Menanak Batu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menanak Batu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:48 Rating: 4,5

Menanak Batu

HIDUP segan, mati pun tak mau. Begitulah barangkali hidup yang dijalani Nyi Seruling. Kau boleh merasa heran sebab namanya yang tak lazim untuk nama seorang perempuan atau barangkali memang tidak cocok dijadikan nama apa pun sehingga terdengar tidak seperti nama manusia kebanyakan. Nama itu diberikan oleh bapaknya, yang dikenal orang-orang se bagai petani yang suka memainkan seruling. Sayup-sayup seruling akan terdengar ketika Subuh telah purna atau siang hari ketika duduk beristirahat di gubuk yang dibangun di tengah sawah dengan naungan sebuah pohon randu yang teduh.

Hari-hari Nyi Seruling dihabiskan untuk menggarap sawah dan ladang. Ladang itu berada di dekat Sungai Bodri. Jika badannya sedang tidak enak, ia mengistirahatkan tubuh dengan cara mengurungkan niatnya pergi ke ladang atau sawah. Yang selanjutnya ia lakukan adalah melamun.

Usianya sudah berkepala enam, sementara kini ia mesti merawat dan menghidupi dirinya sendiri.

Tak jarang di sela-sela melamun, ia menyanyikan tembang macapat apa saja. Pocung, gambuh, maskumambang, dan tembang-tembang lainnya. Lalu ia mengingat percakapan kecil ibunya saat hasil panen keluarganya gagal, sementara utang-utang belanja dan gaji para buruh tani mesti dibayarkan.

“Gusti Allah tidak tidur, Nduk. Gusti Allah niku mireng, Maha Mendengar, Maha Mengetahui segala kebutuhan kita.”

“Tapi, Bu…”

“Ingat, kebutuhan, bukan keinginan.” Ibunya merangkul dan mendudukkannya di pangkuan.

Nyi Seruling hanya mengangguk meskipun sebenarnya dadanya masih bergemuruh, seolah tanah-tanah beserta batu-batu runtuh sebab longsor diguyur hujan badai yang berkepanjangan.

“Kalau gagal panen begitu kita rugi banyak ya, Bu? Lalu bagaimana?”

“Memang benar, kita rugi banyak. Tapi, Allah pasti mengganti rezeki kita dalam wujud yang lain, bahkan berlipat-lipat. Terkadang kita tidak menyadari nikmat yang teramat besar yang telah diberikannya sehingga membuat kita lupa.”

“Misalnya?”

“Kesehatan.”

“O, begitu ya, Bu.”

“Dan masih banyak yang lain.”

Nyi Seruling tersenyum. Tangan- tangan keriputnya menyerut daun kelapa kering yang jatuh di sebelah rumahnya dengan sebuah pisau kecil untuk dijadikan lidi yang kemudian diikat menjadi sapu. Sapu itu selanjutnya akan ia tawarkan kepada para tetangga di dekat rumahnya. Kadang ada yang mau, kadang akhirnya ia pakai sendiri. Atau kadang-kadang yang lain, ia berikan cuma-cuma kepada yang membutuhkannya.

Selain menyerut daun kelapa yang jatuh dengan sendirinya karena tidak selalu terjadi setiap hari, ia mengumpulkan klaras: daun pisang yang sudah kering dan berwarna cokelat.
Kali ini tidak ia jual, tetapi ia pergunakan sendiri untuk menghidupkan perapian tungku.

***
Kabar kematian anaknya beberapa bulan yang lalu membuatnya sangat terpukul. Tidak ada firasat buruk apa pun yang ia rasakan. Barangkali memang begitulah cara kerja kematian, serupa aliran listrik yang mengalami korsleting, mengejutkan.

Pilang, begitulah mendiang suaminya memberi nama untuk anak lelakinya, mengalami kecelakaan pada suatu siang yang terik. Pilang bermaksud hendak pergi ke Semarang karena ada keperluan. Ia tidak memiliki kendaraan pribadi sehingga ia mesti pergi menggunakan jasa angkutan umum. Tentu saja Nyi Seruling mengizinkan sebab ia memang tidak merasakan pertanda buruk apa-apa yang bertaut hubung dengan nasib yang menimpa anaknya.

