Nyanyian Hening | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Nyanyian Hening Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:54 Rating: 4,5

Nyanyian Hening

SELONGSONG sinar yang memantul dari bulan memasuki celah dinding bambu. Hening, gadis lima belas tahun itu, terduduk di salah satu sudutnya. Mukena masih dikenakan kala ia terisak. Beberapa permintaan terus diulangnya, dirapalnya, berharap mampu mengurai sesak.

Tangannya luwes menorah garis pada pola sidomukti yang tergambar di kain mori. Aroma malam menyeruak bersama asap tipis yang meninggalkan wajan kecil.

Hening terduduk. Pertanyaan dalam kalbunya timbul tenggelam. Apa diriya tidak cukup berani menghadapi kemiskinan yang membelit selama ini? Bukankah kemiskinan menjadi satu dari banyaknya alasan mengapa ia harus bersekolah setinggi mungkin? Hening menyusut bening dari matanya.

Dulu, orangtuanya sudah wanti-wanti agar tidak melanjutkan sekolah usai menamatkan madrasah tsanawiyah. Lebih baik ikut membantu Mbok Sumirah membatik. Bekerja di rumah tak perlu ongkos bensin. Kain batik yang pernah dihasilkan Hening juga tidak mengecewakan.

Atau kalau mau melanjutkan belajar, Hening bisa memilih di madrasah aliyah yang masih satu kecamatan, agar tidak terlalu jauh. Apa daya, Hening adalah Hening yang tak surut mengayunkan langkah. Jarak jauh telah rela ia tempuh. Dua puluh kilometer sekali pergi saban pagi.

Kenangan setengah tahun lalu itu seakan terulang kembali dalam kecamuk pikiran Hening. Kala itu,  Hening benar-benar mendaftarkan diri bersekolah di madrasah aliyah tengah kota. Madrasah yang kadung dilabeli sebagai madrasahnya siswa berprestasi. Bermodalkan pernah juara lomba karya ilmiah tingkah provinsi, Hening percaya diri.

***
HARI-HARI Hening setelah tercatat sebagai sisa aliyah, berpacu dengan mentari yang merekah. Saban pukul lima pagi, Hening mulai mengayuh sepeda. Ditemani embun dank abut tebal membuntal tekad. Satu setengah jam perjalanan menuju madrasah. 

Semula yang Hening upayakan berjalan lancar. Satu dua teman memang mencecar perihal jarak rumah dan sepedanya. Pada muaranya, Hening dicap sebagai siswa dari keluarga miskin. 

Bagaimana tidak, tanpa datang ke rumah atau bertanya langsung, orang sudah dapat mengira. Di kota, sepeda Hening kentara sekali menyusup di antara motor-motor pabrikan tahun terbaru. Sepeda model lama dengan ikatan tali rafia merah di beberapa tempat. Belum lagi jika orang melongok isi tas Hening, maka selain buku-buku juga akan didapati sebotol air putih ditemani beberapa kantong plastik besar. Kantong plastik tersebut akan keluar jika hari hujan. Ia dengan setia membungkus sepatu Hening juga mengantongi buku-buku di dalam tas ransel Hening.

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa perjalanan hidup Hening sungguh mengenaskan. Adapun Hening, ia benci akan hal itu. Hening selalu berkata kepada dirinya bahwa ia bahagia. Hening bersyukur masih bisa sekolah kendati dengan keterbatasan.

”Kau tidak hanya tangguh, Hening. Kau sungguh gadis pintar,“ lontar Arya suatu kali.

Gerimis turun dan Hening tetap terdiam di atas sepedanya. Dalam kecepatan rendah, sepeda motor Arya menemani Hening menyusuri hamparan aspal basah. 

Siapa yang tidak mengenal Arya. Semasa di tsanawiyah ia bintang. Bintang bagi semua, baik guru maupun siswa. Sedangkan Hening merupakan rival Arya dalam capaian prestasi akademik. Kini, berbeda sekolah justru membuat kalbu selaksa langit dan lau dalam biru yang sama. Dekat namun tak lekat. Ada sekat panjang mencipta jarak di antara keduanya.

Hening merasakan itu. Batinnya sulit sekali menolak kehadiran Arya. Selalu ada hal yang mengaitkannya dengan Arya. Hening berusaha menahannya. Ia tidak ingin menggores luka. Bagaimana pun bayangan cita-cita, simbok, bapak, juga kakaknya terus mengikutinya pikirannya yang kadang iseng menyebut Arya. 

Hingga pada suatu senja yang temaram, Hening begitu muram. Selembar surat telah ia berikan kepada Arya. Jawaban atas tawaran Arya untuk selalu bersama. Kini hingga nanti.

Hening telah mematahkan sendiri kuncup cinta dalam sanubarinya. Mungkin belum saatnya, mungkin juga memang tak layak berkembang. Banyak kemungkinan menyembul begitu saja. Satu yang pasti, Hening merasa ada yang menusuk dalam dadanya. Berasa darah menetes-netes dan ribuan jarum menancap. Sempurna perih.

Hening tak menghiraukan manakala sebuah sepeda motor menyerempetnya senja itu. Setang sepeda oleng, membuat tubuhnya melayang, mendarat pada kerasnya aspal jalan.

Sang pengendara motor melaju kencang. Hening hanya mampu memandang. Beruntung sebuah mobil bak terbuka berbaik hati mengantarkan Hening pulang. Tubuh Hening lecet-lecet. Sepeda hening ringsek. Roda depan menjelma angka delapan.

***
PAGI itu seperti pagi-pagi kemarin. Tanpa kegiatan sekolah, Hening membantu simbok membuat pola batik pada kain mori. Cekatan tangan Hening membuat peta lengkung dan garis dalam kain putih itu. sesekali gundah ia pelihara tatkala mengingat dua minggu lagi ia akan mewakili madrasahnya untuk lomba karya ilmiah. Kadang pula ia ketar-ketir membayangkan andai ia tidak dapat sekolah kembali. Belum lagi nama Arya yang mendesak muncul dalam pikiran.

Pasrah. Demikian Hening menenangkan diri. Kepasrahan itu kian kentara seiring sebuah mobil berhenti di depan rumah. Hening terperangah. Simbok melongok heran.

Dari dalam mobil Hening menyaksikan wajah-wajah gurunya. Pak Sumantri, kepala madrasah, Ibu Hera, wali kelasnya, Ibu Nur, guru pembimbing ekstrakulikuler, juga Tiwi dan Ratna, teman sekelasnya. Tidak hanya itu. sebuah sepeda masih tersegel plastik turut turun.

Dada Hening bergemuruh. Jauh di lubuk kalbu ada senandung yang diam-diam ia dendangkan. ”Jodoh, mati, rezeki, mempunyai jatahnya sendiri.” Kata-kata bapak terngiang kembali. Dan Hening menunggu. 

Siska Yuniati,  Priyan RT 07 Trirenggo Bantul 55714

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Siska Yuniati 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Maret 2017

0 Response to "Nyanyian Hening "