Di Kafe Kurniasari - Hidzib Perjalanan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Kafe Kurniasari - Hidzib Perjalanan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:50 Rating: 4,5

Di Kafe Kurniasari - Hidzib Perjalanan

Di Kafe Kurniasari

Buankah ini permainan, jeritmu
Di antara biola dan gesekan waktu
Di antara gelas dan asap cerutu
Aku membongkar dadamu
Dengan kepedihan lampu-lampu

Maka tumpahlah nasibmu
Di atas meja taplak ungu
Malam lindap jalanan lengang
Langkahmu pelan menghilang di tikungan
Aku memburu bayangmu

Sepertinya tak ada siapapun
Di perjamuan ini
Hanya aku sendiri
Kau mungkin semacam sangkaan
Atau mungkin tak pernah dilahirkan

Lalu akhirnya, makin kusadari
Segala yang ada di sini
Selalu berujung pada ketiadaan
Seperti remang lampu
Juga bayangmu yang menghilang

Hidzib Perjalanan

Kaulah stasiun itu. Rahim sunyi. Perbatasan antara kemurnian
Dan gemuruh perburuan
Keberanngkatan tak pernah bisa ditunda. Maka berkemaslah, desismu
Sambil merakit lokomotif di kepala. Setiap orang adalah masinis
Bagi dirinya. Tangis pertamaku mungkin lengking peluit itu
Aku terhuyung memikul kutukan. Menggigil dari kursi ke kursi
Dari halte ke halte yang terasing dari papan nama. Lalu menjerit
Memuja angin yang datang dan berpulang dari gerbong-gerbong kosong.

Di sini tak siapa pun bisa mundur, tegur kondektur sambil meremas tiket
Di ujung kecemasanku
Aku terpejam dan mengerang ketika ciumanmu mendarat di lebam lukaku
Dan aku terpental ke balik pintu. Dinding gerbong yang hitam itu
Sehitam nasibku. Seorang pengamne tua menghitung usia
Dengan gesekan sbeuah biola. Sedang tubuhnya berhamburan digilas roda
Di gerbong lain, seorang anak muda muntah-muntah kehilangan arah
Lalu menangis bersama gerimis yang menaburi rambut masinis

Aku memelukmu bersama dingin rel yanng membentang ke utara
Berputar bersama doa
Berderak dalam gulita, terowong-terowong tua
Merangkaki tikungan dan tanjakan. Jalan tak pernah lurus, pekikmu
Sambil menyeret tubuhku di antara bangku-bangku. O, beban usia ke mana
Mesti kubawa. Sementara jendela, pintu yang menganga juga arah cuaca
Tak lagi bisa dibaca. kecemasan kian jauh dan mendekat arah maut


Yusran Arifin adalah Sastrawan yang lahir di Tasikmalaya. Aktif di Sanggar Sastra Tasik (SST), sebuah komunitas sastra yang telah mengasah kepenyairannya. Bersama rekan-rekannya ia bergiat membimbing anak-anak Tasikmalaya yang berminat dengan puisi dan prosa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yusran Arifin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 26 Maret 2017


0 Response to "Di Kafe Kurniasari - Hidzib Perjalanan"