Tepi jalan yang riuh dan disesaki asap kendaraan, bus demi bus berlalu lalang merayu para penumpang. Pilang terlalu khusyuk berpikir entah apa yang ada di benaknya, barangkali ini bagian dari pertanda, hingga telinganya tidak terlalu hirau dengan teriakan kondektur yang melewati jalan aspal yang bahkan berada sangat dekat dengannya. Lantas ia sadar dan bergegas, tetapi bus itu telah jauh berada di lajur kanan. Ia tidak sabar dan berlari menyeberang.

Di tengah-tengah jalan raya ia merasa kebingungan sebab lalu lintas kendaraan teramat padat. Kesalahan yang dilakukannya adalah ia tidak berhenti di tengah-tengah jalan raya, tetapi justru berlari mundur ke belakang menuju tepian jalan. Belum sampai pada tepian jalan, sebuah kendaraan bermotor menabrak tubuhnya hingga terjungkal. Beruntung tidak ada truk yang melindas tubuhnya, tetapi tetap saja nyawanya tidak tertolong.

Dada Nyi Seruling berdebar, tidak jarang ia mengurutnya dan menepuk-nepuk dengan tekanan kecil. Ia menduga-duga rupa kematian seperti apa yang akan menemuinya sebab ia sadar usianya sudah tidak lagi muda. Meskipun sebenarnya kematian tidak mengenal segi usia, bukankah ia, kematian, adalah sesuatu yang pasti datang?

Ia membayangkan segala kebaikan yang sudah dilakukan selama hidupnya, dan ia teramat merasa kesulitan. Bukankah aku bukan orang yang jahat? Tapi, mengapa sulit sekali mengingat kebaikan yang kulakukan? Ia membatin. Keringat dingin menyatu bersama debar jantung yang kian tak tenang. Jika sudah seperti itu ia memilih bergegas pergi ke belakang, mengambil air wudhu dan menunaikan shalat sunah. Lalu ia akan berlama-lama berdoa, berzikir, dan bertafakur kepada Allah dalam duduknya yang khidmat.

Hal lain yang membuat Nyi Seruling merasa gagal sebagai manusia adalah bahwa ia tidak memiliki keahlian lain kecuali bertani, berladang, dan membuat sapu lidi. Keahlian lain yang dimaksud adalah semisal membaca atau menulis. Sehingga, ia buta akan apa-apa saja yang bertebaran di koran, majalah, serta sumber informasi tertulis lainnya. Ia juga tidak tahu cara menggunakan handphone, meskipun hanya sekadar mengirim SMS.

Pernah suatu kali ia hendak menulis surat untuk menantunya yang bekerja di Hong Kong sebagai TKI, tetapi jarang sekali pulang. Ia tidak bisa menuliskannya, maka ia perlu meminta tolong kepada Pita, tetangga sebelah yang baru saja merampungkan pendidikan SMP-nya. Yang paling membuatnya tidak nyaman ialah bahwa ia tidak bisa menuliskan perbincangan yang sifatnya rahasia. Tentu saja ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui rahasianya, termasuk Pita.

“Mengapa Nyi Seruling tidak mau sekolah?”

“Kupikir sekolah itu tidak penting. Kupikir…”

“Padahal, kata Mama, dulu orang tua Nyi bersedia membiayai berapa pun.”

“Ya.”

“Jadi, tidak bisa menulis surat, ‘kan sekarang. Hehe.”

“Ada kamu.”

“Tapi, tidak mungkin setiap saat aku bisa membantu Nyi, kan?”

“Iya. Enak ya kamu bisa menulis. Usiamu masih muda.”

“Mestinya begitu. Usia muda harus digunakan untuk belajar. Kata Mama, menuntut ilmu itu wajib, dari manusia lahir sampai liang lahat. Begitu.”

