Lukisan Bapak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Lukisan Bapak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:47 Rating: 4,5

Lukisan Bapak

BAPAKKU terlahir dengan nama R Mat Djaya, berperawakan kurus dan memiliki hidung yang bangir. Pada tahun 1965 kakekku yang bernama R Djaya mempersunting gadis keturunan Betawi yang bernama Simah. Kemudian pada tahun 1968 keluarga Betawi itu melahirkan putra pertamanya yang kini menjadi bapakku. Dan aku Jan Nik Harsulung putra pertama dari pernikahan Bapak R Mat Djaya dengan Bening Ayu. Aku sendiri memiliki  seorang adik perempuan bernama R Djenar Ayu. Aku dan Djenar terpaut usia empat tahun lamanya.

BAPAKKU tumbuh menjadi pemuda yang amat diidam-idamkan kaum hawa pada masanya. bagi siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona. Pembawaannya yang perlente itu sudah terpancar dari kejauhan. Masa kecil bapakku tidak jauh beda di tahun-tahun kelahirannya. Bermain di sawah mencari keong atau bermain bola di lapangan tanpa alas kaki. Bapakku sangat jago sekali melukis sejak usianya masih belia.

Bapak mulai melukis di atas media kayu berukuran 23 kali 7 cm pada usia 20 tahun. Lukisan bapak di aats media kayu inilah yang membuatnya mampu bertahan kuliah di jurusan ilmu pemerintahan. Di atas kayu bapak berekspresi lewat keindahan alam yang ada dalam pikirannya. Lukisan bapak itu sangat memadati unsur artistik. Nuansa alam yang sunyi sangat tersampaikan lewat jembatan kosong yang dibangunnya di hadapan air terjun. Hijau menjadi warna dominan dan warna kuning kegelapan menjadi unsur keduanya. Lukisan bapak tanpa judul itu dibeli oleh salah seorang perempuan keturunan Jawa. Wanita itu adalah Bening Ayu yang dipersuntingnya pada tahun 1995.

**
CINTA itu memang butuh pengorbanan apa pun akan dilakukan. demi bilurnya kasih sayang. Keletihan karena mengasuh tiga orang ini sungguh tak dipandang sama sekali oleh Kakek Djaya. Setelah naik pangkat menjadi camat di Kota Bekasi pada tahun 1975 kakek semakin menunjukkan gelagat yang tidak disukai para istri-istri pada umumnya. Nikah siri. Nikah lagi. Dan nikah lagi.

Sebelum kakek menyandang status Pak Camat ia dulu adalah seorang pegawai bersih-bersih di kantor kecamatan. Bapak tidak lahir sendirian karena dua tahun kemudian sang adik perempuannya lahir dan diberi nama R Lela Djaya yang kemudian menjadi bibiku.

Selang tiga tahun kemudian Bik Lela tidak jadi anak bungsu. Karena, sang adik lahir yang diberi nama R Utari Djaya yang kemudian menjadi bibiku. Nenek Simah dengan sangat sabarnya merawat anak-anak. Sifat penyabar inilah yang sangat diturunkan kepada bapakku. Nenek Simah memiliki impian untuk dapat menyekolahkan anak-cucunya sampai menjadi tukang insinyur.

Keluarga bapakku membentuk klan besar yang bersumber dari Engkong Haji Sailun. Jadi, tidak heran jika di dalam kampung itu bapak hidup bertetangga dengan mamang, encing, dan keponakannya. Saat sedang jaya-jayanya menduduki tahta Kakek Djaya gelap mata oleh wanita. Tanah-tanah strategis yang ada di kota dimilikinya. Rumah dan mobil beserta sopirnya pun ia miliki semuanya. Tetapi kegelapan di rumah nenekku semakin pilu. Sudah tak terhitung lagi luka yang dirasakan Nenek Simah saat dicampakkan begitu saja oleh Kakekku. Dulu saat masa-masa sulit Nenek Simah selalu setia menemani. Tetapi semua gilang-gemilang dunia punah sudah karena direnggut oleh juwita-juwita malam yang dinikahinya. Nenek Simah semakin kewalahan menghadapi sikap Kakek Djaya tetapi Nenekku tetap mampu bertahan karena mengingat tiga buah hatinya.

