Cirahayu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cirahayu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:01 Rating: 4,5

Cirahayu

APAKAH hidup sejatinya adalah lorong-lorong waktu? Aku masih duduk dalam kereta api Malabar dari Bandung dengan tujuan akhir Malang. Baru saja berlalu sebuah stasiun kecil bernama Cirahayu. Stasiun di tepi bukit itu memiliki bentuk peron mengikuti jalur rel yang menikung. Stasiun yang sepi. Hanya ada dua petugas. Dan, kereta tidak berhenti. 

“Ada kisah tragis tentang stasiun Cirahayu,” ucapmu yang semenjak awal perjalanan duduk di hadapanku. 

Aku nyaris lupa bahwa sebetulnya kita sedang berbincang, meski diselingi oleh hal-hal lain seperti membuka bungkus biskuit, melihat keluar jendela, atau pamit ke toilet.

“Kisah tragis?” tanyaku. Sebenarnya bukan karena tertarik. Aku bahkan tidak ingat kau bicara tentang apa sebelumnya. 

“Ya. Dulunya, stasiun itu masih bernama stasiun Trowek, sebagaimana nama desa setempat. Namun sekitar tahun 1996 terjadi sebuah kecelakaan kereta api Galuh Kahuripan, dan membuat nama stasiun itu dianggap sial, sehingga harus diganti, dan dipilihlah nama Cirahayu. Sampai sekarang ini.” 

“Wah, sepertinya Anda tahu banyak tentang kereta dan stasiun.”

Kau tersenyum tapi tampak sedih. “Dulu aku pernah punya kekasih seorang penggemar kereta...” 

Raut wajahmu yang mendadak murung itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Kau lantas banyak berbicara tentang kisah masa lalu, seolah-olah wanita memang diciptakan dari timbunan kenangan. 

Kemudian aku mengalihkan pandangan ke kaca jendela, kau terus saja berbicara seolah kau yakin aku mendengarkannya. Padahal aku lebih tertarik pada pemandangan bukit-bukit yang entah apa namanya. Jadi kunikmati kau berbicara meski hanya kutangkap sepotong-sepotong, seperti suasana yang begitu cepat berlalu di luar jendela.

"Kekasihku pernah mengajakku pergi, dia berjanji akan...” 

Baru saja kulihat sepasang anak kecil berseragam SD berdiri tepi jalan setapak pinggir rel. Yang satu melambaikan tangan ke arah kereta, yang satu diam memegang stang sepeda. Kepada siapakah mereka melambai? Kepada seluruh penumpang kereta ini? Begitu cepat kejadian itu sebab kereta kembali menikung, dan memang apa yang kulihat selalu cepat berganti, seperti hidup ini, seharusnya tak perlu berlama-lama dengan masa lalu. 

Jika sedang terhalang lebatnya pohon atau gundukan bukit, maka wajahmu yang terpantul di jendela kereta. Tapi begitu samar, sebab kaca bukanlah cermin sesungguhnya, dan kau masih berbicara, mengisahkan sesuatu yang barangkali saja sangat menarik. 

“Tapi aku yakin suatu saat nanti semakin saling memahami.” 

Adakah yang kau kisahkan itu sebuah kisah cinta yang berliku seperti jalur kereta sepanjang Cirahayu? 

Sebetulnya, sudah sejak melewati stasiun Nagreg, jalur rel menjadi berkelok dan terjal. Setelah melintasi jembatan Citiis, rel akan bersisian dengan bukit Kadungora, begitu seterusnya sampai Leles, Karangsari, Cibatu, pemandangan lembah yang dipenuhi pepohonan begitu lebat, sementara di bagian kanan, rel berbatasan langsung dengan dinding bukit yang mencemaskan. Suasana ini baru akan berakhir saat kereta memasuki Tasikmalaya. “Memang namanya laki-laki tidak mau mengalah, aku sampai tidak paham.” Kau terus berbicara. Aku sedang berpikir tentang keindahan. Tentang perjalanan yang mengenalkan kita pada tokoh-tokoh asing. Namun semua cuma persinggahan. Barangkali wanita memang lebih rawan dari stasiun, lebih riskan dari peron-peron sunyi. Kau barangkali hanya satu di antara yang lewat dan tak kembali. Percakapan kita kelak akan kulupakan, tertimbun percakapan lain, mungkin oleh wanita yang menjemputku di stasiun Jogja. Seperti lagu lama, “Hampir malam di Jogja.”

Lamunanku terus menerawang, seperti melampaui sekat-sekat waktu. Sesaat lagi pastilah kereta menurun dan mulai memasuki daerah perkotaan menjelang Tasikmalaya, suasana ketinggian ini akan segera berubah menjadi jalur lurus yang padat oleh perumahan, jalan raya, dan tembok-tembok kompleks pertokoan yang membosankan. Nah. Kurasakan gemeretak roda, pertanda rel yang bercabang dan kereta hendak melintasi stasiun Ciawi, wilayah Tasikmalaya. Namun terkejutlah aku ketika kulihat di luar kaca jendela, baru saja kereta melintasi stasiun Cirahayu.

Hah? Bukankah tadi aku sudah melewatinya? Kualihkan pandangan kepadamu. Kau masih di situ, tapi kini pakaianmu telah berubah, lebih rapi, memakai batik. Sejak kapan kau ganti baju? Dan astaga, kulihat tubuhku sendiri, ternyata aku memakai kemeja bercorak batik yang sama dengan yang kau kenakan! 

