Hidung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hidung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:22 Rating: 4,5

Hidung

GILA! Kini tinggal hidungku yang tersisa. Bagian-bagian wajahku yang lain telah dikapling-kapling dan dikontrak perusahaan iklan menjadi papan billboard. Pada bulu mataku melambai iklan mascara. Di bola mataku tertayang iklan softlens. Lalu di pipi kanankiriku dan dahiku terhampar iklan bedak. Sedangkan di bibirku tersungging iklan lisptik. Sementara kedua alisku tersisa iklan eyebrow. Kemudian di sekeliling kedua mataku terbersit iklan eyeshadow. Dan, terakhir, di gerai rambutku terjuntai iklan dua produk sekaligus: shampo dan cat rambut.

Kini hidungku pun sedang diincar oleh perusahaan iklan. Bukan untuk iklan ring emas atau plaster antikomedo, tapi klinik kecantikan terbesar yang baru saja dibuka di kotaku. Terpengaruh oleh selebritis Korea yang ramai-ramai mengoperasi hidung dan matanya, kini selebritis Jakarta pun ikut-ikutan memancungkan hidung dan mendandani mata dengan operasi plastik. Tentu, ini pangsa pasar baru bagi para pebisnis klinik kecantikan. Maka, klinik-klinik kecantikan baru bersusulan dibuka di ibu kota. Dan, demi memenangkan persaingan, mereka gencar beriklan dengan berbagai cara.

Masalahnya, apakah aku harus merelakan hidungku yang sudah sempurna untuk pura-pura dioperasi dan dijadikan contoh untuk kepentingan promosi, lalu layar televisi saat aku membaca berita akan terbaca tulisan berjalan yang mempromosikan suluruh alat kecantikan yang menempel di wajahku. Dan, pemirsa akan segera tahu bahwa semua yang tampak di wajahku adalah tempelan, kecantikanku adalah palsu, karena sesungguhnya wajahku yang cantik hanyalah polesan belaka alias topeng.

’’Mbak Gita, gimana? Oke bersedia ya hidungnya kami kontrak!” desak seorang manajer sebuah perusahaan iklan ternama yang sedang mengincar hidungku.

’’Aduh, Mbak. Seluruh wajahku ini sudah aku gadaikan untuk papan iklan. Tinggal hidungku yang tersisa. Masak harus aku kontrakkan juga,” jawabku, bernada keberatan.

’’Tidak untuk selamanya kok, Mbak. Bisa dicoba sebulan dulu. Bila cocok, bisa diperpanjang. Lumayan lho, Mbak. Sebulan 100 juta, dan Mbak Gita akan kami kontrak langsung setahun. Itu artinya 1,2 miliar,” desak sang manajer perusahaan iklan itu lagi.

Gila! Rp 1,2 miliar. Jumlah yang sangat menggiurkan, dan aku sangat membutuhkannya untuk menuntaskan renovasi rumah orang tuaku di Cibubur, dan juga untuk melengkapi perabot rumahku sendiri di kawasan yang sama. Sisanya bisa untuk menambah mobil mewah lagi, setelah dikurangi zakat untuk rumah yatim piatu.

Tapi, bagaimana dengan hidungku? Bukankah hidung ciptaan Tuhan ini sudah sempurna? Mana mungkin aku mengatakan hidungku hasil operasi plastik sebuah klinik kecantikan, meskipun hanya di iklan atau tulisan berjalan di televisi. Bukankah itu sebuah bentuk kebohongan publik, dan penghinaan pada Tuhan yang telah menciptakan hidungku ini dengan begitu sempurna.

’’Bagaimana, Mbak Gita? Kami memerlukan jawaban hari ini juga,” desak sang manajer perusahaan iklan itu lagi.

’’Bolehkah saya minta waktu lagi untuk berpikir?” jawabku. 

’’Kapan kami bisa mendapatkan jawabannya?” Aku tidak bisa menjawab, karena tidak tahu kapan dapat memberikan keputusan untuk mengontrakkan hidungku. Manajer iklan yang sebenarnya juga cantik itu memandangku dengan gelisah, berharap jawaban ’’ya” dari mulutku. Aku menunduk sambil menyusupkan jari-jari tangan kiriku ke rambutku yang tergerai lembut, lalu kupijit-pijit kepalaku dengan jari-jari tangan kiriku yang kuku-kunya juga sudah dikontrak iklan kuteks.

’’Kenapa tidak hidung Mbak Jesslyn saja yang dikontrakkan. Mbak Jesslyn cantik lho, dan hidung Mbak sangat bagus,” kataku agak nyaring, sambil menatap manajer perusahaan iklan yang gigih mengincar hidungku itu. Suaraku seperti terlepas dari himpitan beban di dadaku yang terasa agak sesak.