Saat bapakku masih kecil ia selalu menangkap kesedihan Nenek Simah yang dicampakkan oleh Kakek Djaya. Sudah tiga hari tidak pulang ke rumah dan tanpa kabar untuknya. Pada umur sembilan tahun bapakku sangatlah kritis menanyakan di mana Kakek Djaya berada. Sedang apa dia di sana dan sedang bersama siapa di sana. Tetapi Nenek Simah selalu punya alasan yang mampu meredam kerinduan putra sulungnya yang berhidung bangir itu.

"Buk, ayah sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Ayah sedang di mana Buk?" tanya Bapak kepada Nenek Simah.

"Sabar Nak, Ayah sedang mencari uang agar kamu dan adik-adikmu dapat bersekolah," ketidakjujuran Nenekku pada Bapak.

"Oh, mengapa kita tidak diajak ikut serta bersamanya? Semoga Ayah selali ingat kita-kita di rumah ya Buk," pungkas bapakku.

Ah. Pengakuan bapakku yang merindukan Kakek Djaya tak sempat dititipkannya pada hujan. Bapak tiada mampu mengirimkan bendungan air mata nenek untuk kakekku. Bapak hanya mampu menulis kerinduannya pada buku kecil yang selalu diselipkan di bawah bantal lusuhnya. Ketika itu bapakku yang telah menginjak umur sembilan tahun telah dipaksa untuk mengerti arti kerinduan pada sososk sang ayah.

Sudah tiga hari tiga malam tak kunjung pulang ke rumah akhirnya pada hari ke  empat Kakek Djaya pulang juga. Nenek dengan sangat bijaksananya membukakan pintu yang terbuat dari kayu jati itu untuk suaminya. Tetapi tak dinyana suaminya malah menggandeng gadis lagi. Setelah turun dari mobil safari itu. Kakek Djaya merangkul seorang wanita dan memboyongnya masuk ke rumah Nenek Simah. Semua orang di kampung juga mengetahui sifat buruk kakekku yang kian menjadi itu. Lagu lama itu terus terjadi dalam rumah tangga nenekku. Dan lagi bapak telah kehilangan sosok panutannya di rumah. Kejadian itu semakin membuat pilu hati nenekku.

Nenek sembari membuka pintu tanpa senyum berlalu meninggalkan mereka berdua. Iya. Mereka hanya berdua di rumah. Karena pada saat itu bapak sedang bermain sementara Bik Lela dan Bik Uut sedang sekolah.

"Roh, abang iparmu membawa gadis lagi ke rumahku."

Begitulah kata-kata yang selalu dicurahkan nenekku kepada adiknya. Rumah Encing Rohati tidak jauh dari tempat tinggal nenekku. Jadi biar Mbah Buyut masih hidup pun nenekku enggan mengadu kebiruan hatinya pada orangtuanya itu. Nenek hanya diam karena baginya diam telah mengartikan banyak kata-kata. Paling nenek hanya menangis di rumah Roh adik perempuan satu-satunya itu.

Roh tak mampu membantu banyak paling hanya doa dan mengucapkan sabar kepada Nenek Simah.. Bapak tidak mengetahui kejadian itu karena sedang bermain. Selepas bermain bapak pulang ke rumah dan melihat wanita lain sedang duduk-duduk manis di ruang tamu rumahnya.

"Di mana ayahku?" Bapak bertanya dengan sinisnya kepada wanita itu.

Kemudian Kakek Djaya keluar dari kamarnya setelah selesai berganti baju. Niat Kakek Djaya pulang hanya ingin membawa beberapa baju ganti. Dan pergi lagi bersamanya. Bapakku malas melihat punggungnya. Ini sudah kali kedua bapak melihat wanita lain di rumahnya. Tanpa menyunggingkan senyum bapak berlari ke rumah Encing Roh. Bapak mencari Nenek Simah. Karena setiap ada wanita lain di rumah pasti Nenek Simah menangis di rumahnya.

"Buk, itu ayah membawa siapa lagi di rumah?"

Pertanyaan yang semakin membuatnya menangis itu telah memecahkan udara yang lebih sempit di dalam dadanya.

"Di mana Lily dan Uut Buk?" pungkas bapakku kepada Nenek Simah.

