Menunggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:46 Rating: 4,5

Menunggu

JENDELA terbuka. Angin kencang menerbangkan tirai jendela. Ranting pohonan saling tabrak. Daun-daun, kertas, plastik pembungkus, terseret-seret di permukaan jalan depan rumah. Awan putih bergerombol membuat langit serupa ladang cendawan.

Azan terdengar lebih nyaring. Saya menghela napas.

Di waktu seperti sekarang, seingat saya, sepeda motor itu berhenti di depan rumah. Mesin motor yang mengeluarkan suara mirip balon helium kempis itu tidak dimatikan. Pengendara motor merogoh ransel yang tergantung di dadanya. Dia menggerakkan badan ke kanan. Sementara kaki menahan motor yang turut miring, jemarinya mengaitkan sepotong kertas merah di gerendel pintu pagar. Motor melaju ke rumah sebelah. Berhenti. Melau lagi. Berhenti. Laki-laki itu, mungkin, melakukan hal yang sama.

Hampir setiap hari ada kertas reklame di pintu pagar. Mulai dari pemberitahuan diskon toko swalayann, penjualan apartemen atau mobil, reparasi alat rumah tangga, pengobatan alternatif, sedot WC, tawaran pinjaman dana dengan jaminan BPKB, sampai jasa memperbesar payudara. Mengesalkan. Sering kali para penyebar kertas reklame itu hanya mengaitkan sembarangan atau menyelipkannya di antara jeruji pintu pagar. Dan tidak sampai satu tolehan kepala, kertas itu melayang. Jatuh ke jalan, solokan, atau, dan ini lebih sering, mengotori halaman rumah.

Sekarang saya menunggu pengendara motor itu. Kenapa?

Begini seritanya.

Seperti saya katakan tadi, minggu lalu di waktu yang hampir sama seperti sekarang inilah dia datang. Sama seperti hari ini, langit juga berwarna debu. Saya yakin segera hujan.

Saya sedang memindahkan jemuran di halaman samping bersamaan suara knalpot aneh itu menuju rumah sebelah. Saya mengambil jemmuran handuk yang tersampir di pagar depan. Saya berlomba dengan angin menarik kertas reklame merah itu. Saya bergegas masuk rumah. Mata saya iseng memindai isi kertas itu.

Tidak seperti kertas reklame lain. Kertas itu tidak menarik. Ya, kecuali warnanya yang mencolok. Lembaran kertas berukuran A4 dibagi 4 dengan deretan kata memenuhi seluruh bagian kertas. Jenis hurufnya mengingatkan saya ke surat undangan RW atau skripsi. Times New Roman. Oya sebenarnya ada yang menarik perhatian saya dibandingkan kalimat-kalimmat  yang sudah berkurang ketajamannya karena terlalu serinng disalin itu. Di pojok kiri bawah ada tokoh kartun kesukaan saya, Lucky Luke. Tergambar bibir laki-laki semekar kecubung itu menjepit cerutu. Tangan kanannya memasukkan pistol ke dalam sarung. Di gambar bayangannya terlihat Luke masih memegang pistol yang moncongnya berasap. Penembak yang lebih cepat dari bayangannya sendiri. Kertas merah itu ditutup deretan huruf kapital, Pencari Orang Hilang.

Hujan memang tidak deras, tapi tanpa henti dari sore hingga dini hari. Terus menerus serupa ketekunan tikus menggerogoti kaki lemari. Saya tidur lekas. Keesokannya bangun mendahului embun. Suami saya tidak ada di sebelah kanan saya, posisi yang dengan kesepakatan tidak terkatakan sebagai wilayah tidurnya. Satu selimut terlipat rapi di ujung dipan. Memang begitu kebiasaannya. Selalu bangun mendahului saya. Tidak ada kejadian penting di hari itu yang layak saya ceritakan. beberapa hari setelahnya juga begitu.

Baiklah. Saya coba mengingat detail dua hari ke belakang sebelum saya berdiri di depan jendela hari ini.

