Minta Hujan Uang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Minta Hujan Uang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:23 Rating: 4,5

Minta Hujan Uang

MUSIM hujan sudah tiba. Air yang turun dari langit, menerobos masuk ke sebuah rumah reyot lewat celah genteng yang retak. Lantai rumah Dasko yang terbuat dari tanah menjadi becek. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu hujan segera berhenti.

Termenung, Dasko melihat air hujan terus menetes dari atas rumah. Yang seakan tak mau berhenti seperti hujan di luar rumah yang makin deras, Dasko membayangkan seandainya itu hujan uang, mungkin ia sudah kaya raya. Tetesan hujan yang masuk ke rumah laksana berkah buatnya, bukan lagi bencana. Lantai rumahnya akan dipenuhi uang, tak lagi becek seperti saat ini.

Dasko benar-benar menikmati yang dibayangkan. Lantai rumah, Dasko melihatnya penuh uang yang menggunung. Ia membenamkan diri dalam tumpukan uang itu. lalu mengusap-usap sejumlah uang ke wajah dan badannya.

”Aku kaya... aku kaya... aku kaya!!“

Sampai terdengar sebuah suara keras dari belakangnya. ”Mas, kamu sudah tak waras ya? Masa tanah becek kamu lumurkan ke wajah dan badan.“

Dasko tersadar. Suara istrinya. Segera ia berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Tak memedulikan istri yang teus mengomel pentingnya mencari kerja. Dasko sudah tak bekerja lagi. Sempat bekerja sebagai buruh di pabrik rokok. Tapi karena produksi terus menurun ditambah masyarakat semakin percaya rokok penyebab kematian nomor satu di dunia, pabrik pun tutup. Para karyawan seperti Dasko diputus hubungan kerja tanpa pesangon layak. Kini Dasko hanya menjadi pengangguran di rumah. Sudah setahun. 

***
”JADI istrimu pikir kamu sudah gila, percaya adanya hujan uang?“ ucap Prado, temannya, setelah Dasko bercerita yang baru dialami di rumah beberapa jam lalu.

Dasko sengaja pergi dari rumah. tak pamit istri. Entah apa reaksi istri nanti, ia tak peduli.

”Menurutmu hujan uang itu ada atau tidak, ya?” tanya Dasko. 

Prado mengernyitkan dahi. ”Pernah ada tapi di negara mana, aku lupa.”

Dasko manggut-manggut mendengarnya.

”Bukan hanya hujan uang saja tapi hujan ikan, hujan darah, hujan es juga pernah terjadi,” lanjutnya.

”Jadi itu mungkin terjadi kan?” tanya Dasko.

”Mungkin saja. Masih ingat cerita Pak Ustaz soal orang yang dijatuhi buntelan pecahan kaca dari atas rumah dan ternyata ketika dibuka isinya berubah uang banyak?”

”Aku tak begitu ingat karena selalu tertidur di tengah Pak Ustaz bercerita.”

Prado tersenyum kecil.

”Bagaimana akhir ceritanya?“

”Intinya, buntelan itu semula isinya pecahan kaca tapi ketika dijatuhkan tiba-tiba isinya berubah emas lalu orang itu pun menjadi kaya.“

”Bisa dicoba nih.“

”Maksudmu apa?“

”Satu genteng rumahku akan aku singkirkan lalu aku tinggal berdoa semoga air hujan yang turun berubah jadi uang atau emas.“

”Jangan gila dong. Itu tidak mungkin.“

”Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.“

Prado geleng-geleng kepala mendengar jawaban ngawur Dasko.

Dasko lalu pamit pulang. Ia ingin segera mencba cara itu. Cara menurut Prado dan banyak orang tak masuk akal. Tapi Dasko tak peduli, yang penting ia bakal punya banyak uang nanti.

***
”DARIMANA, Mas? Kok baru pulang,” tanya sang istri kesal ketika Dasko sampai rumah larut malam.

”Dari rumah teman,” jawab Dasko ketus sambil berlalu dari hadapannya. Menuju belakang rumah, mengambil tangga. Sang istri mengikuti.