Lily dan Uut sedang berada di sekolah sebentar lagi juga pulang. Seingat bapakku saat itu Nenek Simah hanya memeluknya erat dan mengelus kepalanya sembari berurai air mata yang jatuh di baju mainnya. Alasan untuk bercerai sebenarnya sudah sangat jelas sekali bukan. Tetapi mengapa nenek mengurungkan niatnya?

Bapakku berkata kepada Nenek Simah, "Buk, ayah dengan wanita itu pergi lagi. Jadi kepulangan ayah ke rumah hanya untuk mengambil baju salin."

Kalimat yang amat jujur bapakku dikatakan kepada sang Ibu yang sungguh mati pun Nenek Simah tak ingin tahu keberadaan suaminya itu.

Kakek Djaya sudah tidak jaya lagi seperti tahun-tahun kemarin. Sedikit demi sedikit kakek mulai menjual tanah-tanah strategisnya di tengah kota.

Nenekku mulai sakit-sakitan karenba TBC yang dideritanya. Batuk-batuk parah yang dideritanya tak kunjung sembuh. Entah mengapa Nenek Simah selalu urung untuk dibawa ke rumah sakit. Alasannya sederhana, bukan karena tidak ada biaya, nenek hanya takut jarum suntik.

**
BIK Lela kecil merengek minta dibuatkan pesta ukang tahun yang meriah. Malam hari tetangga dan kerabat dekat Nenek Simah sedang repotnya mengurus acara ulang tahun anak keduanya itu. Balon, kue cokelat, dan bingkisan sudah rapih dikemas. Esok hari acara tiup lilin pun akan dimulai. Bik Lela terlihat manis sekali mengenakan baju pesta berwarna pink dengan sepatu barunya itu. Satu per satu tamu undangan memasuki tempat acara pesta ulang tahun Bik Lela. Sementara ayahnya sedang anteng dengan wanita lain. Keluarga yang terlihat hari itu hanya Nenek Simah,bapakku, Bik Uut, Encing Roh, Engkong Sailun, dan tentunya para tamu undangan.

Sebetulnya sebelum acara pesta ulang tahun itu berlangsung, kondisi Nenek Simah semakin parah. Tetapi Nenek Simah tak ingin menunjukkan rasa sakit pada anak-anaknya yang sedang merayakan kebahagiaan. Tepat pada malam setelah acara tiup lilin Bik Lela, Nenek Simah terjatuh. Beberapa tamu undangan masih ada yang sedang berbincang di acara itu. Sembari memegang rasa sakit di dadanya. Nenek Simah terjatuh saat sedang mengambil air putih yang ada di hadapannya. Suara gelas cantik yang pecah pada malam itu membawa Nenek Simah ke pangkuan Sang Khalik. Setelahdiperiksa denyut nadinya oleh Mang Baron, aliran darahh Nenek Simah sudah berhenti. Akhirnya Mang Baron berinisiatif untuk menyewa angkutan kota dan membawa Nenek Simah ke Rumah Sakit Umum Daerah. Sementara Bapak, Engkong Sailun, Encing Roh, dan Bibik ikut serta.

"Buk. Bangun Buk. Aku masih ingin bersama Ibuk lebih lama," tangisan bapak yang semakin kehilangan sosok penyabar seperti ibunya. Sementara di pojok bangku angkutan kota Bik Lela dan bik Uut yang masih mengenakan gaun pesta hanya mampu menangis sejadi-jadinya.

"Roh, dimane emang ntu si Djaya, bini lagi sekarat ge kagak inget pulang napa ya?" tanya Engkong Sailun kepada Encing Roh.

"Sudah Ba, jangan ditanyain keberadaan Bang Djaya. Mungkin Bang Dajay sudah lupa dengan anak-bininya di rumah. Terakhir pan Mat sendiri nyang lihat Babanya pergih lagi ama perempuan laen," jawaban Encing Roh pada Engkong.

Bapakku terlahir dari darah Betawi asli, hidup dan besar di tanah Betawi. Bapakku juga memiliki saudara tiri yang entah di mana rimbanya sekarang. Dekat tepi kali Bekasi, Bapakku tinggal di rumah yang sangat luas. Kini Bapakku hidup bersama lukisannya bersama cinta yang dibawa gadis keturunan Jawa itu.  Sementara aku masih tetap berjuang untuk menjadi tukang insinyur seperti keinginan Nenek Simah.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya R Ravika Dwi Daningtyas
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 12 Maret 2017

0 Response to "Lukisan Bapak"