“Iya, ya. Nyi baru tahu.”

“Hehe.”

“Mau mengajari Nyi menulis?”

“Mauuu. Eh, memangnya Nyi Seruling bisa melihat huruf dengan jelas?”

Matanya yang lamur digerogoti usia tentu susah menerima pelajaran baca tulis dari Pita, belum lagi tulisan Pita kecil-kecil seperti semut. Begitu juga kepalanya yang sudah susah mengingat. Ia semakin merasa asing. Semakin tidak tahu harus bagaimana. Semakin menyesal. Semakin batu. Semakin tidak mau hidup, tapi semakin takut mati.

***
Suatu pagi, Nyi Seruling pergi ke sebuah jalan yang dipenuhi batu-batu. Jalan itu berada di samping Balai Desa yang tidak jauh dari rumahnya. Ia berjongkok lantas mengum pulkan beberapa dan menyimpannya dalam kandutan kerudung panjangnya yang semula ia sampirkan di pundak.

“Untuk apa Nyi Seruling mengum pulkan batu-batu itu?” Sawitri menegur.

“Untuk digunakan.”

“Iya tahu. Maksudnya mau diapakan?”

“…”

“Aku tahu, pasti untuk menambal jalan becek di depan rumah Nyi Seruling, kan?”

“Bukan.”

“Lantas?”

“Batu ini akan kumasak di atas tungku hingga tanak.”

“Mana bisa begitu?”

“Bisa. Ikutlah ke rumahku jika ingin melihat.”

Maka kemudian Sawitri mengekor di belakang Nyi Seruling menuju rumahnya. Kadang ia berbisik ketika menemui seseorang atau banyak orang di jalan yang dilewatinya. Beberapa di antara mereka merasa kasihan kepada Nyi Seruling. Mereka berpikir Nyi Seruling kehabisan beras sehingga berpikir gila hendak menanak batu seperti kisah seorang ibu yang kelaparan bersama anak-anaknya pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Beberapa perempuan datang ke rumah Nyi Seruling dengan membawa buntalan nasi dan lauk, yang lain datang membawa beras beberapa kilogram.

Selesai menyiapkan piranti untuk menanak batu, Nyi Seruling sedikit kelelahan. Ia duduk sejenak di sebuah dingklik kayu.

Kaget. Orang-orang berduyun-duyun datang ke rumahnya. Memenuhi pintu, memenuhi teras, memenuhi dapur yang sesak dengan asap yang mengepul menembus ruang-ruang udara.

“Kalian ada perlu apa? Aku tidak sedang ingin membeli beras, nasi, dan lauk-pauk.”

Satu per satu menyampaikan maksud hendak membantu Nyi Seruling dan hanya dibalas dengan tawa kecil olehnya.

“Jadi begitu. Kalian melihatku seolah sedang sekarat kekurangan bahan pangan hanya karena aku memungut batu dan menanaknya di atas tungku? Kalian salah. Berasku masih banyak. Lihatlah ember itu kalau kalian tidak percaya. Berikan beras-beras kalian itu kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Bukan aku. Kebanyakan dari kita memang sering kali begitu. Berniat membantu hanya setelah melihat gejalanya, hanya setelah sebuah sebab dari peristiwa terjadi, bukan malah mencegahnya.”

“Lalu batu itu untuk apa, Nyi?”

“Aku hanya sedang ingin menikmati hidupku yang serupa batu-batu itu. Tak mungkin menjadi lunak meskipun sudah ditanak berjam-jam. Sebab usia senja telah datang dan penyesalan tinggal penyesalan. Tapi, tentu saja masih bisa kuupayakan hal-hal baik, seperti halnya batu- batu yang kelak dilukis atau dipahat, akan menghasilkan sesuatu yang baru dan bernilai.”

Orang-orang mengangguk, pulang. Sebagian mengernyitkan dahi dan sebagian lain mengangguk, bahkan ada yang menggerutu. Ah…

Kendal, 2014


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fina Lanahdiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 12 Maret 2017

0 Response to "Menanak Batu"