Ledhek dari Blora 09 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 09 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:28 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 09

SUKOREJO

NAMA Desa Plantungan memang terkenal sejak dulu. Bukan karena keindahan alam atau udaranya yang dingin. Juga bukan daerah penghasil jambu merah yang membuatnya terkenal. Sejak 1870 pemerintah kolonial Belanda membangun rumah sakit dan tempat penampungan orang-prang sakit kusta di situ! Mereka yang positif sakit kusta diisolasi di situ, tidak boleh berinteraksi dengan masyarakat. Entah kenapa pemerinrtah kolonial Belanda memilih Plantungan. Kenapa bukan di Sekecer. Sebuah desa yang terisolir dan berada di pinggir hutan karet. Kalau para penderita kusta itu diisolasi di Sekecer, pasti masyarakat luas makin tidak tahu. Mereka dihabisi sekalian pun tidak akan ada yang tahu. 

”Tidak sulit menemukan Desa Plantungan. Letaknya ada di perlintasan jalan alternatif Weleri-Sukorejo-Parakan-Temanggung. Pada zaman Belanda jalan itu pasti masih sangat sepi dan tidak selebar sekarang. Mungkin cukup untuk lewat jeep tentara atau mobil dokter yang merawat para penderita kusta itu. Tapi mungkin juga bukan jeep yang membawa mereka ke Plantungan. Kuda! Ya, tentara penjaga, dokter, perawat dan pasien diangkut menggunakan kuda. Karena daerah di sana-sini masih berupa hutan. Jalan berliku-liku. Jangankan malam, siang hari pun pasti tampak agak gelap karena rimbunnya pepohonan di kanan kiri jalan.

Sulit membayangkan andaikata dulu orang Temanggung mau ke Weleri atau Kendal lewat Sukorejo. Mereka harus punya nyali. Tapi kisah-kisah perampokan atau pembegalan di jalan jarang terjadi. Di majalah atau koran pada zaman Belana yang kubuka-buka di perpustakaan pusat jarang sekali diberitakan adanya perampokan di jalur tersebut. Nama Plantungan kadang masuk koran jika ada pejabat kesehatan negara pada waktu itu yang datang berkunjung.

Kala itu penyakit kusta memang jadi momok bagi masyarakat. Ada yang menganggap sebagai kutukan Tuhan atas nasib orang-orang yang malang. Meski oba-obatan sudah ditemukan, namun hal itu tidak mengurangi ketakutan masyarakat. Bahkan di Maluku pada zaman itu para penderita kusta dibuang di pulau kosong! Mereka dibiarkan hidup untuk kemudian mati perlahan-lahan dalam penderitaan.

Hmm. Aku jadi ingat film kolosal dengan judul Benhur. Lelaki gagah yang sudah jadi komandan prajurit Romawi itu memilih pulang kampung karena ibu dan saudara-saudaranya hidup terasing di dalam gua. Mereka juga sakit kusta. Penguasa setempat melarang penderita kusta tinggal di tengah masyarakat. Mereka harus hidup di gua-gua. Jika ada sanak-saudara yang akan memberi makan dan keperluan lain, barang itu diturunkan dengan tali. Tidak boleh ada kontak langsung. Lalu Benhur dengan gagah berani melawan aturan penguasa yang tidak manusiawi itu. Ia mengajak ibu dan saudara-saudaranya keluar dari gua dan mencari pengobatan pada seorang tabib.

Mungkin tidak sedahsyat itu kisa para penderita kusta di Plantungan. Yang mengalami penderitaan justru para tahanan wanita yang tinggal di barak-barak yang pernah dihuni para penderita kusta itu. Sejak tahun 1970 kompleks isolasi penderita kusta itu diubah jadi penjara wanita! Sekitar 500 wanita harus hidup dalam penderitaan, intimidasi, siksaan, tuduhan tanpa pengadilan dan terisolasi dari masyarakat sekitar.

”Ceritanya serem, Mas,” kata Kang Duki, penjual jambu merah yang kutemui. Rumahnya tidak jauh dari Plantungan. ”Saya masih remaja waktu itu. Tapi sudah sering mendengar kisah mereka yang ada di dalam tahanan. Yah, membuat bulu kuduk berdiri. Itu pada walanya. Tapi tahun-tahun terakhir mereka sudah diperlakukan dengan baik.“

”Kang Duki pernah melihat wajah-wajah para penghuni Plantungan?“ pancingku.

”Sebagian, Mas. Katanya tahanan yang masuk golongan C diperbolehkan bekerja di luar penjara. Karena mereka dianggap tidak berbahaya. Ada yang bercocok tanam di sekitar kompleks. Ada juga yang dipercaya mengajar ibu-ibu desa yang buta huruf. Bahkan ada bu bidan yang baik hati dan sering menolong orang yang mau melahirkan.“

”Emm....“

”Saya tidak tahu persis Mas, tapi katanya mereka memang berasal dari berbagai kota. Begitu ya?“
Áku mengangguk.

”Katanya lagi ada yang dulunya dokter, perawat, guru, mahasiswa, bakul, pemain ketoprak dan macam-macamlah!“

”Pernah dengar ada juga yang dulu menjadi ledhek?“ pancingku lagi.

”Katanya, iya ada.“

”Pernah dengar nama Sriyati?“  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 19 Maret 2017


0 Response to "Ledhek dari Blora 09"