Lelaki Pemetik Buah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Pemetik Buah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:53 Rating: 4,5

Lelaki Pemetik Buah

AKU masih percaya pada kata-kata yang diucapkan pak tua setiap kali mengatakan, ia hanyalah seorang pemetik buah. Lalu pak tua mengatakan padaku, sebagai lelaki ia bukanla seorang penebar benih. Matanya berkaca-kaca kala ia mengucapkan kalimat itu.

”Aku hanya seorang pemetik buah, karena aku tak bisa menebar benih. Begitu keringnya benihku hingga tak satu pun yang kutebar mampu tumbuh dan berbuah. Untuk apa aku hidup jika tak mampu menebar benih. Esoknya aku bertekad jika aku tak mampu menebar benih, maka aku akan hidup untuk memetik buah yang terlantar, menjaga buah itu, dan merawatnya baik-baik.”

Pak tua memang tak memiliki anak kandung. Betapa besar keinginannya memiliki keturunan memang tak pernah terwujud. Ketika usia perkawinannya mencapai angka 50, ia ditinggal mati istrinya. Pak tua kemudian menikah dengan seorang perempuan yang memiliki gangguan jiwa yang ada di kampungku. Selalu saja ia berkata padaku, tujuan hidupnya hanyalah untuk memetik buah yang telantar. 

Begitulah, ia mengaku tak pernah menebar benih pada perempuan gangguan jiwa itu, ia hanya ingin menyelamatkan buah yang dikandung perempuan itu. Aku tahu, perempuan itu memang bunting, perutnya lama-kelamaan terlihat membuncit, namun aku tak tahu dengan siapa ia bunting. Pak tua terlihat bersemangat menjadi bapak dari anak yang dikandung perempuan itu.

Apakah pak tua mengatakan hal yang sejujurnya ia benar-benar bukan orang yang menebar benih di perut perempuan itu? Kalau saja itu benar, begitu mulianya ia di mataku sebagai seorang lelaki yang belum tentu mau berbuat seperti itu. Hanya saja orang-orang sekampungku menganggap itu hanya sebagai modus. Apa pun yang diucapkan pak tua, tak mereka percayai. 

Aku tak tahu apakah orang-orang sekampungku itulah yang benar, ataukah pak tua yang memang jujur. Pak tua tiba-tiba saja mengajukan diri mengawini perempuan gangguan jiwa itu. sejak itulah, pak tua memiliki citra yang buruk di mata orang-orang kampungku. Lalu pernikahan itu pun terjadi, dan perempuan gangguan jiwa itu tak jadi diusir dari kampung seperti ada kebiasaan terdahulu yang sudah tertanam di kampungku.

Aku terus berkawan dengan pak tua karena di sana aku menemukan sosok bapak yang memang sudah lama tak kupunya. Aku menguntit ke mana pun ia pergi jika aku luang. Orang-orang di kampungku berpesan tidak terlalu akrab dengan pak tua, agar aku tak tertular kelakuannya yang suka membuntingi orang. Dan aku mengangguk, namun tetap tak melakukan pesan itu. Ingin rasanya membela pak tua, tapi rupanya sesuatu membuatku mulai meragukan pak tua. 

Aku memang tak menuduh pak tua, namun pengakuan pak tua sendirilah yang kemudian menyudutkannya. Dan aku tak menyangka bahwa pak tua mengajukan diri menjadi suami perempuan belia usia belasan dikampungku, yang kebetulan bunting tanpa lelaki. Aku masih tertegun melihat sikap pak tua. Seperti ada kebiasaan di kampung kami, seorang perempuan yang bunting tanpa lelaki akan diusir dari kampung. Tampaknya aturan ini tak berlaku jika ada lelaki yang mau mengakui dan mengawini perempuan bunting itu.

Orang-orang kampung mengolok-olok pak tua sebagai orangtua yang memiliki kelakuan tak pantas. Ketika pak tua benar-benar berhasil mengawini perempuan belia itu, maka tetua kampung pun mengubah aturan.

”Tak dapat dibiarkan,“ kata seorang tetua.

”Hari ini juga, kita mesti mengubah aturan. Pak tua atau lelaki lain yang tidak punya malu bisa berbuat semaunya. Asal mau mengakui dan mengawini perempuan yang sudah dibuntingi, Pak Tua bisa membuntingi banyak perempuan di kampung kita tanpa takut diusir.“

”Kampung kita bisa menjadi berantakan, pun permepuan-perempuan di kampung kita.“

Aku berdebar menyimak pembicaraan itu. 

”Tapi pak Tua hanya ingin menolong perempuan yang kebetulan bunting itu agar tidak diusir meski kemudian ada seorang lelaki yang mengakui perbuatan dan mau mengawininya. Lelaki yang mengakui dan mau mengawini itu sekaligus juga harus diusir.“

Aku menjauhi kerumunan itu dan masuk ke rumah pak tua.

