Hutan Sakti bagi Perimba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Hutan Sakti bagi Perimba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:59 Rating: 4,5

Hutan Sakti bagi Perimba

1. 

di manakah gerangan hutan sakti bagi perimba? 
hutan yang tak dimasuki tapak kaki manusia 
tak tersentuh telapak tangan, bahkan gema suara 
pencari manau, pengumpul damar, penakik getah, 
pemetik rotan, gaharu dan buah gintan, 
dibelokkan pohon-pohon jadi cahaya, 
bercabang-cabang cahaya, 
sehingga sungkan menjamah 
lembab-basah lekuk tanah.

pun periuk dan rantang makan 
retak di tepi-tepinya. ikan asin dari pesisir 
berloncatan ke anak air. terasi menggumpal 
meniru asam kandis yang baunya masih 
seriang-riang sarung bantal anak-anak yang mengaji 
di surau-surau tinggal.

karung dan ambung di punggung 
meledak jadi serpihan humus 
parang, pengait dan pisau-pisau sirawik 
tumpul, majal, sebelum mencecah urat leher 
seekor burung, kulit kayu atau kepundan rangrang.

hutan itu: planet lain yang subur 
karena menanggung tuah ibu-tanah 
untuk memasukinya kita mesti melewati waktu cahaya 
menembus lingkaran-lingkaran tahun dalam kambium 
bagai garis galaksi, berlapis-lapis galaksi, 
yang akan menelan dan mengubah apa saja

(sedang perimba kadang merasa orang asing 
memanggul beban dalam hening rimba-raya)

2. 

seekor harimau putih jelmaan leluhur (lama dinanti) bertapa di pusarnya di bawah sebatang jawi-jawi rimbun sehampar kijang sembunyi tinggi serentang sayap enggang kasturi di akarnya menyanak mata air membuncah jadi telaga jernih ke mana pelanduk turun mandi sebelum jadi huluan delapan anak sungai yang dibelokkan pohon-pohon dan batuan ke bawah kaki duli si harimau tua yang bersila menyimak seisi pusat rimba:

gumam bubut bersipongang kuik elang 
hompimpah simpai bersambung gelak siamang 
di dahan-dahan kera-kera mabuk buah 
cingkuk dan beruk berbagi buah-buah busuk 
yang ranum-ranum di ranting patah 
jatuh dan hanyut ke kuala.

di tanah basah, landak dan kura-kura menghela diri 
ke dalam cangkang dan pagar duri 
celeng dan babi-babi mendengus di kubangan dangkal 
milik gajah dan badak yang melengos pergi 
mengasah cula, gading dan belalai di tebing-tebing ngarai.

begitulah hutan itu ada di jagat galaksi 
jantung sumatera. pusatnya petilasan jawi-jawi 
ruhnya harimau putih, semua patuh pada yang mahasakti.

3. 

konon dulu ada yang masuk menyentuhnya pertama: seorang perimba yang takzim membaca musim pandai membaca gerak angin

jika padi mulai berbunga di huma-huma 
ia tahu itu musim lebah. bila angin berkisai di bubungan 
alamat musim kawin burung-burung kuau 
bila hujan banyak berjatuhan buah gintan 
kemarau bagi damar, manau dan rotan 
dan sesekali tersesat rusa birahi belang kaki 
ke pangkuan perimba letih.

kepadanya orang-orang datang 
bertanya arah mendaki, hari baik yang dinanti 
juga menimbang: apakah rusa yang tersesat 
kerna birahi, bisa disembelih atau dilepas 
(membuatnya terceguk memberi jawab) 
kadang hasrat lain pun lepas: adakah tiba 
pesan khidir yang terakhir? ia buat isyarat 
dengan angguk dan geleng, senyum sejuk, 
sedikit kata melereng, dan orang-orang merasa cukup 
tiada yang lebih akan dituntut.

tapi suatu hari, si perimba takzim itu 
terkabar melanggar pantangan 
ia memaksa masuk hutan larangan 
dan tak keluar lagi dalam wujud yang dikenal!

orang-orang yakin, ia kawin dengan cindaku 
(manusia harimau yang tak punya lekuk hidung) 
di pedalaman jambi konon mereka berkampung. 
sebagian menganggap si perimba malang 
tersesat saat mengumpul buah gintan 
atau tergoda punai tanah sehingga terdampar 
di kampung orang bunian. ada desas-desus 
ia hanyut menyeberangi sungai tengah malam, 
diseret hantu lubuk, menjenguk roh-roh halus 
yang tenggelam, lalu membawanya lesap ke hutan pagai 
atau telah bertamu ia kepada orang pandak 
dan mengajaknya mengembara ke sebelat, kerinci, 
bukit tapan dan pelelawan, sepanjang bukit barisan 
menyusuri garis-garis khayali yang tak nampak.