Perempuan itu tampak terperangah, tak menduga jawabanku akan berbalik mengincar hidungnya. 

’’Ah, Mbak Gita ini ada-ada saja. Aku kan manajer perusahaan iklan. Masak mau mengontrakkan hidungku sendiri. Itu namanya semangka makan semangka, Mbak. Yang benar aja!”

’’Ya apa salahnya? Tak apa kan merangkap menjadi bintang iklan?”

’’Bos saya itu menugaskan saya untuk mengontrak hidung Mbak Gita. Bukan mengontrak hidung saya sendiri.’’

’’Coba saja tawari hidung Mbak Jesslyn. Siapa tahu beliaunya mau?” 

’’Bukannya mau, malah bisa dipecat saya.’’

Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya. Wajah Jesslyn tampat memerah. Suasana jadi tegang dan senyap. Hanya terdengar suara televisi samarsamar dari ruang tunggu. Perempuan manajer perusahaan iklan itu jadi tampak kikuk dan serbasalah. Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredakan ketegangan. Tiba-tiba perempuan itu bangkit, dan berkata dengan nada agak berat,

’’Ya sudah, kalau begitu, saya tunggu jawaban Mbak Gita sampai besok sebelum jam 12 siang. Jika belum ada jawaban, kami akan berikan peluang ini kepada presenter TV yang lain. Saya tunggu teleponnya besok siang ya. Selamat siang!”

’’Baik, Mbak Jesslyn. Akan saya coba pikirkan baikbaik,” jawabku ringan, sambil mengantar manajer iklan itu ke pintu keluar ruang kerjaku.

*** 
Aku nyaris tak bisa tidur memikirkan tawaran kontrak iklan yang menggiurkan sekaligus dilematis itu. Sampai tengah malam aku memeriksa dan merenung-renungkan hidungku di depan cermin, sambil sesekali memencet-pencetnya. Betapa mahalnya nilai hidung ciptaan Tuhan ini, pikirku. 

’’Tafakur hidung” aku lanjutnya sambil duduk bersandar di ujung ranjang, sampai dini hari.

Membayangkan nilai kontraknya Rp 1,2 miliar setahun, tentu aku sangat tergiur. Tapi, bagaimana dengan hidungku yang sudah sempurna ini? Apakah harus pura-pura dioperasi, dan aku harus melakukan kebohongan publik bahwa hidungku yang bangir ini merupakan hasil operasi plastik sebuah klinik kecantikan? Bukankah itu artinya aku menghina Tuhan yang telah menciptakan hidungku dengan begitu sempurna? Bisa-bisa Tuhan mengutukku gara-gara kontrak hidung ini…

*** 
Tubuhku mendadak menjadi sangat ringan. Seperti terbebas dari grafitasi bumi, aku pun mengapung di udara. Dari ketinggian aku melihat sedanku ringsek karena dihajar bus TransJakarta. Rupanya mobilku masuk ke jalur bus way persis di hadapan bus TransJakarta yang sedang melaju kencang di pagi buta. Orang-orang tampak turun dari bus dan menyerbu mobilku. Beberapa orang mencoba membuka pintu depan mobilku. Tapi tidak gampang, karena bagian depan mobilku benar-benar ringsek, dan pintu depan mobilku tampak pesok ke dalam.

Mungkin aku telah mati dan jiwaku kini melayang di udara. Aku melihat tubuhku, berpakaian seragam penyiar televisi swasta ternama, terkulai lemah di balik stir mobil, dengan wajah penuh darah. Tibatiba aku teringat hidungku yang sedang diincar perusahaan iklan dengan tawaran kontrak 1,2 miliar rupiah. Pastilah hidungku kini sudah hancur, dan perusahaan iklan itu pasti urung mengontraknya.

Aku mencoba meraba hidungku, tapi yang terasa hanyalah ruang kosong. Aku mengamati tubuhku yang melayang bersamaku, yang kulihat hanya sosok putih mirip gumpalan asap yang mengambang di udara. Aku yakin itu jasad halusku, sedang jasad kasarku tertinggal di dalam mobil yang ringsek dan kini sedang dikeluarkan oleh para penumpang TransJakarta. Aku yakin telah tewas dalam kecelakaan itu, dan tubuh kasarku, wajah cantikku, hidung bangirku, sudah tidak ada artinya lagi bagiku, karena semua tinggal mayat, dan sebentar lagi akan dikubur di pemakaman umum dengan diantar air mata ibuku.

