Kunang-kunang Dini Hari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kunang-kunang Dini Hari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Kunang-kunang Dini Hari

MASIHKAH kau mengingatnya? Atau sekadar terbayang akan dinginnya cuaca menusuk tubuh kita pada saat-saat yang sudah lama? Berdua kita jadi penikmatnya. Menghirup udara yang belum sempat terkontaminasi oleh asap rokok, asap kendaraan, juga limbah udara dari pabrik-pabrik yang kini hilang entah ke mana. Aku selalu ingat, sebagaimana kau memintaku untuk selalu mengingatnya. Sampai detik ini.

Kita adalah suara-suara yang tak terbahasakan. ”Bukankah kau pandai berkata-kata?” ucapmu, di sebuah subuh yang tak panjang itu. Tatkala perlahan sinar mentari mulai muncul dari balik batang-batang karet. Ada kecemasan yang terlukis dari wajahmu. Lagi-lagi, saat terang dengan garangnya selalu mengusir kebersamaan kita. Memaksa kita untuk kembali memainkan peran menjadi orang lain.
Aku pun tersenyum. Pada waktu yang tersisa, aku hanya ingin menghabiskannya dengan memandangmu. Membiarkan mata kita saling berbincang, untuk akhirnya pertemukan kedua jiwa kita di dalamnya. Bukankah aku selalu bilang, bahwa jiwa mampu melihat apa yang tak dikenali oleh mata? Sontak, selalu saja jika kau mendengar hal itu dari mulutku, kau akan tertawa sembari kembali berucap, ”Dasar penyair gila! Pandai berkata-kata!”
Di tempat itulah setiap Minggunya kita selalu menghabiskan waktu-waktu itu. Selepas subuh aku akan menunggumu di ujung jalan, di dekat pohon cekru. Menantimu datang sembari berlari kecil layaknya seorang atlet yang sedang pemanasan, adalah hal yang menggemaskan. Tentu, di rumah kau bilang pada ibu bahwa kau akan berlari pagi bersama teman-temanmu. Tapi, tak jarang juga untuk beberapa waktu yang pernah ada itu, aku tak mendapatimu hadir. Itu tak lain karena ibu melarangmu. ”Masih gelap gini kok mau lari? Mau dimakan genderuwo?” katamu, sembari menirukan gaya ibumu kala berucap seperti itu. Kau memang nakal.

Namun, tempat itu memang sungguh berbeda. Tempat yang selalu bisa menyadarkan kita akan sebuah pertemuan yang sangat berharga. Lagi-lagi, karena setiap Minggu sore kau akan kembali pulang ke asrama, untuk seperti biasa menjalani kehidupanmu sebagai seorang mahasiswi. Dan aku? Tetaplah jadi seorang pemimpi. Pemimpi yang pandai menghitung hari. Tak lain, karena detik-detiknya selalu kuhabiskan untuk menanti kedatanganmu. Sungguh, subuh adalah muara di mana aliran rindu itu bertemu. Subuh adalah puncak tertinggi di mana bahagia itu menyatu.
Dan di pagi itu, jauh sedari waktu yang lama itu telah usai dalam hidup kita, kembali kusambangi tempat itu sendiri. Cukup jauh aku datang, setelah lama meninggalkan Batumarta. Dan tak lagi ada alasan kenapa aku kembali menyambangi Pulau Sumatera, selain hanya untuk coba mencari, apa saja yang telah berhasil dirubah oleh sang waktu. Kulihat matahari sedikit enggan menampakkan dirinya. Terhalang oleh semakin tingginya batang-batang karet yang tampak semakin menua. Masih kuingat dahulu, saat batang-batang karet itu belum terlalu uzur, kita selalu senang melihat para penderes itu melakukan tugasnya. Di pekatnya kabut, ada taburan cahaya berpantulan indah. Berkelap-kelip. Itu tak lain adalah cahaya head lamp yang mereka gunakan sebagai penerang. Sekejap, cahaya itu mengingatkan kita pada kunang-kunang. Indah sekali. Dan mulai saat itu kita sepakat menyebutnya ”kunang-kunang dini hari”.
Tapi, kenapa tak lagi kulihat kunang-kunang itu ada. Ke mana mereka pergi? Apakah orang-orang tak lagi menderes batang karet? Sempat kudengar ihwal harga getah karet yang anjlok, begitu menghancurkan perekonomian di daerah itu. Meski demikian, aku yakin kau tak sempat merasakannya. Hidupmu terlalu bahagia tentunya. Menjadi istri dari seorang tengkulak getah karet adalah impian setiap ibu pada anak perempuannya di kampung kita itu. Itulah juga yang kudengar, bahwa akhirnya kau jadi menikah dengannya setelah kelulusanmu dari bangku kuliah. Menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang bergelimang harta. Tidak sepertiku, seorang pemimpi. Seorang lelaki yang hanya berminat menghabiskan waktunya untuk merangkai kata-kata.
Tentu, masih kau ingat dulu. Betapa ibumu melarang keras kau berhubungan denganku. 

