Kosmologi - Menulis Harimau - Suara Saman Hutan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kosmologi - Menulis Harimau - Suara Saman Hutan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:53 Rating: 4,5

Kosmologi - Menulis Harimau - Suara Saman Hutan

Kosmologi 

Kudengar cahaya berbicara: Api itu
muncul di dunia.

Kudengar api itu
membuat jaman baheula
mengeluarkan telur.

Lalu telur menetaskan cerita
yang membentangkan debu hasil
mengulum dan menggulung dunia

Kudengar cahaya berbisik: Api itu
padam. Semenjak api itu padam,
dunia melafalkan bunyi.

Seribu tahun lewat,
dunia menghidupkan sepasang batu:

Sepasang batu berbunda dunia,
Sepasang batu mengelanai dunia,
Sepasang batu saling bercinta
ketika dunia pancaroba.

Kudengar cahaya berlirih: Api itu
kembali. Kudengar api itu hadir
pada diri sepasang batu yang mulai
mengkhianati dunia,
menolak gerbang fana.

Surakarta, 2016

Menulis Harimau 

Aku menulis harimau di hutan leluhur
yangs ering diceritakan ulang
oleh nenek. Aku menulis harimau sedang mandi di sungai
bersama arwah leluhur

Harimau suka bercermin di air sungai.

Wajah harimau serupa wajahku. Aku yakin
pembuluh darahku
mengalirkan jalan harimau. Nenek memuji harimau
di hutan leluhur suka menghalau kesialan kita.

Di dunia hewan, harimau termasuk sebangsa kucing
terlihat tingkah lucu harimau berlari
ke hutan leluhur
setelah berhasil emncuri ikan di rumahku
leher harimau terus dielus oleh arwah leluhur

Aku menerka kulit harimau yang seperti api berkobar itu
adalah pelita menghapus gelap malam,
kesegaran udara menyentuhi bulu hidung,
pandangan tajam mengais tumpul dunia

Nenek pernah berbisik
ketika aku memperlihatkan gambar harimau:

"Harimau kita memang bersayap dan mahir terbang."

Sembari rehatkan diri, aku tunggu harimau
dalam tulisanku tidur pulas
di hutan leluhur. Kalau harimau sudah terbangun,
tangannya akan keluar dari tulisanku.

Surakarta, 2017

Suara Saman Hutan

Hujan berhenti membasahi hutan, tapi halimun senja
membuat petualang harus cepat keluar
dari sesak samak dan daun

Tinggal setengah jam lagi,
halimun senja berganti sinar biasan bulan. Jika begini,
petualang
memilih tidur dalam hutan.

Gagal. Petualang terjaga diganggu nyamuk nakal.

Beberapa saat, petualang mendengar
suara semar hutan. Tapi asing bagi daun telinga
petualang
menangkap maksudnya.

Hutan terus memberi suara samar kepada petualang.

Yang ada hanya kebisuan petualang
sembari tangannya mengelus
salah satu pohon dalam hutan.

"Aku datang, lenggang, gamang," mau juga petualang
membalas suara hutan.

Semua pohon dalam hutan
langsung bergetar
seperti terkena gempa. Petualang ketakutan
dan memeluk tubuh pohon yang dielusnya tadi.

Tapi petualang tak sadar, akar hutan mulai berjalan
menuju laut dan menjadi pulau tersendiri.

Petualang yang masih dalam hutan, keesokannya
terus mencari jalan pulang
ditemani
suara samar hutan.

Surakarta, 2017




Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Satu 18 Maret 2017




0 Response to "Kosmologi - Menulis Harimau - Suara Saman Hutan"