Cerita Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cerita Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:56 Rating: 4,5

Cerita Sunyi

ENTAH sejak kapan Delia menyimpan perasaan pada Ahmad. Getaran itu mulai muncul sejak Ahmad memberikan perhatian padanya. Bukan senyum manis atau paras cantik Delia yang membuat Ahmad memberikan perhatian lebih, tapi hidupnya yang uniklah yang membuat mata lelaki itu terpana. Delia aktivis, musisi, dan sering mengikuti event-event di luar kampus sehingga membuat kuliahnya terbengkalai.

Sedangkan Delia jatuh hati pada Ahmad karena lelaki itu intelektual muda. Ia sering memperhatikan Ahmad secara diam-diam.

”Hanya wanita tidak normal yang tak suka padanya,” kata Delia pada salah satu teman komunitas menulisnya.

Di mata teman-temannya, Delia sosok wanita yang ceria, tidak pernah menunjukkan wajah lemah. Ia selalu menghadapi masalahnya sendiri, dan begitu tegar.

Namun, perkataan temannya yang sering jadi tempat curahan hatinya itu hanyalah ilusi. Sebab, seiring berjalannya waktu, Delia mulai merasa dia tidak akan bersatu dengan Ahmad. Buktinya, sampai saat ini hubungannya dengan lelaki itu tidak jelas. Padahal digantung itu begitu menyakitkan, gumamnya.

”Hapuslah air matamu itu, Deli,” ujar Ali. “Ini bukan Delia yang aku kenal. Delia yang kukenal begitu kuat dan tegar. Kenapa Delia yang ini begitu lemah tak berdaya?”

”Aku mencintainya, Al. Tapi aku lemah, tak bisa berbuat apa-apa,” ucap Delia, bersandar di pundak Ali.

”Aku paham, Del, tapi terkadang seseorang yang benar-benar kita cintai itu tidak harus selamanya bisa kita miliki. Bisa jadi kita hanya bisa berdoa agar dia selalu bahagia. Bukankah begitu, Del?”

Delia begitu kaget mendengar ucapan Ali itu. Lalu ia mengangkat kepalanya dari bahu Ali, seakan ia tidak setuju ucapan temannya itu.

Sebagai perempuan, Delia butuh tempat mencurhakan segala keluh-kesah hatinya. Dan seseorang yang selalu dijadikan teman bicara adalah Ali. Ia sosok yang selalu mengerti keadaan Delia. Begitu pula dengan Delia, perempuan itu selalu merasa nyaman ketika curhat kepada lelaki berparas tampan itu.

Suatu ketika, Ali merasa ada yang berubah pada Delia, kebiasaannya bercerita, wajahnya yang selalu cerita dan semangatnya yang pantang menyerah tidak lagi berada di sosok Delia. Delia sekarang bukan Delia dulu.

”Kamu yakin mampu bertahan dengan kondisi seperti ini, Del? Aku tahu kamu pasti sangat kelelahan menghadapi semua permasalahan ini,“ tanya Ali seraya merebut nampan yang sedang Delia bawa dan mengajaknya duduk.

”Aku pasti kuat, Al. Tenang saja, nggak usah khawatir,“ ucap Delia dengan nada sangat lemah.

”Jika Ahmad tidak bisa mewujudkan impian cintamu, aku bersedia membahagiakanmu, Delia.“

Delia mengangkat kepala seraya menatap wajah Ali. Ia heran. Ia tidak mengerti dan terkejut kenapa Ali berkata seperti itu. ini seperti di luar naskah.

”Kamu lelaki baik, Ali. Kamu tidak pantas mendapatkan wanita seperti aku, yang hanya bisa mencintai Ahmad. Mungkin kamu menganggapku bodoh. Tapi aku bisa apa? Aku mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri. Maafkan aku, Ali,“ tegas Delia.

”Tapi, Delia...,“ potong Ali.

”Aku harus kembali bekerja, Ali,“ ucap Delia bangkti dari tempat duduknya.

Ali tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum seolah ingin meyakinkan Delia bahwa dirinya baik-baik saja.

”Kamu tidak pantas bekerja di tempat ini, Delia. Bukannya menyepelekanmu, tapi pekerjaan ini terlalu keras bagi perempuan selembut kamu,“ gumam Ali seraya menyeruput kopinya. Matanya terus memerhatikan Delia yang sedang melayani pengunjung warung kopi. Delia nampak kewalahan.

***
AKHIR-AKHIR ini Delia selalu murung. Dia juga jarang nongkrong dengan teman-temannya. Entah apa yang membuatnya bersedih. Ahmad sempat bertanya pada Delia, namun perempuan itu bilang dirinya baik-baik saja.

Ya, itulah Delia, selalu menyembunyikan kesedihannya. Ia selalu pura-pura kuat padahal lemah. Ia lemah bukan hanya karena pekerjaannya yang berat, juga karena kisah asmaranya dengan Ahmad yang tak kunjung menemukan jalan terang.

”Maafkan aku, Delia. Aku memang benar-benar lelaki yang bodoh. Aku tidak memperjuangkanmu,“ batin Ahmad ketika tahu Delia sudah berlabuh di hati lelaki lain. Ia merasa sangat menyesal.

Ya, Delia sudah hidup bahagia dengan seorang lelaki yang mencintainya dengan tulus. Tidak seperti Ahmad yang mencintainya setengah-setengah, kekasihnya itu mencintainya dengan tindakan, tidak hanya dengan kata-kata. Meski hati Delia tidak bisa lepas dari Ahmad, ia berjanji pada diri sendiri akan belajar mencintai lelaki itu dengan sepenuh hati.

”Terima kasih, Ahmad sudah mau mencintaiku walau hanya sebentar,” ucap Delia sambil melihat foto Ahmad di Instagram

Tiba-tiba ia ingat ucapan salah satu aktor film: “saat kamu tidak bisa bersama dengan lelaki pilihan pertamamu, sementara ada lelaki lain yang setia menunggumu, segera putuskan pilihanmu agar persoalan tidak semakin rumit.”

”Ayo, Delia, kita pergi,” ujar Ali seraya menggandeng tangan Delia. 

Yogyakarta, 2017

Diah N Chasanah. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Diah N Chasanah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 19 Maret 2017


0 Response to "Cerita Sunyi"