Saat bangun kemarin lusa suami saya tidak ada di sebelah kanan dipan. Biasanya sehabis bangun dan melipat selimut dia mengambil koran di depan pintu. Membuat kopi. Naik ke ruang atas yang kami fungsikan sebagai perpustakaan. Turun untuk makan atau ke kamar mandi. Dia turun lagi menjelang tidur. Namun sering juga dia sama sekali tidak ke ruang atas. Seharian membaca di kamar belakang diselingi menonton pertandingan bola.

Selepas melipat selimut saya berlaku biasa. Mematikan lampu-lampu. Membuka tirai jendela. Minum segelas air. Menyalakan laptop. Sembari menunggu benda biru itu bekerja, saya menyalakan mesin air. Memasak air. Menghabiskan beberapa potong roti sebelum duduk berhadapan dengan laptop tua itu.

Saya tidak ingat persis. Suami sayakah yang mematikan mesin air, dan kalau begitu, tentu dia juga yang memasukkan air ke termos. Atau saya yang mematikan mesin air dan memasukkan air ke termos.

Hari itu saya masih berusaha menulis ulang bagian akhir cerita pendek saya. Ini bagian tidak mengenakkan. Tokoh-tokoh yang saya ciptakan berlaku semaunya.

Tidak saja alur jadi berantakan, bahkan mereka berganti karakter. Rancanagn awal saya berubah sama sekali. Sudah beberapa kali layar laptop mati karena sepuluh jari saya serasa dilem di atas keyboard. Bergeming- Kelebatan-kelebatan di kepala mulai tertata ketika terdengar suara-suara dari dapur.

Ah...

"Hik,,," Saya memanggil suami saya sambil berusaha menangkap seliweran di kepala.

Suara dari dalam ruangan mereda. Lampu warna-warni yang membias ke lantai mulai sepenuhnya terang. Saya melihat Nia melongok ke luar ruangan. Bibir merah bata perempuan bertubuh semampai itu bergerak-gerak. Tangannya melambai-lambai memanggil. Saya meng-iya-kan dengan anggukan sembari menunjuk gelas di meja kecil di kiri saya.

Suami saya mungkin menimpali bersamaan saya menuliskan satu alinea akhir itu. 

"Nasinya ada kan, Hik?"

Terdengar suara tidak jelas. Mungkin jawaban atau suara minyak panas menggoreng tempe atau ajakan makan bersama. Saya tidak mengindahkannya. Saya harus membaca ulang cerita pendek itu dari kalimat pertama.

Tidak seberapa lama saya dengar lagi suara-suara yang sepertinya juga tidak minta direspons. Itu biasa. Suami saya biasa bergumam kalau sedang menulis. Di mana saja. Di kamar mandi selagi buang air besar. Di jalan. Selagi menonton televisi. Bahkan dia sering membawa tulisannya dalam tidur. Mengigau. Seingat saya, dia baru saja menyelesaikan beberapa aesai tentang fundamentalisme disusul menyelesaikan kumpulan puisinya.

"Hik..."

Tidak ada sahutan.

Menjelang sore saya matikan laptop terus ke dapur. Pintu samping tidak terkunci. Mungkin suami saya pergi dan sempat berpamitan, hanya saya tidak mendengar. Suami saya mungkin sedang membeli rokok atau nongkrong di warung kopi. Atau bisa saja dia jalan-jalan keliling kompleks perumahan memupus jenuh. Itu biasa. Dia akan pulang tidak lama lagi atau setelah beberapa jam atau tengah malam.

Saya membuka tempat nasi. Butiran-butiran putih wangi pandan itu masih utuh. Di tempat cucian tidak ada piring bekas makan. Suami saya sering tidak mencuci piring bekas makannya. Jadi sangat mungkin dia pergi sebelum makan siang.

