Ledhek dari Blora 10 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 10 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:05 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 10

LAKI-LAKI itu tersenyum, lalu menggeleng-geleng. Antara lupa, mungkin juga ragu. Mungkin juga memang belum pernah dengar nama itu.

”Kalau nama Pak Darpo, pernah dengar?“ tanyaku mengejar. 

”Ohhh, ya, ya, Pak Kopral Darpo. Saya pernah dengar. Dia salah satu penjaga keamanan yang ditakuti, Mas. Dulu tinggalnya tidak jauh dari kantor Kecamatan Weleri. Pokoknya kalau orang menyebut nama Pak Kopral Darpo, yang terbayang adalah tentara yang gagah berani, berkumis tebal, dan galak.“

”Pernah melihat orangnya?“

Kang Duki menggeleng. ”Saya hanya dengar kalau orang-orang cerita kok. Tapi terhadap orang-orang desa Pak Kopral Darpo baik. Para maling kayu takut sekali sama dia.“

”Maling kayu?“ tanyaku.

”Ya. Kenapa?“

”Kayu apa yang dicolong?“

”Lho, ya kayu jati!” jawab Kang Duki heran. ”Dulu di sekitar Sukorejo, Weleri, sampai perbatasan Batang dan Kendal, banyak ditumbuhi pohon jati.“

”Perkebunan jati maksudnya?”

”Ya, ya. Milik negara.”

”Lalu pada dicolong?”

“Ya. Anehnya, kalau mereka tertangkap, para maling itu justru tanya kepada petugas. Pohon jati ini milik siapa? Pasti akan dijawab milik negoro. Nah, sudah jelas bukan. Negoro. Itu seperti perintah boleh negor atau menebang. Jadi mereka tidak merasa bersalah ta. Lha wong milik negoro. Silakan menebang, hahaha…” seloroh Kang Duki.

Plesetan yang masuk akal!

Di mana-mana pohon jati jadi inceran para maling. Maklum, harganya sangat mahal. Jadi bukan hanya di Blora para maling mengincar pohon jati. Di sekitar Kendal pun juga ada. Tapi itu bukan urusanku. Aku sedang tidak tertarik menulis kasus-kasus pencurian kayu jati. Itu persoalan klasik. Kalau sampai bertahun-tahun tidak ditemukan cara mengatasi, boleh bertanya kepada kampret yang terbang malam, mengapa hal itu bisa terjadi. Jawabnya mudah. Pasti ada kongkalikong!

Dari Kang Duki aku mendapat nama lagi yang sedikit banyak tahu tentang penjara wanita Plantungan. Mbah Bayan! Mantan Kepala Dusun Lampiran yang sekarang sudah uzur. Namun daya ingatnya masih bagus. Rumahnay di pinggir Kali Lampir. Kali yang mengalir persis di belakang kompleks penjara.

”Dulu saya sering menjual hasil kebun ke sana,“ kata Mbah Bayan ketika kutanya tentang penjara Plantungan. ”Kadang singkong, kadang jagung, kacang, juga beras.“

”Hasil kebun sendiri, Mbah?“ tanyaku.

Laki-laki tua itu menggeleng. ”Sebagian besar hasil kebun warga Dusun Lampiran. Mereka titip saya supaya bisa dijual ke sana. Karena tidak sembarang orang boleh masuk ke kompleks itu. Entah kenapa saya diizinkan Pak Tentara.”

”Karena Simbah jadi Bayan?”

”Ya, ya, mungkin ya,“ sahut Mbah Bayan sambil tertawa. Giginya sudah habis. Rokoknya ramuan tembakau rakyat, klembak dan menyan yang dibungkus klobot. Aromanya agak menyengat.

”Cantik-cantik Mbah penghuninya?” pancingku.

”Namanya juga wanita ta Mas, ya pasti cantik, hehehe….”

”Tapi tidak semua cantik ta Mbah?”

”Ya, ya, tidak semua. Ada juga yang hitam, pesek hidungnya, dan tidak menarik sama sekali.”
”Mbah Bayan kenal dengan Pak Kopral Darpo?”

”Ya, ya, saya kenal. Tanpa bantuan Pak Kopral Darpo saya tidak boleh masuk dan menjual hasi kebun!“ jawabnya mantap. ”Tapi setelah penjara itu ditutup, saya tidak pernah ketemu lagi. katanya jadi pimpinan Koramil di Blora. Dia pilih tugas di kota kelahirannya.“

”Jadi Pak Darpo orangnya baik?“

”Menurut saya baik. Tapi menurut para tahanan dia itu orangnya sangat kejam. Pernah ada anak buahnya yang mau memperkosa tahanan, eee, ketahuan. Lalu dihajar habis-habisan. Dia memang galak, namun disiplinnya tinggi.”

”Pernah dengar nama Sriyati, Mbah?“ kejarku.

”Sriyati?“

”Ya. Salah satu tahanan di situ. Orangnya cantik karena dulunya seorang ledhek.”  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 26 Maret 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 10"