”Mau dikasih makan apa anak kalian nanti? Kata-kata? Puisi?” ucap ibumu, meremukkan isi dadaku. Tapi itulah kenyataan, bahwa sekuat apa pun kita berusaha, tak kan mampu merubah takdir. Dan benar, bila akhirnya kau bertakdir dengannya. Seorang tengkulak getah karet yang banyak uangnya itu. Bukan aku.

***
Dari ujung jalan itu, tak lama seorang penderes akhirnya terlihat mendekat. Masih seperti dulu yang sering kita lihat, penderes selalu menggunakan penutup kepala seperti ninja. Tak lupa sebuah topi hasil modifikasi memantapkan sebuah obat nyamuk bakar di kepalanya. Di tangannya ia jinjing sebuah pisau sadap yang mengilap. Memantulkan sinar mentari pagi, yang pada saat itu perlahan tampak mulai penuhi hari. Aku masih di situ. Mencoba tuk perhatikan langkahnya. Semakin mendekat, bau busuk khas getah karet dari baju yang ia kenakan itu, menusuk hidungku.
Sejenak kembali kuteringat padamu. Pada sebuah masa yang sungguh lama itu, kau berkata, bahwa kau tak suka bau itu. 

”Ingin muntah aku rasa-rasanya,” katamu, sembari menutup hidung jika seorang penderes lewat melintasi kita. 

”Tapi, kalau uangnya mau, kan?” ucapku, sembari mencubit kecil tanganmu yang lembut itu. Kau hanya tersenyum malu. Siapa pula gerangan yang akan merelakan seorang bidadari seperti dirimu menyentuh lateks yang baunya sangat kurang ajar itu. Pikirku.
Tapi itu semua dulu. Jauh sebelum Tuhan menciptakan hari ini untuk bisa kita nikmati. Cukup lama kita tak saling jumpa sejak terakhir kali kita habiskan waktu subuh kita di tempat itu. Sempat pula kau cegah aku untuk tidak beranjak. Namun demikian, begitu besar inginku tuk memilikimu dengan cara yang wajar. Meski akhirnya, aku pun harus merelakanmu. Menelan kehilangan itu jauh ke kedalaman hatiku. 
Dan matahari pun tampak semakin bergegas. Makin banyak juga lalulalang orang-orang yang tak kutahu namanya itu ke sana kemari. Sesekali menebar senyum. Meski begitu lebih banyak yang berwajah hambar. Mungkin juga mereka kesal. Seperti yang akhir-akhir ini kudengar dari banyak berita, tentang paceklik yang begitu dahsyat melanda kampung kita. Tak kusangka begitu cepat waktu merubah segalanya. Menghilangkan kunang-kunang dinihariku pergi entah ke mana. Memusnahkan pabrik-pabrik pengolahan getah karet yang juga tak tahu kini di mana rimbanya. Begitupun saat kumemandang iba, pada rumah-rumah megah yang ditempeli papan pemberitahuan, bahwa rumah itu sudah disita. 
Lantas, aku putuskan kembali saja. Kuraih segera sepeda motor yang basah tertutupi embun itu, dan kususuri perlahan jalan yang dahulu selalu kita tapaki bersama. Meski jejaknya terhapus masa, kenangannya selalu ada.
Sama seperti di pagi itu. Setelah tak lama, kudapati sepasang suami-istri tampak lusuh dengan pakaian menderesnya. Mereka menaiki sepeda onthel renta. Sang lelaki mengayuh tertatih. Di belakangnya sang istri sesekali turun. 

Lantas, aku melewatinya untuk akhirnya menjadi paham. Dari kaca spion yang tak sengaja kulihat itu, aku seperti mengenal wanita itu. 

Serasa aku tahu namanya.  

Seperti aku pernah hafal wangi tubuhnya.


Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2, Kab OKU Sumatera Selatan. Alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anggi Nugraha [Terimakasih untuk kiriman karyanya ke klipingsastra, Bung Anggi. Salam]
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Pos" Minggu 19 Maret 2017


0 Response to "Kunang-kunang Dini Hari"