Narmi dan Sepasang Perkutut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Narmi dan Sepasang Perkutut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:16 Rating: 4,5

Narmi dan Sepasang Perkutut

SEJAK Hafis suaminya meninggal karena kecelakaan Narmi menyibukkan diri dengan pekerjaannya mengajar dan sebagai penari di hotel-hotel untuk menghibur para turis. Sedang Hafis bekerja sebagai pemandu wisata di sebuah biro perjalanan. Mereka pasangan harmonis. Para tetangga hampir tidak pernah melihat ada masalah dalam rumah tangga mereka. Narmi cantik, luwes, ramah dengan potongan tubuh seorang penari yang indah. Hafis tinggi semampai, ganteng dan simpatik. Ketika Hafis meninggal karena kecelakaan ketika menghantar turis dari Belanda yang ingin bernostalgia ke kota Malang Narmi benar-benar terpukul. Sebab cintanya kepada Hafis adalah cinta yang penuh. Baginya tiada yang bisa menggantikan Hafis. Baru tiga bulan menjanda sudah banyak lelaki yang ingin mempersembahkan cinta kepada Narmi. Namun perempuan itu selalu berkata tidak. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan ia sanggup berkata tidak. Begitu banyak lakilaki yang datang, sebegitu banyak pula Narmi mengatakan tidak. Padahal laki-laki yang berdatangan itu semuanya sudah mapan. 

Kalau ada yang tanya mengapa ia tidak ingin memilih pengganti Hafis dari banyak laki-laki itu. Narmi hanya mengatakan : “Mas Hafis memang sudah dikuburkan tapi aku tidak akan pernah menguburkan cintaku kepadanya. Biarlah aku bahagia hidup dengan kenangan yang indah.” Teman-temannya sesama penari dan sesama guru di sekolah tari banyak yang menyarankan agar ia melupakan kesedihannya. 

“Siapa bilang aku sedih? Aku ini bahagia.” 

“Meskipun hanya dengan kenangan?” 

“Ya meskipun hanya dengan kenangan.” 

“Kamu aneh Narmi.” 

“Tidak ada yang aneh. Wong mencintai suami dengan sungguh-sungguh kok aneh.” 

“Tapi kan Hafis sudah meninggal?” 

“Yang meninggal itu kan jasadnya. Aku tidak mencintai jasadnya tapi jiwanya. Jiwa Mas Hafis masih hidup selama aku masih hidup. Jiwa Mas Hafis akan mati dalam hatiku kalau aku sudah mati.” 

Dan temannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. 

Pagi itu Narmi tidak mengajar karena libur tanggal merah. Tadi setelah salat tahajud Narmi membaca Al-Quran, untuk menunggu waktu subuh. Setelah salat Subuh ia membaca Al-Quran lagi sambil menunggu matahari terbit. Ketika ia melihat cahaya matahari masuk lubang angin-angin, Narmi sadar bahwa hari sudah benar-benar pagi. Ia tutup kitab suci yang dibacanya dan meletakkan kitab itu di rak buku paling atas. Narmi membuka jendela. Di bawah jendela ada taman kecil yang selalu ia rawat dengan telaten. Dan ia senang sekali kalau Hafis selalu memuji ketlatenannya dalam merawat bunga-bunga di taman kecil itu. Dan pagi itu beberapa kuncup mawar mulai mekar. Perempuan itu tersenyum. Narmi ingat ketika ia menari di sebuah hotel untuk menghibur turis dari Prancis yang ingin menyaksikan tari Jawa. Dan turis-turis itu yang dipandu Hafis untuk keliling Jawa. Dan saat itulah perkenalan pertamanya dengan Hafis. Lelaki itu menyodorkan sekuntum mawar merah muda kepadanya. 

“Kamu menari dengan baik sekali. Turis-turisku tersihir tarian kamu. Terima kasih.” 

“Yah, terima kasih pula atas pujiannya. Aku harus menari dengan baik, karena aku hanya bisa menjual tari. Bukankah kita harus profesional?” 

“Kamu benar dan aku mulai tertarik kepadamu.” 

