Cambuk Cimanuk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Cambuk Cimanuk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:23 Rating: 4,5

Cambuk Cimanuk

yang mengaliri sawah ladang dan bak mandimu adalah aku
urat sepanjang 180 kilometer yang membelah sekujur kotamu
dari garut, sumedang, majalengka, cirebon sampai indramayu
dari tapak kaki papandayan setinggi 1200 dpl aku berhulu

sementara perjalananku menjadi langkah paling suci
seumpama darah yang setia mengaliri urat nadi
menghapus lekang tanahmu atas nama irigasi
menumbuhkan berhektar-hektar bulir padi

maka saat perutku tiba-tiba mulai mengandung
kau serta merta memasang wajah murung
cemas saat aku datang tanpa terbendung
lalu tangismu pecah tanpa mampu kau urung

sebab begitulah setiap suasana
langit perak bisa tiba-tiba berwarna tembaga
lalu hujan memenuhi doa-doa purba
sedang kau lupa rimba telah menjelma lapangan bola

percayalah bahwasanya tak ada yang bernama banjir
kecuali air yang canggung kemana mencari hilir
bukankah dengan beton-betonmu kau bisa membendung
dengan demikina kau bisa sedikit mengambil untung

dengan turbin raksasa kau bisa lebih berbangga
menukar murkaku menjadi kerlip lampu kota
sampai tak perlu lagi ada isak tangis cedera
kau bisa leluasa menonton telenovela

sesekali belajarlah dari lembar-lembar sejarah
dari sana kau bisa bijak mengambil petuah
bahwa sebusuk-busuknya air bah
jauh lebih wangi ketimbang tumpukan sampah

sampai kau bisa merasa beruntung
memahami hakikat pepohonan di kaki gunung

tak lagi melihatnya sebagai kursi meja atau relief patung
kecuali kelak kau menghendaki nasib yang lebih buntung

percayalah bahwasanya musibah adalah cambuk
pijar bagi semangat agar tak mudah melapuk
hidup adalah kisah-kisah yang bertumpuk
sayang bila diisi kisah bulan yang dirindu seekor pungguk



Lasinta Ari Nendra Wibawa, menulis 72 media massa lokal dan nasional. Buku puisinya berjudul "Merintis Gerimis" (Mujahid Press, 2015) dan "Pelajaran Kincir Angin" (bukuKatta, 2017) --yang merupakan duet kumpulan puisi bersama istrinya, Kinanthi Nggraini. Alumnus mahasiswa Teknik Mesin UNS ini bekerja sebagai PNS di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Lapan Pameungpeuk, Garut.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lasinta Ari Nendra Wibawa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 5 Maret 2017




0 Response to "Cambuk Cimanuk"