“Kamu masih saja suka melamun setiap kali kereta lewat Cirahayu, mikirin apa sih, Sayang?” 

Hei, beberapa saat lalu kau menceritakan mantan kekasihmu, tapi mengapa tiba-tiba kau memanggilku seperti itu? Kulihat suasana gerbong, masih sama, hanya penumpang lainnya sudah berbeda. Bukan lagi orang-orang yang sama seperti awal naik dari stasiun Bandung. Aku melihat jam, seharusnya kereta sudah memasuki Tasikmalaya, tapi kenapa jarum jam seperti ditarik mundur? Seharusnya ini sudah lepas senja dan segala di luar jendela menjadi gelap. Cirahayu-Ciawi biasanya hanya sekitar lima belas menit, tapi mengapa kereta ini seperti berputar-putar saja?

Aku berusaha memejamkan mata, barangkali aku kelelahan. Semoga saja ini cuma halusinasi. Aku terus memejamkan mata, kubiarkan hanya raung suara kereta yang terus menggema. Rasanya cukup lama juga, sampai kudengar gemeretak roda pada wesel rel, klakson lokomotif melengking, laju diperlambat, pertanda kereta akan memasuki sebuah stasiun. Maka kubuka mata, segera kulihat keluar jendela, dan lagi-lagi stasiun Cirahayu. Betapa kian terkejutnya aku, kini kulihat kau tak sendirian lagi. Kau sedang memangku seorang gadis kecil. Gadis itu kemudian turun dan berpindah ke arahku, naik ke atas bangku. 

“Papa ngantuk ya?” 

“Jangan nakal, Nalea, Papa mau tidur. Sini sama Mama.”

Aku semakin tidak mengerti. Gadis kecil ini menggelayut di pahaku, siapa dia? Mengapa memanggilku Papa? 

Kupandang dirimu, masih sama, hanya saja tampak lebih tua. Ada kerutan di wajahmu. Tubuhku juga terasa lebih letih. Aku seperti melakukan perjalanan ratusan tahun. Pemandangan memang terus bergerak di luar jendela, tapi seperti latar belakang yang tidak pernah berganti, hanya diputar ulang. Masih dalam kebingungan, untuk kesekian kalinya aku dibius oleh pemandangan sepanjang Cirahayu. Seakan tidak pernah bosan padahal telah berkali-kali aku melihat pohon-pohon yang sama, hutan yang sama, stasiun yang sama. Bahkan kulihat sepasang anak SD melambai ke arah kereta. Anak SD yang sama. Seakan waktu tak beranjak di luar kereta.

“Lihat. Kakek melamun lagi,” 

“Mungkin kakek mengenang nenek.” 

Kali ini lamunanku berhenti karena dua suara anak kecil. Kualihkan pandangan, dan ada dua bocah lelaki dan perempuan yang tampak lucu, bersama sepasang lelaki dan wanita yang sedang tertidur. Rasanya wajah mereka begitu familiar, seperti sangat kukenal entah di mana. Apakah mereka suami-istri? Tapi perempuan yang menemaniku sudah tidak ada. Sementara dua anak kecil itu masih berbicara satu sama lain.

“Kata ibu, dulu kakek pertama kali bertemu nenek di kereta ini.”

Kakek? Mengapa memanggilku kakek? Apakah mereka berdua ini cucuku? Aku mendengar perbincangan itu, tapi tak tertarik menanggapinya. Entahlah, mungkin karena tubuhku telah begitu lemah, aku masih memandang apa yang lewat di luar jendela, suasana hutan perbukitan dan lembah menjelang sore, jauh di lanskap bukit itu, di cakrawala itu, tampak kota Tasikmalaya mulai menyalakan lampu-lampu. Akhirnya hampir malam. Selalu hampir malam. Namun tak pernah sampai. Di manakah wanita yang selama ini duduk di hadapanku? Di manakah kamu yang sedari awal suka berbicara banyak hal? Mengapa aku masih saja duduk di gerbong kereta ini sementara kau sudah tak ada lagi? 

“Lihat, kakek menangis.”

Kali ini aku terkejut mendengarnya. Secara spontan kuusap bagian bawah mataku, dan memang terasa basah. Astaga, sudah setua ini dan aku masih menangis. 

Cahaya matahari seperti memudar. Lampu-lampu kian benderang di kejauhan. Lampu kendaraan, lampu jalan, lampu rumah, seperti miniatur cahaya dari kereta yang terus melaju. Namun sekarang wajahmu tak terpantul lagi di kaca jendela itu. 

“Kakek! Kakek! Keretanya berbelok.” Dan, ketika kurasakan gemeretak roda di atas rel, pertanda kereta memasuki sebuah stasiun, aku tahu, aku bisa menerkanya. Itu pasti stasiun Cirahayu. 

Beberapa detik kemudian, kulihat peron yang melengkung itu, stasiun yang seakan menjebakku dalam pusaran waktu, dan aku teringat kembali ucapanmu. 

“Ada kisah tragis tentang stasiun Cirahayu...” 

Barangkali, kita pun sedang menjadi kisah tragis itu. 


Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Buku cerpen terkininya, Reruntuhan Musim Dingin (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 12 Maret 2017




1 Response to "Cirahayu"

asasi said...

Wah, twistnya nggak nyangka. Keren!