Ingatan - Sepahit Secangkir Kopi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ingatan - Sepahit Secangkir Kopi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:59 Rating: 4,5

Ingatan - Sepahit Secangkir Kopi

Ingatan

Mata etrbuka di pagi yang muram
Terbangun histeris melihat langit-langit
Mengingat bunga tidak tidur yang gelap
Surya sudah mulai muncul
Pilihan tetap diam
Menerka apa arti gelapnya bunga tidur
Air mata tak terasa jatuh
Detak jantung tak terkendali
Kabur meninggalkan pikiran yang dirasuki kegelapan

Sepahit Secangkir Kopi

Sering kali terdiam melamuni nasib
Tak kunjung bahagia dan tak usai padam
Menerka-nerka impian
Berharap tubuh masih siap menipang beban
Pahit dirasanya
Sepahit secangkir kopi tanpa gula
Menyibak kehidupan yang diidamkan
Yang datang hanyalah keadaan yang runyam
Bagaimana cara mengakhirinya?
Terdiam berpikir sejenak
Menarik udara masuk ke rongga dada
Lalu berharap ada yang sedang memperbaiki



Desi Gustiani Suhandi, penulis menyukai dunia sastra dan psikologi.  



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Gustiani Suhandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 26 Maret 2017



0 Response to "Ingatan - Sepahit Secangkir Kopi"