Ledhek dari Blora 08 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 08 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:56 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 08

“SRIYATI, Eyang. Dulu sangat terkenal di Blora,” jawabku. 

”Oooo....“ Eyang Ratmi lalu diam. Dahinya berkerut-kerut seolah sedang mengingat-ingat. 

”Ya, ya. Dulu bukan hanya Sriyati yang terkenal. Juga ada Maryatun, Darsini, Mursilah, Yanti, Rukiyen, dan... siapa lagi?“

”Ratmini!“ sahut Nirmala sambil memeluk neneknya. Nenek dan cucu itu lalu tertawa.

”Tapi Eyang pernah bertemu Sriyati?” tanyaku. 

Wanita itu mengangguk-angguk. ”Kami sama-sama jadi tahanan di Plantungan.”

”Plantungan Kendal?”

”Nah, Sampeyan malah sudah tahu.”

”Pernah lewat ketika dari Sukorejo mau ke Kendal.”

”Ya… di Plantungan. Kami seperti berada di neraka. Tiap hari seperti ketemu setan dan iblis yang mengerikan.“

”Eyang bisa dekat dengan Sriyati?“

Wanita itu menggeleng. ”Sriyati itu cantik. Maka ia kerap di-bond. Tahu maksudnya?“

Aku menggeleng.

”Dibawa keluar oleh para petugas keamanan. Katanya mau diperiksa di tempat lain. Tapi kami bisa menduga, paling dibawa ke gubuk di tengah sawah.“

”Ohhh.“

”Ada juga yang di-bond, tapi tidak pernah kembali. Mungkin mati di jalan atau ditembak begitu saja. Entahlah....“

Aku mengangguk-angguk. Kisah-kisah dari Plantungan memang menyayat hati. Aku pernah membaca. Tapi oleh kelompok tertentu kisah-kisah itu dianggap berlebih-lebihan, bahkan dianggap fitnah.

”Beruntung wajahku jelek, hidungku pesek, jadi bisa selamat,“ kata Eyang Ratmi. Nirmala diam mendengarkan.

”Jadi Eyang hanya sempat tahu kalau Sriyati juga pernah ditahan di Plantungan?“

”Ya.“

Aku tidak berani bertanya lagi. Eyang Ratmi pasti menyimpan kisah yang amat pedih yang juga dialami para tahanan wanita lain. Mereka dianggap jadi bagian dari pemberontakan politik yang gagal. Lalu semua harus ditumpas habis.

“Entah berapa tahun kami tinggal di neraka Plantungan. Mungkin sepuluh tahun,“ kata Eyang Ratmi.
”Delapan tahun Nek,“ sela Nirmala.

”Ya mungkin. Tahun berapa saya dibebaskan?“

”Tahun 1978. Dua tahun kemudian saya lahir,“ jawab Nirmala.

Jadi jelas, Sriyati penah mendekam di Plantungan. Mungkin Darpo Yatno tahu banyak tentang isi kamp tahanan wanita itu. Karena itulah Mas Don memberi nama dan alamatnya agar aku bisa menemui dirinya.

Lalu apa hubungan antara Sriyati dan Mas Don?

”Nanti menginap di sini saja. Ada kamar kosong.“ Eyang Ratmi dengan lugunya menawarkan.

”Ihhh, Nenek. Apa kata dunia kalau Mas Sam menginap di sini?“ protes Nirmala.

”Ya tidak apa-apa ta. Bukankah kamu sudah resmi jadi janda?” Eyang Ratmi tertawa lirih.

”Terima kasih Nek. Suatu saat nanti siapa tahu aku bisa menginap di sini. Aku kepingin segera ke Plantungan,“ kataku.

”Mencari Sriyati?“

”Ya. Siapa tahu bisa mendapat kabar tentang dia.“

”Dulu setelah dibebaskan saya tidak tahu dia lalu tinggal di mana.“

”Aku akan mencarinya Nek.“

”Ke Plantungan?“

”Ya!“ jawabku mantap.

Nirmala berpesan setelah dari Plantungan aku diminta kembali ke Blora.

”Di musim hujan pohon-pohon jati bersemi kembali. Dulu tampak kering, setelah bersemi hutan jati tampak hijau,“ bisiknya sebelum kami berpisah.

Ah!   (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 12 Maret 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 08"