Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta

Gandrung Ekalawya

Anggraeni:
tangismu jatuh beruntun, duhai
mengaliri kesakitan di tubuhku
airmata lembut brtahan
sebagai tanda
kesedihanmu pernah mampir

di sana di saat yang sama
drama cinta kita diputar kembali
derai dari sepanjang alismu

O kekasih
jangan lagi tanyakan
rasanya mencintai
aku sudah tak mengerti
sebab seluruh waktu
telah penuh rindu
dan tiada ektika terlewat
tanpa persembahan cinta, untukmu
dariku: Ekalwaya

Pertanyaan untuk Drupadi

Bilakah dendam adalah
caramu tiba pada keadilan
Apakah kebenaran akan terus
dilahirkan secara berdarah-darah
Dru, hidup tak sepele meramal mata dadu
Jalan dendam takkan sewangi
melati di sepanjang rambutmu

Urnekir

Wong lanang:
Engkau bukan rintu tak bernama
Walau bagimu, aku bukan
apa atau siapa
Bahkan meski tiada apun
Rindu tetap bertahan tinggal
Menjelma wujud kerelaan

Kerap rindu membuatku terkapar
Memintaku sama sekali berhenti
Namun saksikan aku yang tegar
Mengundangmu mendaki kesakitan
O, katakan
Katakan siapa yang lebih sabar

Bilakah rindu adalah malam
Aku berjalan menantang
kesepian panjang
Bermakam di bawah cungkup dinginnya
Berkhalwat dalam kesunyian
Berharap dapat memelukmu
Dalam kolam cinta setenang bulan

Bermusim rindu betah bermukin
Bagai angin, jadikan layang-
layang tak sendirian
Hingga aku lupa bila hatiku bukan batu
Dan kau yang takkan pernah jadi milikku

(Urnekir: nama asli tokoh Adaninggar/Menak China dalam Hikayat Amir Hamzah sebelum digubah menjadi Serat Menak oleh R. Ng Yosodipura)

Pengakuan Gandari

pada sebuah waktu:
telah kurapikan jarak dan rindu
mengemasnya seperti segala hasrat
atas kertap dan gemerlapnya dunia
untuk pilihan
di mana hidup kuyakini
dalam kegelapan

lelaki-lelaki akulah perempuan
rela menyunggi kekalahan
tumbal pertarungan kalian
disudutkan hunusan-hunusan nasib
mencoba tegar dari setiap cibiran
tersebab tiada lagi
pilihan, selain diam

hanya suara angin yang
kemudian hilang
melepasku sendiri di
malam berdendam
tapi kelak akan kau mengerti
arti kesetiaan itu dariku
perempuan yang menutup matanya
demi selalu menghadirkanmu lelaki

pada sebuah waktu:

Tentang Rundinya Sinta

lelaki, gugusan karang kian
menciutkan lautan
seperti jarak dan waktu
terhadap rindu
menit-menit terus
menuju kehilangan
menghuni gelapnya ingatan
semenit jadi panjang
dalam kekosongan
sepi demi sepi,
menerbangkan bayang-
bayang menuju kehampaan
saat angin tak lagi berkabar apa-apa
selain kesiur yang seperti
banyak peristiwa
lindap di ceruk kepala
waktu terus terlepas antara
tawa dan tangisan
mengabaikan sesalan
mengikis kukuhnya keyakinan
oleh semakin sempitnya
ruang saling berbagi
sedang hidup semakin
dekat ke akhir hayat
menghabisi semua kesempatan
o, datanglah, datanglah lelaki
datanglah pada sebuah janji
demi kalungan kesetiaan
yang kumaharkan
sepenuh hati

: Sinta


Oekusi Arifin Siswanto, penyuka puisi, tinggal di Ngawi 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Oekusi Arifin Siswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 12 Maret 2017




0 Response to "Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta"