Lawatan Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lawatan Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:42 Rating: 4,5

Lawatan Kenangan

SETELAH melewati kemacetan demi kemacetan, mobil kami akhirnya menikung di depan gedung besar, tempat orang-orang sakit dirawat. Dadaku sempat berdesir sebentar. Aku merasa melihat seorang bocah berdiri di depan gedung besar itu. Dia melambaikan tangan kepadaku. Ah, ini yang tidak aku inginkan. Bertemu kenangan. 

Tak lama lagi, mobil kami akan bertemu jembatan Suramadu. Mira telah tidur sejak mobilm elewati kawasan pemakaman. Mungkin sekarang dia telah hidup di alam mimpinya.

Sejak awal aku sudah berkeras tidak ingin melakukan lawatan ini. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin menyakiti diri sendiri. Tapi ibu terus memaksaku. 

”Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan menjadi wakil kami. Sempatkanlah meski hanya beberapa hari. Ingat, Pakdemu sangat berjasa dalam hidupmu.“

Demi ibu aku melakukannya, dan apa yang diucapkannya itu sepenuhnya benar adanya. Pakde memang sangat berjasa dalam hidupku. Sangat besar bahkan. Tidak akan pernah mampu aku membalas jasanya itu. ah, jika teringat akan jasa pakde, aku jadi sedih sendiri. Masih aku ingat yang dikatakan pakde waktu itu:

”Membantu orang itu tidak perlu hitung soal untung dan rugi, Nak. Kalau hidupku tidak bisa bermanfaat buat orang, buat apa aku hidup?“

Betapa mulianya kalimat itu. Kemarin, saat bertemu dengannya, air mata ini ingin tumpah rasanya. Mungkin pakde juga bisa membaca mataku, kalau aku sedang menahan sedih. Bagaimana aku tidak sedih saat melihat tubuh pakde yang kurus terbaring di kasur tanpa daya? Melihat wajahnya yang selalu damai, aku temukan sebagian kenangan tumbuh di sana. Ya, wajah damai semacamn itu pernah ditampakkan saat aku menghadapi persoalan berat. Waktu itu aku berdiri di depan tubuh anakku yang terbaring lunglai sambil memeluk bonekanya. Aku seperti melihat ajal sedang bergelayutan di pelupuk mata anakku kala itu. Pakde menepuk pundakku dan berkata:

”Ajal bisa menjemput siapapun, Nak. Ajal tak pernah peduli pada usia. Aku yakin usahamu sudah maksimal. Jadi tak perlu terlalu larut dalam sedih. Pasrahkan saja. Jalani saja cerita yang harus kamu jalani. Bukankah manusia ini mirip wayang yang harus menerima apa saja yang dalang perintah dan putuskan? Di balik kesusahan, Tuhan selalu menyelipkan kemudahan. Yakinlah itu.“

Aku paham maksud pakde, dan keyakinan kami sama. Hanya Mira yang waktu itu memberontak dengan ucapan seperti ini:

”Apa dosaku, Tuhan? Kami sudah patuh menyembahmu. Semua perintahmu aku lakukan sebaik-baiknya. Tapi kenapa Kau masih beri aku ujian seberat ini?“

Aku tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Untung pakde segera meredakan gejolak yang terjadi pada diri Mira waktu itu.

”Tidak ada yang salah dari dirimu, Mira. Ini memang ujian yang harus kamu hadapi dan kamu tidak bisa lari darinya. Tentu setiap manusia tidak sama ujiannya. Jika kau lulus melewati ujian ini dan menerima segala keputusan Tuhan dengan lapang dada, pasti derajatmu akan ditinggikan. Tidak semua manusia bisa melewati ujian seberat ini, Mira. Tidak semua. Akupun belum tentu mampu menghadapi. Ketahuilah, setiap ujian sudah dihitung kadarnya, diseimbangkan dengan kemampuan manusia yang akan menerima.”

Penjelasan panjang Pakde itu seperti embun yang menetes dari langit pagi. Membuat Mira segera sadar dan mengucap istighfar. Pakde memang bijaksana dalam menyikapi situasi yang menurut kami penuh tekanan kesedihan dan ketakterimaan. Memang benar apa kata pakde, semua ujian sudah dihitung kadarny dengan benar. Tuhan tidak akan pernah salah memberi ujian pada manusia. Akhirnya, setelah menunggu lama, anak kami tidak bisa terselamatkan juga. Dan menurutku, Tuhan telah memberikan kesembuhan yang sempurna buatnya. Meski harus menempuh jalan jauh, berliku, terjal, pakde tetap menghadiri pemakaman anak kami. Dan di pemakaman dia menyampaikan pesan begitu menyejukkan kala itu.

”Nak, siapapun di dunia ini tak akan pernah mampu menjegal ajal. Termasuk malaikat pun tidak akan pernah luput dari sasaran ajal. Semua sudah tertuliskan dengan rapi dan benar, jauh sebelum semuanya diciptakan.“

Itulah sebagian kenangan yang terekam di wajah pakde, yang menurutku, selalu meremukkan dada. Kini dia yang terbujur tak berdaya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain membisikkan pesan ketidakberdayaan: ”Sabar, ya, Pakde. Sabar.“ Hanya itu yang mampu aku lakukan.

Alasan kuat kenapa aku tidak ingin melakukan lawatan ini adalah karena aku tidak ingin bertemu kenangan. Itulah yang aku maksud tidak ingin menyakiti diri sendiri. Tapi aku berhasil melewatinya.
Mobil kami mulai merayap di tubuh Jembatan Suramadu. Sebentar lagi kami akan melintasi jalan-jalan sunyi. Jalan yang sebagian besar panjangnya ditumbuhi gelap. Kembali aku akan merekam kota-kota yang sepertinya terlihat selalu tidur.

Mira yang ada di sampingku masih terpejam. Boneka beruang ada dalam pelukannya. Kami sama-sama lelah. Perjalanan ini sungguh menguras banyak tenaga. Tapi aku masih belum bisa tidur. • 

2017 (e)

Agus Salim: lahir di Sumenep 18 Juli 1980, tinggal di Jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep Madura Jawa Timur 69416. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Maret 2017

0 Response to "Lawatan Kenangan"