Hujan di Penghujung Senja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Hujan di Penghujung Senja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:00 Rating: 4,5

Hujan di Penghujung Senja

HUJAN tak lagi berarti, mendung tak lagi kutunggu. Setiap kali datang hujan disenja hari, aku hanya bisa tersendu sedih mengingat semuanya, mengingat sebuah kenangan yang tidak pernah aku lupakan. Sekarang, aku hanya bisa terdiam menunggu kapan maut akan menjemputku, kapan malaikat pencabut nyawa menemuiku, dan kapan waktu ku akan berhenti. 

AKU menyembunyikan rahasia besar dari sahabat-sahabatku, hanya orang tuaku yang tahu kenapa sekarang aku berada di ruangan yang akrab sekali dengan bau obat. Sudah hampir seminggu aku dirawat di sini, aku terkena penyakit Kanker Getah Bening stadium 4. Hujan di luar semakin deras bersamaan dengan air mata yang terus mengairi kusamnya raut wajahku. 

Aku tidak percaya dengan takdir Tuhan ini. Semuda inikah aku harus merasakan semuanya? Aku kehilangan motivasi untuk hidup, aku kehilangan semuanya, cita-cita yang sejak dulu aku idamkan, sekarang hanyalah menjadi mimipi yang tiada arti. Entah lah, aku tutup petualangan hidup ini dengan melanjutkan ke alam mimpi.

Suara takbir membangunkanku, aku tidak tahu jam berapa sekarang, tetapi yang jelas, suara takbir itu bersumber dari kedua orang tuaku yang sedang salat di sudut ruangan ini. 

Lagi-lagi aku tidak kuasa menahan bendungan air mata melihat orang tuaku. Ya tuhan, kenapa aku tidak mati saja, agar orang tuaku bisa nyaman di rumah, tidak perlu menungguku di ruangan yang pengat ini. Aku tidak mau merepotkan dia, aku tidak mau membuat meraka khawatir dengan ketidak pastian antara hidup dan matiku.

Aku berusaha mengingat semua hal tentang sahabatku, terutama Zahra, dia sahabatku yang paling dekat, jujur aku sangat suka dan sayang sama dia. Namun, sampai saat ini aku belum bisa mengungkapkannya atau tidak akan pernah bisa mengungkapkannya. 

Ingatanku masih menyimpan beribu kenangan bersama Zahra. Seminggu yang lalu aku dan Zahra masih bercanda tawa berbagi senyuman di Gerbang Sekolah. Yah, di Sekolah lah yang selalu menjadi latar pertemuanku dengan Zahra.

“Cie yang beberapa bulan lagi akan hengkang dari Sekolah,” ucap Zahra sedih.

“Iyah. Tapi, aku ingin masih lama di Sekolah ini” jawabku sambil menatapnya.

“Kenapa?” tanya Zahra.

“Em, aku ingin bisa melihat kamu terus,” jawaku sambil tertawa.

“Euh, dasar” tindas Zahra sambil tertawa lepas.

Aku tenggelam dalam gemerlap asmara cinta yang mungkin hanya akan jadi mimpi belaka. 

Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, aku tidak akan mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada Zahra sebelum aku sembuh total. Memang, dia tidak tahu tentang penyakit yang siap siaga kapan saja membunuhku. Namun, hal itulah yang membuatku takut, takut dia sedih atau malah pergi menjauh bila tahu bahwa aku lelaki yang penyakitan.

“Yan. Kamu sudah bangun yah,?” sahut ibu menyadarkanku dari lamunan.

“Iyah bu, tadi dengar suara mengucapkan takbir, jadinya aku terbangun” jawabku sambil berusaha menghadapkan wajah pada ibuku.

“Kamu istirahat ajah!”

“Iyah Bu, tapi tolong bawakan aku kertas sama alat tulis yah Bu!” pintaku.

Entah kenapa aku meminta kertas dan alat tulis kepada orang tuaku, bukankah aku sedang terbaring lesu? Aku tidak tahu. Tetapi, ucapan itu dengan spontan keluar dari mulutku.  Beberapa saat kemudian ibuku membawa buku tulis dan bolpoin, setelah memberikannya padaku, ibuku berpamitan akan pulang dulu ke rumah untuk membawakan baju untuku, sekarang hanya tersisa ayahku yang menemaniku di rumah sakit yang sekarang entah sedang kemana.

Hujan diluar semakin deras. Hanya, terlihat secercah cahaya yang sudah bias oleh air hujan. Namun, kurasa senja ini paling indah yang pernah ada atau mungkin untuk terakhir kalinya aku melihat hujan disenja hari. aku berusaha menulis surat untuk Zahra. Kurasa tidak akan pernah lagi menikmati raut wajah yang dibalut dengan jilbab berwarna cerah itu, raut wajah yang selalu menemaniku dalam dunia nyataku dan dunia ilustrasiku kurasa tidak akan pernah hadir lagi dalam takdirku.

Untuk Zahra...

Terima kasih kamu sudah menemani hidupku yang singkat ini,  meski sekarang aku tidak berada di sampingmu, aku harap kamu baik-baik saja di sana. Sebelum terlambat, aku akan jujur kepadamu. 

Aku pengecut, aku tidak pernah jujur tentang perasaan sayang padamu. Tetapi, itulah yang kurasakan sampai kematian sudah terlihat di depan mataku. Aku sayang kamu, Zahra.

Jangan kau sedih bila surat ini yang pertama dan terahir kalinya aku berikan kepadamu.Tetapi, aku selalu berdoa agar aku bisa dipersatukan denganmu. Jika tuhan tidak mengijinkan kita bersatu di dunia, biarlah. Biarlah kita bersatu dikehidupan yang kekal.

Dari yang menyayangimu, Dian.

Ada rasa lega setelah menuliskan perasaan yang selama ini ku pendam, meski hanya dalam secarik kertas, tetapi kurasa cukup untuk mewakili perasaanku. Tidak ada lagi rasa yang terlewat, semuanya aku ringkaskan dalam beberapa buah kata. 

Setelah aku baca beberapa kali lalu kulipat surat itu, belum sampai tahap akhir melipatnya tiba-tiba dadaku terasa sesak, kepalaku terasa berat aku merasa dibawa kelorong yang penuh dengan cahaya. Yang  terakhir aku ingat dan ku ucapkan adalah kalimat Syahadat.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aris Nurdiansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 19 Maret 2017

0 Response to "Hujan di Penghujung Senja"