Perayaan Puisi di Tubuhmu - Pendosa - Mei Hua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Perayaan Puisi di Tubuhmu - Pendosa - Mei Hua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:42 Rating: 4,5

Perayaan Puisi di Tubuhmu - Pendosa - Mei Hua

Perayaan Puisi di Tubuhmu 

Cinta sungguh bisa menjadi
keterasingan yang
Paling keji. Ketika puisi tak lagi
Dirayakan serupa pesta kembang api
Meriah, bersama pekik-pekik janji
Yang prematur. Di tubuhmu.
Di tubuhmu meski belum terkubur
: Aksara-aksara itu telah gugur;
Aku telah gugur
Aku telah gugur.
2016 

Pendosa 

dari bibir suami istri
yang bermusuhan,
ia hanya mendambakan teka-teki purba yang
paling ditunda dan disembunyikan
oleh
racun kehidupan.

dari dalam lukisan
yang ketujuh,
ia muncul sebagai seorang penyair melankolis
menulis dan
menulis. kemudian menangisi
sebuah pelukan haru dan merayakan
penjemputan
yang keliru.

tanganku takkan pernah bisa sampai
kepada mantilla?
di sini: sungguh segala napas adalah taat
yang tiada berbatas. aku melihat malaikat,
aku melihat malaikat!
masih adakah sisa waktu dan
ruang untukku,
Bapa...?

Gereja Hati Kudus Kramat, 2015-2016 

* Mantilla: Kerudung Misa; Kerudung Mempelai Kristus

Mei Hua 

Manja
Aku terlambat mekar
Dalam sajak seorang penyair perempuan
Penyair perempuan pencinta warna merah
Muda. Penyair perempuan yang gagal
meminjam kecantikan dan
Keberanian Hua Mulan?
Kapan terakhir kali kalian
dampingi Hua Mulan
Penuh kesetiaan
Lengkap dalam sebuah penyamaran
Kisah perjuangan
Dalam sekumpulan tulisan

Mulan telah menjadi tubuh
Kayu, meninggalkan Hua Hu
 Berjaga-jaga di depan sebuah
Gedung kesenian.
Dibungkus seterusnya oleh kabut dingin
Bersama seekor macan sakti berbulu api
  Sun Go Kong, dan prajurit kera
Kiriman kayangan
Aku tertusuk rindu,
mencari-cari ajaran Sang Guru
Di atas tanah basah ini. Untuk itu aku
bersumpah hendak mencapai
Dagu harum Hua Mulan.
Yang menyimpan gunung biru
Mabuk anggur para ratu
Dan perbukitan Seruni
Yang berbatu

hotel-perbukitan seruni-bogor, 2016 


* Hua Mulan: pejuang wanita legendaris yang menjadi panutan heroik bagi para pahlawanpahlawan bangsa Han pada zaman-zaman berikutnya.






Faustina Bernadette Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Menulis puisi, Freelance Graphic Design, dan menekuni kuliner khas Indonesia. Sajaknya termaktub dalam beberapa antologi bersama, yakni: Kutukan Negeri Rantau (2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (2012), Kursi tanpa Takhta (2012), Berbagi Kasih (2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faustina Bernadette Hanna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 26 Maret 2017