”Mau perbaiki atap yang bocor ya, Mas?“

”Enggak! Mau copoti genteng.“

”Buat apa?“

”Biar dapat banyak uang.“

”Bagaimana caranya, Mas?“

”Kamu tak perlu tahu.“

Wajah sang istri langsung cemberut. Lalu berbalik badan, masuk rumah.

Dasko segera menaiki tangag yang sudah dipasangnya. Diambilnya beberapa genteng di atas ruang tengah kemudian membuangnya ke bawah. Lalu kembali turun.

”Sekarang tinggal menunggu datangnya hujan,“ kata Dasko sambil berjalan masuk rumah. Dilihatnya sang istri menenteng tas besar.

”Kamu mau ke mana?“

”Mau pulang ke rumah orangtuaku.“

”Lho kenapa ta?“

”Aku sudah tak tahan dnegan segala ketidakwarasanmu, Mas. Kalau mau dapat uang, kamu cari kerja dong! Bukan malah percaya sama hal irasional begini.“

”Kalau itu sudah maumu, aku tak akan menghalangimu.“

Dasko melepas istrinya pergi dari rumah, kembali ke rumah orangtuanya. Demi mendapat uang banyak, apa pun akan ia korbankan.

Hingga dini hari, Dasko tak tidur. ia terus berdiam diri, duduk bersimpuh di bawah genteng yan tadi sengaja dibuka. Suara gemuruh di langit tak membuatny atakut. Ia malah senang karena artinya hujan akan turun.

”Ya Tuhan, cepat turunkanlah hujan.“ Doa Dasko sambil menengadahkan kedua tangan ke atas.

Tapi entah kenapa Tuhan tak juga menurunkan hujan. Padahal sudah seharian. Dasko terus berdiam, mulutnya komat-kamit. Ia ingin Tuhan segera menurunkan hujan. 

Mungkin Tuhan kasihan kepada Dasko atau benar-benar mendengar doanya, hujan pun turun. Deras mengucur masuk ke dalam rumah lewat genteng yang terbuka. Membasahi baju dan badannya. Membuat Dasko menggigil kedinginan.

”Terima kasih, Tuhan. Hujan sudah diturunkan.“ Dasko berterima kasih dengan terbata-bata. 

”Tuhan, segera ubahlah hujan ini jadi hujan uang,“ lanjut Dasko terbata-bata.

Bahkan ada beberapa kalimat yang tak jelas ia ucapkan. Karena rasa dingin sudah merasuk hingga ke sumsum tulang.

Tanpa banyak waktu, Tuhan langsung menjawab doa Dasko dengan mengirimkan seberkas sinar kilat terang. Mengenai tubunya. Terasa sangat hangat, melenyapkan semua rasa dingin yang tadi menyelimuti. Dirasakan tubuhnya terasa seperti melayang. Tinggi ke angkasa.

Dari atas, Dasko melihat seorang laki-laki tua duduk di emperan teras warung gudeg yang tutup. Pakaiannya kumal. Di sampingnya, ada karung besar berisi tumpukkan barang-barang bekas. Tampak laki-laki tua itu tersenyum bahagia.

”Terima kasih, Tuhan atas rezeki hari ini.“

Dasko kaget bisa mendengar kata hati laki-laki tua itu. Tiba-tiba tebersit penyesalan di hatinya.

”Seandainya aku bisa lebih bersyukur seperti dia, mungkin ini tak akan terjadi kepadaku.”

Dasko tahu tak ada yang bisa melawan takdir Tuhan.

Sekarang Dasko sudah merasa sangat damai di atas sana. Ia tak perlu bingung lagi memikirkan bagaimana cara mendapat uang banyak. • (k)

Yogyakarta, 29 Januari 2017

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Februari 2017

0 Response to "Minta Hujan Uang "