Ledhek dari Blora 07 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 07 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:18 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 07

LALU kenapa aku ikut jadi korban? Bukankah aku tidak menyentuh keduanya? Aku tidak ada urusan dengan pencurian kayu jati dan minyak mentah. Urusanku adalah melacak jejak ledhek terkenal Sriyati. Untuk itu mau tidak mau aku harus menemui Darpo Yatno. Karena untuk itulah aku dibayar oleh Mas Don. Orang yang mengaku penguasaha kaya raya itu ingin dibuatkan biografi. Biaya yang kuajukan disetujui. Namun sebelum biografi kutulis aku harus menemukan jejak Sriyati.

Dari Darpo Yatno aku tidak mungkin lagi memperoleh informasi. Aku harus semakin hati-hati. Ada ranjau-ranajau tersembunyi yang tiba-tiba bisa meledak dan merenggut nyawaku. Pekerjaan yang kulakukan sekarang ini lebih mirip detektif swasta daripada ghost writer atau penulis freelance. Untunglah ketika pintu tertutup ternyata ada jendela yang terbuka. Jadi aku bisa lompat dari jendela untuk kembali memasuki padang belantara perburuan. 

Malam menjelang aku meninggalkan rumah sakit, Nirmala meninggalkan alamat rumahnya. Dia janji akan mempertemukan aku dengan neneknya yang dulu juga seorang ledhek. Rumah Nirmala hanya dua kilometer sebelum Cepu. Mudah ditemukan karena ancar-ancarnya jelas. Di belakang satu-satunya rumah makan yang khusus menyajikan menu swieke. Kepada petugas parkir rumah makan ketika kusebut nama Nirmala Jati, perawat rumah sakit daera, dia langsung menunjukkan arahnya. 

”Akhinya sampai di rumahku!“ sambut Nirmala gembira ketika aku memarkir motor di halaman rumahnya.

”Karena mudah mencarinya,“ sahutku.

”Rumahnya jelek!“

”Yang penting pemiliknya manis, haha....“ candaku. Nirmala langsung mengajakku ke ruang tamu. ”Libur berapa hari?“ tanyaku.

”Tiga hari Mas. Lumayan bisa istirahat. Mau minum apa?“

”Semua yang ada keluarkan saja, hahaha.“

Nirmala tersenyum sambil melenggok masuk ke dalam. Ketika keluar lagi ia sudah membawa dua gelas es sirup dan sepiring wingko babad.

”Mangga diminum dan dicicipi. Ini wingko babad khas Blora,“ katanya sambil meletakkan dua gelas minuman di atas meja.

”Kok sepi?“ tanyaku kemudian.

”Anakku satu-satunya masih sekolah. Nenek baru mandi. Kami hanya bertiga tinggal di rumah ini.“

Aku mengangguk-angguk. Nirmala tampak lebih cantik dengan mengurai rambutnya yang lebat sampai di pundak. Ia mengenakan daster batik corak Lasem warna hijau muda. Kelihatan dari motifnya,burung hong dan rumpun bambu. Batik Lasem sangat kental pengaruh budaya Cina.

”Suamimu bekerja di mana?“ tanyaku memecah kebisuan.

Nirmal tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum.

”Kalau tidak boleh tahu ya tidak apa-apa. Maaf kalau aku lancang menanyakan masalah keluarga.”

”Oh, tidak, tidak. Mas Sam jangan tersinggung!“ tukasnya. ”Hemm…” Ia tersenyum lagi. ”Suamiku dulu bekerja di kapal pariwisata. Dulu. Tapi setelah kecantol janda dari Bumiayu, dia meninggalkan kami. Ya sudah. Ada saat untuk bertemu, ada saat untuk berpisah. Semua harus terjadi. Lima tahun yang lalu.”

Jadi yang duduk di depanku ini seorang janda muda! Lima tahun dan belum menemukan jodohnya yang baru. Mungkin masih trauma.

”Saya panggilkan Nenek ya, dia pasti sudah selesai mandinya.“ Nirmala bangkit lalu masuk ke dalam. Ketika keluar ia menggandeng wanita yang tampak sudah tua. Mungkin sudah hampir 70 tahun usianya. ”Ini Nenek saya. Orang-orang memanggilnya Eyang Ratmi. Nek, ini Mas Sam dari Jakarta, ingin bertemu. Ayo salaman!” Eyang Ratmi mengulurkan tangan dan segera kusambut dengan hangat.

”Kok jauh-jauh Sampeyan dari Jakarta?“ tanya Eyang Ratmi.

Injih Eyang, dolan-dolan ke Blora. Senang bisa kenal Eyang, juga Nirmala,” sahutku.

”Dia itu cucuku satu-satunya. Sudah janda.”

”Ah, Nenek ini!” protes Nirmala. ”Dikira Mas Sam mau cari isteri di Blora?”

”Siapa tahu?“ sahut Eyang Ratmi.

”Mas Sam mau tanya nama-nama ledhek pada zaman dulu. Mungkin Nenek tahu.“ Nirmala menjelaskan maksud kedatanganku.

”Siapa namanya?“ tanya wanita tua itu.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 5 Maret 2017


0 Response to "Ledhek dari Blora 07"