Dengan tubuh amat ringan aku mencoba melayang lebih tinggi lagi, terbang menembus awan, lalu mengarungi ruang angkasa yang hampa, kembali kepada Tuhan sang Maha Pencipta, melupakan semua kontrak iklan yang telah menjadikan wajahku sebagai billboard. Tapi, tiba-tiba terdengar suara tangis ibuku, memanggilku dengan pilu, keras sekali, dan tiba-tiba pula terasa ada kekuatan besar yang menyedotku ke arah tubuhku yang sedang digotong ke mobil ambulans, dan mendadak aku terjerembab kembali ke dalam kegelapan yang begitu pekat…

*** 
Lagi-lagi suara ibuku yang membuatku tersadar dari pingsan, entah berapa lama. Kali ini ibuku tidak menangis. Matanya tampak berbinar ketika melihatku siuman. ’’Syukurlah kamu selamat, Gita. Ibu sangat mengkhawatirkanmu,’’ katanya lembut sambil mengelus-elus punggung telapak tanganku.

Aku mencoba membalas senyumnya, tapi hampir semua bagian wajahku terasa kaku dan agak nyeri. Aku meraba hidungku, ada plaster tebal yang menutupnya. Pipi kanan dan kiriku juga ditutup plaster tebal dan lebar. Begitu juga dahiku. Duh, hancurlah wajah komersialku. Hancurlah kecantikanku.

Aku terkejut ketika melihat Jesslyn, manajer iklan yang mengincar hidungku itu, berdiri di belakang ibuku. Aku ingin memaki-makinya, karena gara-gara dialah aku tak bisa tidur, lalu terpaksa mengendarai mobil dalam kondisi sangat mengantuk, dan terjadilah kecelakaan itu. Ia tersenyum melihatku siuman, dan senyum manisnya meredakan kemarahanku. 

’’Istirahatlah dulu, Mbak Gita. Semua akan beres,” katanya.

Aku tidak tahu, apa yang dimaksudnya akan beres itu. Tapi, kata-katanya itu menggerakkan tanganku untuk meraba hidungku lagi. Plaster tebal masih menutupinya, dan aku tidak tahu separah apa luka di hidungku. Aku yakin, Jesslyn sudah tidak lagi mengincar hidungku, dan semoga inilah yang dimaksudnya semua akan beres tadi. Kupaksa diriku untuk memejamkan mata, mencoba tidur untuk melupakan semuanya.

Tiga hari kemudian Jesslyn menjengukku lagi bersama ibuku, membawa sekeranjang buah dan satu ikat bunga segar. Kali ini dia duduk di dekat wajahku. Sepertinya ada yang sangat penting. 

’’Saya gembira, Mbak Gita sudah makin sehat,” katanya. 

’’Terima kasih,” sahutku. 

’’Tentang wajah Mbak Gita jangan khawatir. Dokter ahli bedah plastik sudah menanganinya ketika Mbak Gita masih pingsan. Kalau sudah sembuh nanti, dengan sedikit polesan, dijamin wajah Mbak Gita akan kembali mulus seperti sediakala. Tinggal hidung Mbak Gita yang belum dioperasi,’’ sambungnya.

Mendengar kata ’’hidungku belum dioperasi’’, aku jadi penasaran. 

’’Maksud Mbak Jesslyn bagaimana?”

’’Masih dibiarkan sompel ujungnya, karena tidak ditemukan sompelannya.’’

Aku terkejut dan merinding mendengar hidungku dibiarkan sompel. Aku jadi ingat hidung patung Rorojonggrang di Candi Prambanan yang sompel hidungnya. Tampak sangat mengganggu, meski masih terbayang kecantikannya. Apakah hidungku akan sompel separah itu untuk seterusnya?

’’Tapi Mbak Gita jangan khawatir. Saya sudah berbicara dengan dokter bedah yang menangani Mbak Gita. Ibu juga sudah setuju,” kata Jesslyn, masih menyimpan teka-teki dan maksud tersembunyi. 

’’Setuju bagaimana?” sergahku. 

’’Semua sepakat untuk mengoperasi hidung Mbak Gita di klinik kecantikan yang akan mengontrak hidung Mbak Gita untuk iklannya itu. Karena hanya klinik kecantikan itu yang siap ahli bedah plastiknya dan lengkap peralatannya. Dokter ahli bedah plastiknya dari Korea.”

Aku terperangah mendengar penjelasan manajer iklan yang mengincar hidungku itu. Aku jadi tahu bahwa ia adalah pemburu yang benar-benar ulung. Sampai luka-luka begini hidungku masih terus diburunya juga. Aku tidak menjawab, karena aku benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana! 

Tangerang Selatan, Juni 2015

Ahmadun Yosi Herfanda, lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Dia menulis puisi, cerpen, dan esai sastra. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004), Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004), The Worshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005), Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006), Yang Muda yang Membaca (buki esai, Kemenegpora, 2009), dan Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Litera, 2013).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmadun Yosi Herfanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 12 Maret 2017

0 Response to "Hidung"