Melihat Yogya - Selarit Merah di Atas Selat - Tentang Marie - Seribu Kuda Tuan Kusno | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Melihat Yogya - Selarit Merah di Atas Selat - Tentang Marie - Seribu Kuda Tuan Kusno Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:12 Rating: 4,5

Melihat Yogya - Selarit Merah di Atas Selat - Tentang Marie - Seribu Kuda Tuan Kusno

Melihat Yogya I

mengingatkanku pada bekas tanda cacar di lengan ibu saat
menggendongku
selebihnya suara mesin
kerlap tembok dan kerlip kacak-kaca
membuatku menjadi tanda tanya.

Melihat Yogya II

yogya adalah sebuah renungan bersama.

Januari, 2017


Selarit Merah di Atas Selat

: Kiki Sulistyo

burung-burung menjilati udara asin. mereka terbang dengan sayap-sayap yang rindu perjuangan. pertunjukan teater di tengah gelombang telah dimulai. lihatlah, sandal jepit dan bungkus mie instan ramai berdiskusi, botol plastik sedang jatuh hati. di atas kapal seorang lelaki bernapas dengan kesabaran. aku melihat selarit merah di langit siang yang bengal. siang yang menggigit kulitku dengan tarian api hari depan.
mendengar suara laut seperti nyali dan janji saling berkejaran menuju nyala. Di sana kesenian akan lahir menjadi bayi-bayi
berwarna emas.
kapal-kapal berlayar menuju tanah-tanah leluhur, tempat hati ini hidup. membuat pelita: selarit merah.

Padang Bay-Lembar, Januari 2017 

Tentang Marie I

Ibu melahirkanmu sambil membayangkan surga dalam tubuhnya
ayah memotong pusarmu dengan sejuta doa dan koin emas
napasmu yang harus menjadi dunia kecil yang dicintai
malaikat
adalah dirimu dan cerita esok pagi

Tentang Marie II

gigimu belum ada yang tumbuh.
hidung dan pipimu masih berbau jari jemari tuhan
aku melihat segala kebaikan saat kamu tertawa lebar
dan segala dosa berlari ketakutan melihat halus pantatmu
tertawalah sekali lagi untuk ingatan abadi


Tentang Marie III

kamu selalu berenang-renang di mata ayah dan ibu
lincah rianglah agar mata ayah dan ibu bernyanyi nari
marie, kamu adalah sinar yang bergerak-gerak lucu
di mata dunia

Plesungan Karanganyar, 2017 


Seribu Kuda Tuan Kusno

lihatlah seribu kuda berkejar pacu di punggung tuan kusno. suara derap kakinya seperti masa lalu yang hilang ditelan kenyataan. seperti tahun-tahun yang lelah dan buram. Kuda-kuda itu tertidur di telapak tangan tuan kusno. sebab di sana ada nyala yang teduh. tempat energi dan cinta bersemayam. tiap hari ia bersamadi menjadi rumput. menjadi keringat. menjadi suara ringkik kuda jantan. inilah perjalanan itu. bukan demi juara atau piala. sejujurnya ia hanya ingin menghias dinding rumah dengan tawa riang istri dan anak-anaknya.
seribu kuda terus berpacu melewati luka-luka. lamunan panjang, rindu, mara hingga menembus kabut kesadaran. demi mimpi dan hari ini.

Januari 2017


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Andy Sri Wahyudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Maret 2017



0 Response to "Melihat Yogya - Selarit Merah di Atas Selat - Tentang Marie - Seribu Kuda Tuan Kusno"