Saat itu juga wajahnya memerah. Ada rasa senang, malu, bangga menjadi satu. Beberapa bulan kemudian Hafis datang bersama keluarganya menemui orang tuanya. Mereka berpacaran hanya 3 bulan. Tapi bagi Narmi ia mengalami pacaran yang sangat berkualitas. Pacaran dua anak manusia yang sangat indah. 

Narmi tersentak dari lamunan. Ia mendongak ke atas. Di pelepah pohon kelapa ada sepasang burung perkutut. Di mata Narmi sepasang burung itu sedang memadu kasih. Sebab mereka saling mematuk dengan lembut sepertinya mereka sedang bercanda. Sesekali seekor mungkin yang jantan terbang berputar-putar di sekitar burung yang satunya, mungkin yang betina. Kadang keduanya terbang berputar-putar mengitari pohon kelapa lalu kembali ke pelepah yang tadi lalu saling menyentuhkan paruhnya. Kadang burung yang satu mengusap-usapkan paruhnya di bulu-bulu di leher burung yang lain, seperti sedang menggelitik. Tiba-tiba Narmi ingat Hafis yang sering menggodanya dengan menggelitiki pinggangnya. Sepasang burung itu selama ini belum pernah ia lihat. Atau sebenarnya sudah lama ada di pelepah kelapa itu setiap pagi tapi ia tidak pernah memperhatikannya.

Sejak itu sebelum berangkat kerja Narmi memperhatikan sepasang burung perkutut itu. Begitu bahagia rasanya karena sepertinya ia melihat dirinya bersama Hafis. Namun suatu pagi betapa terkejutnya Narmi ketika melihat hanya seekor perkutut seperti sedang termangu. Burung itu mungkin yang betina atau yang jantan tampak tertunduk bergoyang mengikuti gerak pelepah yang dihempas angin. Hari berikutnya dan hari berikutnya lagi Narmi melihat burung perkutut itu sendiri tanpa pasangannya. Lalu kemana seekor burung yang lain? Mungkinkah burung yang satunya pergi bersama jantan atau betina yang lain? Atau mungkinkah burung yang satu sudah dimangsa burung elang atau burung alap-alap? Atau burung yang satunya itu sudah mati karena sakit atau kedinginan?. Yang jelas sekarang setiap pagi Narmi hanya melihat seekor burung perkutut yang tercenung sendirian di pelepah kelapa yang digoyang-goyang angin.

Berhari-hari, setiap pagi Narmi menyaksikan seekor burung perkutut di pelepah kelapa diam termangu seperti sedang menunggu. Sampai pada suatu pagi, ia tidak melihat burung itu. Narmi mencoba mengamati pelepah di pohon kelapa yang lain. Tapi burung itu tidak ada. Tiba-tiba mata Narmi melihat sesuatu benda yang menarik perhatiannya di tanah dekat pohon kelapa. Narmi mendekati benda itu. Ternyata seekor burung perkutut yang sudah mati. Dengan cepat Narmi mengambil sapu tangan dari sakunya. Bangkai burung perkutut itu ia bungkus dengan rapi. Narmi mengambil cetok dari dapur untuk menggali tanah di bawah pohon kelapa itu. Narmi menarik napas lega. Ia tancapkan tangkai mawar di dekat tanah bergunduk kecil itu. Ia berharap tangkai mawar itu akan hidup dan berbunga suatu waktu. -k

Achmad Munif, mantan jurnalis, cerpenis, novelis. Novelnya yang sudah terbit “Perempuan Yogya”, “Merpati Biru”, “Sang Penindas,” “Lipstick”, “Kasidah Lereng Bukit”. “Kasidah Sunyi”, “Tikungan”, “Sang Primadona”, “Terbanglah Merpati”, “Bibir Merah”. Kumpulan cerpennya “Tanda-Tanda Kebesaran Allah”, “Perempuan di Bawah Gerimis” dan “Kehormatan Ibu” 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 5 Maret 2017


0 Response to "Narmi dan Sepasang Perkutut"