Di Tepi Kehilangan - Hadiah Dewa kepada Sawerigading - Di Bawah Pohon Kenari - Di Rahim Dewa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Tepi Kehilangan - Hadiah Dewa kepada Sawerigading - Di Bawah Pohon Kenari - Di Rahim Dewa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:53 Rating: 4,5

Di Tepi Kehilangan - Hadiah Dewa kepada Sawerigading - Di Bawah Pohon Kenari - Di Rahim Dewa

Di Tepi Kehilangan

Musim berganti hingga mekar bunga warna-
warni di taman
Seorang bocah lelaki berlari mengejar layang-
layang putus
Sendiri ia menghirup aroma bunga bahkan
kumbang, lebah
Dan beberapa hewan lainnya masih di sarang
tertidur pulas

Ia terjatuh lalu membangunkan seekor lebah
Di lengannya, ditakdirkan sengat bersarang
Dan yang dikejar akan lebih tinggi lalu pupus
Hilang: memastikan nasib di masa lalu dan
kini.

2017

Hadiah Dewa kepada Sawerigading 

Sawerigading diundang ke langit
menemui datu patotoe
batara lattuk berpesan
agar ia tak memilih menetap di sana.
terbuka pintu langit
dan sejumlah kesenangan diperlihatkan,
tak ada yang mampu menggodanya,
ia masih ingat pesan ayahnya di bumi.
setelah berhari-hari di istana langit,
ia pulang dan dihadiahkan sejumlah
keistimewaan;

pengabur mata
agar tak seorang pun dapat melihatnya,
mantera pesona mampu menenggelamkan
ampas bertih
dan mengapungkan batu karang.
penenang perang peredam keributan,
penguasa halilintar,
kilat, dan guntur.
juga cincin, gelang,
serta cerana kilat tempat sirih datu patotoe.
bila kelak ia menyukai seorang gadis,
seluruhnya akan usai pada inginnya.

2015

Di Bawah Pohon Kenari

Buahnya satu persatu dijatuhkan angin
Dan kita memungutinya penuh suka cita
Akarnya berontak di kedalaman tanah
Hingga gairah kita beradu di sisi lain

Ada rumah seorang tua yang mistis
Merapalkan doa leluhur yang gantung diri
Di salah satu ranting pohon kenari
Dan kita tak menyusur kelam jalannya

Mati kita tiada, hidup kita abadi
Musim merahasiakan biji-biji kenari
Hingga muncul di balik lirih angin musim
Kita memandangi puncak pohon kenari

Batua, 2017

Di Rahim Dewa

Seluruh bahagia mesti kembali diuji
pada sejumlah pertanyaan baru,
Tentang siapa yang akan turun
menjadi penghuni-penghuni baru di bumi;
Siapa pula yang menerima takdir
sebagai manusia pertama yang mati,
Seluruh dewa terdiam,
di langit biru mulai lahir sejumlah haru.

Cahaya tentu akan mengutus sebagian dari
dirinya,
Segenap waktu akan terasa cukup lambat dan
lama;
Pelangi tujuh warna di pintu kahyangan pun
terbuka.
Patotoe menjawab pertanyaan dengan
sepenuh rasa,

Ia putuskan putra dari rahim dewa menjelma;
Seorang penghuni dalam sendiri, sepi
manusia pertama.

2015


Wawan Kurn, menulis puisi, cerpen, esai. Buku puisi pertamanya berjudul Persinggahan Perang ai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017) oleh Penerbit  Basabasi. Buku esai pertamanya Sepi Manusia Topeng (2017) oleh Penerbit Nala  Cipta Litera. Pernah diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wawan Kurn
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia " edisi Minggu 12 Maret 2017







0 Response to "Di Tepi Kehilangan - Hadiah Dewa kepada Sawerigading - Di Bawah Pohon Kenari - Di Rahim Dewa"