Kereta - Gerobak Afdruk - Fried Chicken - Asu Cinta Padanya - Tukang Edit Bahasa - Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kereta - Gerobak Afdruk - Fried Chicken - Asu Cinta Padanya - Tukang Edit Bahasa - Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:03 Rating: 4,5

Kereta - Gerobak Afdruk - Fried Chicken - Asu Cinta Padanya - Tukang Edit Bahasa - Puisi

Kereta
Sebuah kereta menungguku
Kami telah berjanji menepati
Satu jadwal pemberangkatan

Lama ia menunggu
Dan aku, dulu, pernah mengirim
Pesan pendek padanya agar ia bersabar
(Antara aku dan kereta tak mengenal
Kata telat buat bertemu). Tak ada tiket
Di tangan. Hanya aku dan kereta
Yang tahu

Hingga pada masanya nanti
Sebuah tangan serasa menyobek karcis
Aku terpana menatap segerbong kereta
Tanpa penumpang tanpa masinis

Kelak kami menyatu dan tersenyum bahagia
Melaju ke barat menjauhi para pengantar
Melupakan segala kenangan

Cimahi, 2016

Gerobak Afdruk

Gerobak afdruk yang nempel di bangunan
Tua bekas terminal kecil ini payah sekali
Kumal dan sepi

Baiknya kutemani biar ia gembira

Dulu, pemiliknya lelaki paruh baya yang
Terus menyalakan petromak di siang hari
Di dalamnya terbikinlah
Ruang gelap di mana rautku pernah
Dicucinya, direndam air asam, lalu keluarlah
Wajah jadul ukuran 3x4 atau 2x3 entah berappa
Jumlahnya

            Ajaib kan?

Gerobak senang ketika kuajak foto berdua
Ia berlonjak saat kukeluarkan setangkai tongsis
Tungkai kaki-kakinya (berjumlah lima) sampai
Gemetaran

Ia yang renta dan payah akan menjadi kekinian
Jika sukses nongol di medsos, pikirnya
Dijempoli dikomentari ribuan orang

Laki-laki pemilik gerobak ini entah ke mana
Mungkin pergi bersama masa lalu dan begitu
Saja meninggalkan mantannya merana
Menanggalkan kenangan yang lebam
                     Ditonjok zaman

Cimahi, 2016

Fried Chicken

Sejenak, ia terdiam ketika pelayan bertanya
              "Paha atau dada?"

Ia berdesir membayangkan empuk paha
Dan kenyal daging dada. Tapi itu biasa
Pikirnya. Ia tersipu melirik si embak

              "Hati yang saya ingin."

Dengan tersenyum, pelayan berkata
"Hati adalah sebentuk daging yang lain
Tapi kami tidak menjual jeroan," terangnya

Ia pun pulang setelah muter-muter mencari
Tak ada yang menjual hati, sambil mendekap
Dada yang diyakininya tempat yang yang dicarinya
                                Bersarang

Sesampai rumah ia menyimpulkan dengan
Hati-hati bahwa hati sebagaimana jeroan
Pakaian yang dipakainya. Gampang asam
Dan sering-sering harus dicuci

Cimahi, 2016

Asu Cinta Padanya

Gook morning, Dears!

Tiap pagi ia sapa guguk-guguknya
Dengan intim sebagaimana kekasihnya
Semua sarapan sudah. Mandi
Berdandan, menyisir bulu

Ada notifikasi dari petshop
Bahwa besok jadwal pedicure
Dan periksa taring gigi-giginya
Pada dokter. Yes, batinnya mantap

Ia buka telepon pintarnya (telepon yang
Tak pandai mengelak dari deadline dan
Tagihan-tagihan). Rupanya, pesan pendek
Dari ibu di kampung yang minta ditengok
Yang katanya rambutnya jadi perak dan
Awut-awutan, matanya kabur dan
Wajahnya retak-retak. "Sabar ya, Bu
Aku cari waktu dulu buat cuti. Weekend ini
Ada ultah Pleky, teman guguk. Weekend
Depan ikut kontes cantik guguk-guguk," katanya
Sambil menutup tanpa membalasnya

                             Gook morning, Dears!

Ia memeluk dan mencium guguk-guguknya
                                    Satu per satu

Ibunya di kampung sedang membayangkan
Dipeluk disayang-sayang anak satu-satunya
          Yang tak pernah pulang

          Waktu kukecil hidupku amatlah senang
          Senang dipangku-pangku di peluknya
          Serta dicium-cium dimanjanya
          Namanya kesayangan

Seperti anak-anak, ibunya nyanyi berjingkrak
Sambil bertepuk sorak

Jakarta-Gunung Kidul, 2016

Tukang Edit Bahasa

Tukang edit bahasa kondang itu termangu
Ketika suatu ketika ditanya seorang lelaki tua
Tentang bahasa yang baik dan benar bagi orang
Yang mati, apakah ia telah pergi atau
Ia telah pulang?

Sebab belum nemu jawaban, tukang edit
Bahasa kondang meminta waktu semalam
Untuk menyelesaikan masalah genting itu

"Baiklah, aku pulang dulu, pergi tidur di
Peti lagi," kata lelaki tua padanya, "bangunkan
Aku sebelum orang-orang menggotongku."

Cimahi, 2016

Puisi

Bangun tidur, di sampingku
Tergolek perempuan sintal cuma
Berpakaian dalam. Bukan istriku
Bukan ranjangku

Jendela sedikit terbuka. Angin kesiur
Masuk kamar. Sebuah lagu blues
Terdengar pelan. Perempuan berambut
Pirang menggeliat. Aku berdebar
Nappas tersengal

Pembaca, sampai di bait ini, aku
Kebingungan meneruskan-mengakhiri
Cerita

Nah, kalian baru percaya kan
Bahwa puisi tak bisa berbuat apa-apa
Ketika gawat begini? Kecuali jika
Kita lekas-lekas menyudahinya

Cimahi, 2016



Hasta Indriyana, lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku puisinya, Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003), Piknik yang Menyenangkan (2014), dan Rahasia Dapur Bahagia (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 11-12 Maret 2017

0 Response to "Kereta - Gerobak Afdruk - Fried Chicken - Asu Cinta Padanya - Tukang Edit Bahasa - Puisi"