Saya tertidur sehabis menandaskan nasi goreng yang saya buat asal-asalan dan terjaga oleh dengung nyamuk. Suami saya mungkin sudah kembali ke ruang atas untuk meneruskan menulis atau membaca. Saya memanggilnya tetapi tidak ada sahutan. Kemungkinan dia tertidur.

Apakah setelah menutup tirai jendela dan menyalakan lampu saya sempat makan malam atau langsung membaca Conditional Love? Entahlah. Juga entah di halaman ke berapa saya tertidur lagi.

Kemarin saya bangun tanpa ingatan mimpi malamnya. Saya tidak menemukan suami saya di sebelah kanan dipan. Selimut terlipat rapi di ujung dipan. Saya duga, dia kebablasan tidur di perpustakaan. 

Cerita pendek yang sementara saya beri judul "Reuni" nyaris selesai. Itu berarti bangunan keseluruhan cerita sudah utuh dan logis. Alur cerita serta penokohan tidak akan berubah lagi. Saya tinggal menyunting untuk memeriksa logika kalimat, memangkas kalimat-kalimat yang tidak efektif, atau mengganti kata tertentu yang lebih pas. Untuk memastikannya saya butuh komentar suami saya.

Sambil meracik dua gelas kopi saya memanggil suami saya. Telinga saya tidak hanya mendengar denting sendok mengaduk isi gelas dan suara-suara tokoh berkelintaran di kepala, tetapi juga sahutan dengan suara yang tidak terlalu jelas. Saya kira dia sedang tidak mau diganggu.

Dua gelas kopi saya letakkan di atas meja makan. Tidak ada gelagat suami saya akan turun. Baiklah. Waktu dia turun makan siang saya akan memintanya membaca. Saya lantas merendam pakaian kotor yang satu minggu teronggok di kamar mandi belakang. Di antara bunyi kocoran keran dan mesin air sepertinya saya emndengar pintu samping dibuka.

"Hik, mau ke warung? Saya titip pengharum baju ya."

Saya selesai mencuci baju san membuat tumisan kangkung. Suami saya belum juga pulang. Seharusnya dia bilang kalau tidak akan ke warung dekat rumah. Akhirnya pakaian saya jemur tanpa pewangi.

Seharian kemarin, dalam arti dari pagi sampai menjelang malam, saya membersihkan  rumah diselingi membaca ulang The Geography of Bliss dan menghabiskan dua gelas kopi. Saya melap rak buku di ruang tengah. Mmebuang sampah yang sudah membusuk. Menyapu dan mengepel. Mengangkat jemuran. Menyeterika.

Azan malam sudah terdengar dari pengeras suara masjid tapi belum ada tanda suami saya pulang. Seingat saya, tepat jam delapan malam saya naik ke perpustakaan. Saya khawatir saya tidak mendengar kedatangan suami saya karena tengah di kamar mandi atau tadi tertidur di ruang tengah.

"Hik..."

Tidak ada jawaban. 

Tangan saya menggenggam pegangan tangga paling atas. Tercium aroma kertas. Tua dan apak. Bau lembab dan bacin. Tidak sepenuhnya gelap. Cahaya lampu jalanan merembes di sisi tirai. Dalam keremangan saya menyusuri ruangan. Memegangi pinggiran rak dekat tangga. Melewati susunan koran, rak majalah, kursi panjang. Saya menekan sakelar. Lampu berkedip-kedip sebelum menyala.

Tampak jaring laba-laba di sudut ruangan. Beberapa kecoak berlarian ke bawah rak buku. Telapak kaki terasa ditabiri debu. Di atas meja buku bertumpuk-tumpuk. Kertas-kertas tergeletak tidak beraturan. Asbak dipenuhi puntung dan abu rokok. Di dasar gelas kopi yang berkerak ada seekor cicak kering. 

Sudah berapa lama suami saya tidak ada?**


Mona Sylviana, tinggal di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Kumpulan cerita pendeknya, Wajah Terakhir (2011).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mona Sylviana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 11-12 Maret 2017



0 Response to "Menunggu"