasuki gua yang sangat gelap sehingga kau tidak bisa melihat apa pun. 

”Siapa aku?” sang petapa bertanya. 

”Penjaga bukit,” katamu. 

”Tak ada penjaga bukit.” 

”Tak ada?” 

”Tak ada.” 

Kau bingung. Kau merasa dipermainkan. Meskipun begitu kau berjanji tidak akan keluar dari gua sampai cahaya itu kau temukan. Kau menunggu sang petapa berubah jadi cahaya. Kau menunggu gua berubah jadi bagian terindah dari Bukit Cahaya. Kau menunggu pendongeng cilik segera datang dan menunjukkan kepadamu betapa kisah tentang Bukit Cahaya bukanlah cerita bohong untuk para pencari cahaya. 

Mengapa tak kau telan saja seluruh bukit agar kegelapan segera meninggalkanmu?


Triyanto Triwikromo adalah penerima anugerah Tokoh Seni Pilihan Tempo 2015 (bidang puisi) untuk buku Kematian Kecil Kartosoewirjo. Ia juga menerima Penghargaan Sastra 2009 dari Pusat Bahasa untuk antologi cerpen Ular di Mangkuk Nabi. Ia antara lain menulis Sesat Pikir Para Binatang (kumpulan cerpen 2016), Celeng Satu Celeng Semua (kumpulan cerpen, 2013), dan Bersepeda ke Neraka (kumpulan cerita ringkas, 2016). Sepanjang 2003-2015 telah 13 cerita Triyanto masuk Cerpen Pilihan Kompas.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 5 Maret 2017

1 Response to "Bukit Cahaya"