apa pun, kabar terbaik bagi orang kampung 
justru datang dari juru tenung 
meski kedengarannya lebih celaka, 
”ia telah mencoba ilmu tuah, mengikut jejak moyangnya 
– o, moyang kita semua,” katanya 
sambil membelah buah limau 
orang-orang menunggu 
hampa, risau

”jadi harimau kumbang atau campa ia, 
tak ada beda. belang atau putih, sama saja 
sayang ia kena perangkap, kerna memang tak berbakat. 
nasib baik ia lepas, susah-payah, dan menjumpai 
dunia gelap semata. melompat ia, kakinya berat sebelah, 
bekas jerat, darah dan nanah. selesai sudah; seperti leluhur kita 
ia memilih tersungkur dalam pekat rimba-raya 
lupakanlah, tak elok merintang hari dengan dia yang pergi 
tak kembali,” berbisik si juru tenung, 
kawan sekaligus seteru hidup di kampung 
tangannya mengacau air limau dalam talam, 
pertanda gelap peruntungan si perimba hilang tanpa salam 
maka gema nama itu pun hilang 

selama-lamanya. mengabur tak terbaca di ranji silsilah. 
tapi tidak di hati mereka yang percaya! 
mereka yang membuang pikiran buruk, 
setulus doa burung pungguk: sesungguhnya ia 
pergi bertapa, meniti ilmu hayati semesta 
demi kita, yang tanpa sadar mulai menuntut 
lewat pertanyaan-pertanyaan sialan 
yang menggetarkan malam-malamnya!

4. 

begitulah pusaran hutan keramat menolak jejak lintasan 
apatah lagi mata kapak para peladang 
gergaji beliung penggesek papan, pun pemburu, 
penjerat kuau, penyasap madu 
bahkan penyamun bukit timbun tulang 
di masa lalu, mengambil jarak, takut makan kutukan 
dan di masa kata bersilang, para pemberontak dan pecundang 
sama-sama tak berhak menjadikannya kubu, lambang kejayaan.

di masa sekarang, di manakah gerangan hutan itu berada
 (atau pernah ada)? bertanya anak-anak yang mengaji 
kepada buya yang buta kedua matanya 
bengkok sebelah kakinya tapi terang alifbata-nya 
lurus siratal mustaqim-nya.

hutan itu, kata buya, sang guru, sedekat urat lehermu 
lebih dekat dengan pinggan makanmu 
e lurah bertepi tidak, ke bukit mendaki bukan 
datanglah angin, dan ada yang memanggil-manggil 
untuk kembali, meski yang dipanggil tak ingin kembali 
tak akan kembali karena semua tak ada lagi.

sambil berucap buya raba belangnya 
yang lama luntur di balik singgulung 
putih sarung dan kain baju

atau seraya menuruni teleng tangga surau 
(bagai menuruni lereng gunung) 
sekali hatinya berbisik, “belang dosa itu mungkin juga 
serupa lingkaran tahun di batang pohon 
makin besar, makin melingkar ia dalam kambium 
sementara di luar segalanya meninggi 
serupa sukun, merbau atau jawi-jawi 
sebagian runduk sembunyi 
seperti ular bergelung dalam padi 
semua belang, bisa dan taring, 
kekal dalam diri!” 

5. 

inilah gerangan suatu madah: kisah keramat rimba raya 
yang dulu ada dan bertuah, kini tinggal hampa

peladang dan perimba: pencipta hutan sakti 
beserta lambang-lambang yang diberkati, 
menjaganya dengan pantang larang, 
dongeng dan kepercayaan, kini jadi tertuduh, 
lintang-pukang, bagai simpai dan siamang 
terusir jauh ke sebalik bukit kelabu 
yang sebentar juga akan diserbu 
gempita deru segala mesin, gulita debu segala musim

nasib mereka berkisai di kanopi pohon-pohon mati 
bagai beruk diikat tali menjadi timba pecah 
menunggu jatuh ke dasar kali dan sumur-sumur tua.

mereka padahal saksi kejadian semua ini: 
huma mereka dibakar, bukit-bukit dikeker, 
hutan diukur, segala batas dan pancang 
dicabut seakar-akar. mesin-mesin merangsek, berdentang 
bagai satelit dan pesawat-pesawat ruang angkasa 
semua besi segala baja, amoniak, tabung kaca 
dirancang melewati jagad galaksi lingkaran tahun waktu cahaya 
yang berabad-abad menjadi garis demarkasi 
hutan sakti para perimba!

tinggal api, kabut, dan asap yang menari 
bumi hanya jelaga. langit hampa udara 
setiap orang pingsan berebut zat asam.

o, pralaya rimba-raya! 
buah-buah busuk dan ranum 
jatuh, berbondong-bondong hanyut ke kuala...

/ Siak-Tapan-Yogyakarta, 2013-2015-2017



Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Ia menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisinya antara lain Api Bawah tanah (2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 25 Maret 2017

0 Response to "Hutan Sakti bagi Perimba"