”Ada apa?“ tanyanya.

Aku mendekatinya dan mengatakan padanya aturan baru yang akan berlaku di kampung kami. Pak tua menataku dengan penuh pengertian.

”Dulu, sekarang, atau besok tetap sama saja. Tujuan hidupku adalah menjadi lelaki pemetika buah. Kampung ini ibarat kebun. Pohon-pohon berbuah tanpa disengaja oleh si pohon, entah siapa yang membuahinya, tak ada yang mau mengaku, atau tak berani mengaku. Begitu juga buah-buahan yang telantar, tak ada yang mau memetik, menjaga, dan merawat. Dua pohon sudha kuselamatkan agar tak ditebang dan dibuang. Dua buah sudah kujaga dan kurawat agar tak digugurkan sebelum matang.”
Seteleh perempuan belia itu melahirkan buah yang sudah dikandungnya, seorang bayi tanpa dosa, aku kembali disentakkan sesuatu. Orang-orang kampung sudah terlalu lelah dengan bertambahnya perempuan yang bunting tanpa lelaki. Dan ibuku bagai seonggok pohon layu yang tercerabut akar-akarnya. Seperti pada umumnya seorang anak, rasanya seperti jatuh ke lubang tanpa dasar begitu mengetahui bahwa ibuku sendiri adalah perempuan selanjutnya di kampungku yang bunting tanpa lelaki.

Aku hanya memiliki satu ibu. Ibuku pohon teduh yang selalu menjagaku dengan ranting-rantingnya yang berdaun sejuk. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa pohon teduh itu akan layu dan tercerabut dari akarnya. Sesekali aku masih berusaha mengingat dengan lelaki mana saja ibuku biasa bertegur sapa. Tidak ada yang pantas dicurigai. Dan tiba-tiba pak tua muncul membela ibuku.

Pak tua tampil seperti dulu ketika membela seorang perempuan gangguan mental, dan seperti dulu ketika membela seorang perempuan belia. Apa pun yang diucapkan pak tua tak ada yang percaya. Ya, hanya orang bodohlah yang masih mau percaya kata-kata pak tua. Ya, dan aku bukanlah orang bodoh yang mampu ditipu kesekian kalinya. Kini aku turut menghujat pak tua karena aku dan ibuku harus diusir dari kampung.

Aku bahkan ingin berusaha mencekik leher kurus pak tua, agar suaranya lenyap dan aku tak lagi mendengar kebohongan demi kebohongan. Pak tua hanya terdiam melihat sikapku yang brutal.

”Aku tidak percaya padaku,” kataku.

”Pohon itu akan layu dan mati jika tidak kupelihara. Buah itu akan gugur dan busuk jika tidak kujaga,“ katanya padaku.

”Aku tak bisa memahami sikapmu,“ jawabku.

Dua perempuan bunting sebelum ibuku memang tidak diusir, tapi tidak demikian dengan ibuku dna aku yang harus terusir karena perbuatan entah siapa yang dengan sengaja namun tak berani mengakui, telah menabur beninh di perut pohon teduhku: ibuku.

Tidak ada yang bisa mempertahankan kami tetap tinggal di kampung, meski pak tua sudah mati-matian membela ibuku dan bersedia mengawini ibuku. Jika saja ibuku mau bersuara, maka akan terbongkarlah siapa lelaki di balik buah terlantar itu. rupanya sebagai pohon, ibuku satu pohon dalam hutan yang berkabut. Suaranya terpenjara dalam kabut yang menyelimuti ranting-rantingnya.

”Sepanjang hidup, aku akan tetap menjadi lelaki pemetik buah. Karena itulah aku akan tetap mengawini Ibumu,“ kata Pak Tua.

Aku hanya mampu menggeleng.

”Tapi aku juga tak sudi disuri dari kampung konyol ini karena dua istriku tinggal di sini,“ kata pak tua lagi, ”Kamu dan Ibumu juga tak usah pergi dari kampung ini, karena aku yakin ini bukan salah Ibumu apalagi salahmu.“

Aku tak menyahut.

”Aku akan menjaga kalian berdua, dan buah dalam perut Ibumu,“ katanya kemudian.

Aku tak menurut. Aku menembus kerumunan orang-orang di kampungku dengan tangan ibu dalam genggamanku. • 

Kulonprogo, 2017


Kristin Fourina: lahir di Yogyakarta, 13 November 1987. Alumni Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Tambak 012/006 Triharjo Wates Kulonprogo.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kristin Fourina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Maret 2017

0 Response to "Lelaki Pemetik Buah"